Sebuah Perpustakaan di India Mendorong Siapapun ‘Mencuri’ Buku-buku Mereka

Srijana Subba, seorang guru yang juga pendiri Book Thief Open Library, ingin meningkatkan kebiasaan membaca anak muda di kaki gunung Himalaya untuk mencegah kecenderungan buruk.

|
Des 12 2018, 7:58pagi

anak-anak membaca buku di perpustakaan terbuka

Arpita yang masih tiga tahun itu ditemani oleh tetangganya memasuki sebuah garasi di Nagari Farm Tea Estate di Darjeeling, Bengal barat. Dia datang ke sana bukan untuk mencari peralatan bengkel mobil, tetapi untuk baca buku. Sebuah ensiklopedia besar di atas meja menarik perhatiannya. Arpita segera menghampiri dan berusaha mengangkat hardcover yang berat. Setelah berhasil dibuka, dia langsung membolak-balikkan setiap halaman ensiklopedia tersebut. Srijana Subba, pemilik garasi yang bekerja sebagai guru SMP Pokhriabong Girls di Darjeeling, tersenyum puas melihat antusiasme Arpita. “Rasanya seperti memenangkan penghargaan,” katanya.

Tempat ini bukan garasi biasa, melainkan perpustakaan kecil bernama Book Thief Open Library. Ada keunikan tersendiri pada perpustakaan yang letaknya sekitar 36 km dari Darjeeling. Berbeda dari perpustakaan kebanyakan, taman baca ini tidak memiliki pustakawan yang galak. Pengunjung bebas berbicara tanpa perlu takut dimarahi. Subba pertama kali membuka Book Thief Open Library pada 2016. Namanya sendiri terinspirasi dari novel The Book Thief karya penulis Australia Markus Zusak. “Tokoh utamanya adalah gadis yatim piatu yang sedang memasuki fase remaja. Dia sangat menyukai kata-kata,” tutur Subba. “Dia akhirnya mencuri buku dari api unggun dan rumah mewah. Saya terpikat dengan cerita menyentuh yang berlatar belakang Perang Dunia II di Jerman ini. Saya jadi membayangkan dunia akan lebih indah apabila anak muda mencuri buku daripada menjadi ‘anti-sosial.’”

1544425917576-PHOTO-2018-11-15-10-42-34
Perpustakaan umum The Book Thief dibikin dari material buangan yang didaur ulang

Subba sudah bermimpi membuka perpustakaan sejak kecil. Dia ingin meningkatkan minat baca orang, terutama generasi muda. Selama 10 tahun terakhir, penyalahgunaan obat-obatan terlarang menjadi masalah besar. Anak-anak menjadi golongan yang paling rentan karena rasa ingin tahu yang tinggi dan tekanan dari teman sebaya. Garasi rumahnya memberi kesempatan bagi Subba untuk mewujudkan impiannya.

Nagari Farm Tea Estate terdiri dari 20 dusun, dan masing-masing permukimannya dihuni sekitar 40 keluarga. Menurut Subba, tak ada perpustakaan yang layak sama sekali di sana. Berdasarkan laporan lokal, upaya pembangunan perpustakaan sebenarnya sudah dilakukan tiga kali. Devkota Gramin Pushtakalaya sempat dibuka pada 1970, Gorkha Fort Gramin Pustakalaya pada 1988, dan Agam Singh Giri Pustakalaya pada 1996. Meskipun sudah memenuhi kriteria bantuan pemerintah, ketiga perpustakaan ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Penduduk setempat beranggapan kalau kegagalan ini disebabkan oleh tidak adanya pustakawan dan adanya politik internal di antara para anggota.

Interior Book Thief Open Library didominasi warna pink dan hijau. Jip carrier dan kerangka sepeda usang dimodifikasi sebagai rak majalah dan tempat koran. Tempat duduknya terbuat dari ban bekas yang sudah dicat warna-warni dan papan bambu. Kulkasnya yang tak lagi berfungsi sudah berubah menjadi lemari buku. “Perpustakaan ini terbuat dari barang-barang bekas,” kata Subba, yang menulis kumpulan puisi Fragments pada 2011.

1544426175891-WhatsApp-Image-2018-08-17-at-1330302
Srijana Subba di rumahnya di kebun teh Nagari.

Koleksi buku di perpustakaan ini sudah melebihi 500 buah. Buku-bukunya merupakan milik pribadi dan sumbangan dari simpatisan dan teman-teman Subba. Koleksinya amat beragam — mulai dari buku akademik, pengetahuan umum, agama, fiksi hingga nonfiksi — dan tersedia dalam bahasa Inggris dan Nepal. Buku anak-anak, seperti koleksi Aesop’s Fables dan cerita dongeng bergambar, juga tersedia di sana. “Anak-anak yang bersekolah di dekat sini sering datang berkunjung pas pulang sekolah,” katanya.

Saya sempat bertemu dengan Nityam Sharma di perpustakaan tersebut. Bocah 13 tahun ini adalah pengunjung setia Book Thief Open Library sejak setahun lalu. “Perpustakaan ini bagaikan surga,” katanya. “Koleksi bukunya sangat bagus dan memperluas wawasan kami,” kata murid kelas 7 yang ingin menjadi ilmuwan itu.

Pengunjungnya bukan hanya anak muda saja. Orang dewasa dan lansia juga sering datang untuk membaca buku berbahasa Inggris dan Nepal. Banyak penulis Nepal yang berkunjung ke taman baca Subba untuk memberikan salinan buku mereka. Subba menceritakan kalau penulis Manipuri Rahul Rai, yang koleksi puisinya Kalo Akshar (Black Letter) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Hindi (Kala Akshar), belum lama ini main ke perpustakaannya. Arjun Pradhan, penulis yang tinggal di Darjeeling, juga pernah mampir.

“Bengal utara hampir tidak punya perpustakaan umum,” kata Sumana Roy, penulis berbasis di Siliguri yang menerbitkan Missing dan How I Became a Tree. “Budaya membaca akan membuka imajinasi dan peluang bagi anak-anak di dusun-dusun kecil yang tidak memperoleh akses pendidikan dan tumbuh di kota-kota besar,” kata penulis Mala Kumar dari Bengaluru. “Perpustakaan sangat bagus untuk masyarakat, meskipun cuma kecil-kecilan. Buku mampu membuka pikiran pembaca dan memperkenalkan mereka pada dunia baru. Membaca dapat memperkuat ide, dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” imbuhnya.

“Setiap pulang kerja, saya merasa bahagia jika melihat anak-anak kutu buku sedang membaca di ruang terbuka. Siapa tahu perpustakaan bisa membuat generasi muda ini menjadi penerus Pablo Neruda atau Anne Frank,” tutup Subba.

More VICE
Vice Channels