esai

IDM Adalah Musik Romantik Abad 21

Adakah kesamaan Aphex Twin dan Brahms? Apa reaksi kalian jika kami bilang Beethoven—ikon gerakan seni romantisisme—memakai teknik melodi ekspositori serupa Autechre?

oleh Giovanni Coppola; Diterjemahkan oleh Cristina Politano
12 Juni 2017, 5:09am

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey Italia.

Istilah "intelligent dance music," atau "IDM," muncul partama kali pada tahun 1993 di milis online Hyperreal. Istilah ini diciptakan oleh penikmat gelombang baru musik elektronik yang merombak total aturan main dalam genre tersebut. Episentrum artistik IDM di Inggris karena artis-artis pengusung genre baru ini mayoritas berasal dari Warp Records yang bermarkas Sheffield. Uniknya, label musik ini tak menyadari bahwa roster-rosternya tengah mendobrak kekakuan musik elektronik saat itu. Ada semacam kesepakatan, bahwa IDM lahir bersama kemunculan Artificial Intelligence, sebuah album kompilasi legendaris dengan gambar sampul ikonik: sebuah robot yang tengah bersantai di sebuah kursi mendengarkan plat Pink Floyd dan Kraftwerk. Bersama dirilisnya kompilasinya ini, frase "electronic listening music" mulai dikenal dan memancing rasa penasaran para penggerak dan penikmat dance music.

Lalu, kenapa juga harus ada embel-embel "intelligent"? Sejak awal kemunculannya terminologi IDM sendiri sudah memancing debat panas di kancah dance music yang berlangsung smapai sekarang. Yang jelas, pencatutan kata "Intelligent" adalah upaya untuk memberikan kerangka bagi sebuah subgenre dance music yang sangat luas dan beragama—sebuah subgenre yang lengket sekali teknologi dandidedikasikan sepenuhnya untuk musik komputer, sekaligus sebuah subgenre yang sangat filosofis dan begitu jauh—setidaknya secara fenomenologis—dari akar dance musc itu sendiri. IDM kelak dimaknai sebagai sempalan dari dance music sampai-sampai salah satu cabangnya akan melahirkan sebuah generasi musisi tersendiri seperti Aphex Twin, Autechre, Boards of Canada, Squarepusher, dan The Orb, yang membuka jalan bagi musisi pop pemuja musik elektronik macam Radiohead, Björk, and Moby).

"Bisakah orang bodoh menikmati IDM?" adalah salah satu topik pertama yang ramai diperbincangkan dalam milis IDM Hyperral—semacam reddit pada masanya—di tahun 1993. Tak lama setelah album kompilasi Artificial Intelligence dirilis. Aphex Twins menelurkan Selected Ambient Works 85-92. Kancah musik di klub-klub di seluruh dunia lantas terpecah dua; ada yang penasaran ingin mencicipi eksperimen keren atas breakbeat, ambient, dan techno. Namun, ada juga yang cuma datang ke klub untuk joget-joget asik diiringi beat-beat rave. Bagi kelompok yang satu ini, klub itu untuk senang-senang semata bukan untuk menyelami makna filosofis nomor-nomor IDM.

Di saat yang sama, techno memasuki masa difusi totalnya. Subgenre musik elektronik baru saja menciptakan demam di penikmat musik awal. Sementara saudaranya, rave tengah naik perlahan dan mulai mewujud menjadi budaya tersendiri—gampang, sudah mulai popular sampai-sampai para pelakunya mulai malas melakukan eksperimentasi dan memilih mempertahankan audiens yang ada.

Kompleksitas komposisi IDM berutang banyak pada sisi-sisi "cerdas" dari techno. Tapi yang benar-benar membuat genre ini keren adalah IDM berhasil menyatukan bagian-bagian lagu yang digubah untuk didengaran dengan serius dan bagian-bagian lagu yang bisa didengarkan ketika ajojing di klub selewat tengah mana. DNA IDM sebenarnya kentara diturunkan dari dance music, tapi metodenyalah yang bikin subgenre terengar berbeda. IDM menguatkan sekaligus mengkontraskan gejala-gejala historis yang muncul dalam sejarah beberapa abad sebelumnya.

Salah satu pengaruhnya jelas terlihat pada IDM adalah para musikus avant-garde—katakanlah komposer Amerika Serikat John Cage, musikus futuris Luigi Russolo dan komposer Jerman Karlheinz Stockhausen. Inilah alasan kenapa IDM kerap dianggap sebagai "techno yang artistik". IDM mengadopsi dan mengamalkan dengan baik dan benar konseptulisme dari tahun 1920an, 30an dan 40an. Menyitir komposer kenamaan asal Jerman Robert "Seperti musik ingin kembali ke titik awlanya ketika dia belum ditindas oleh ukuran-ukuran yang terlalu membatasi dan muncul dengan gagah berih dari kekangan."

Eits bentar deh. Schumann? Sejak kapan komposer asal Jerman ini ngurusin IDM?

Okay, kalem. Mari kita mundur agak jauh ke belakang.

Bayangkan kita hidup di tahun 1800an: di Eropa saat itu, sedang berlangsung debat seingat tentang bagaimana cara mendefinisikan musik absolut, sebuah terminologi yang lahir dari gerakan Romantik. Saat ini, jika kita menyebut musik absolut, maka orang—tentunya yang ngerti banget musik—langsung mengasosiasikannya dengan karya komposer Richard Wagner yang penuh dengan spiritualitas, simbolisme dan memiliki kemampuan memindahkan pendengarnya ke dunia yang benar-benar. Akar-akar musik absolut membentang dari karya komposer Italia Joseph Haydn hingga Wolfgang Amadeus Mozart, hingga Ludwig van Beethoven. Mendengarkan karya-karya mereka membuat kita gatel menguliti simbol di dalamnya—metapora dalam komposisi musik yang belum tersentuh komponen ketiga, seperti yang menjadi kebiasan di akhir abad 17.

Nah, mengenai hal ini, beberapa rekan sesama filsuf Arthur Schopenhauer menyakini bahwa musik adalah "seni yang membebaskan" dan bahwa musik bisa "membebaskan kita dari dunia-dunia penuh prinsip dan aturan—dari dunia penuh kecemasan praktis, filosofis, politis an eksistensial kita." Václav Tomášek, seorang komposer asal Ceko yang hidup pada zaman itu, dengan pede mengatakan bahwa seniman seperti Beethoven sudah mulai menumbuhkan gagasan bahwa keganjilan dan ketidaksetaraan adalah tujuan akhir dan ideologi yang menjadi mesin pendorong musik. Musik adalah bahasa luhung yang mendapatkan kekuatan dari ketidakpastiannya sendiri, Musik menggoyahkan audiensnya yang tak terbiasa mendengarkan dan memperhatian musik dengan kritis.

Bersama naiknya techno dan house musik satu dekade sejak kemunculan IDM di tahun1993, IDM seakan menarik garis mirip seperti yang dilakukan musik romantik Jerman saat merevolusi musik klasik. Selain sama-sama mendobrak pada masa kemunculannya, konsep "mendengarkan" yang ditawarkan oleh absolut juga juga ditemukan dalam komposisi IDM terutama pada dekade 90an.

Ambisi atau kreatifitas—atau ambisi untuk mencapai kreatifitas tertentu—yang terdapat dalam kedua genre ini menandakan bahwa keduanya berusaha mengembangkan semacam sinkretisme auditori yang mencoba mewujudkan masa depan dengan menggunakan ide lama yang tak sempat dituangkan di masa lali. Jadi, rasanya aman-aman saja lagi berdasar jika kita menyimpulkan bahwa Schumann dan Berlioz (yang pernah bilang "musik itu bisa menyentuh—lewat suara—karena kaya dengan imajinasi") mengartikulasikan sebuah dogma yang kelak akan disembah oleh musikus kamar segera setelah personal computer dan synthesizer dan harganya bisa damai dengan kantong-kantong orang pada umumnya. Di balik semua formalisme, musik hanya mewakilinya dirinya, bukan yang lainnya, entah itu ketika dimainkan lewat sebuah orkestra di gedung kesenian besar atau synthesizer di kafe-kafe kelas atas di Kemang, entah itu yang sifatnya metafisikal atau konkrit.

Sampai di sini, penyataan Schumann beberapa paragraf lalu bisa tepat sasaran—tapi kan, Schumann pasti tak pernah ngeh kalau apa yang dicapai oleh seorang komposer abad 18, apa yang dimainkan oleh sebuah orkestra dalam gedung kesenian yang penuh penonton di zamannya, bakal jadi tulang punggung sebuah genre yang benar-benar berbeda. Intinya, Schummann pasti gatal buat bangkit dari kubur gara-gara pemikirannya jadi inspirasi musisi yang bosan dengan dance music yang cuma jedag-jedug dan dansa-dansi belaka.

Motif utama ini nantinya akan melahirkan banyak evolusi—yang tak terbatas namun tegas—musik. Buah pemikiran zaman romantik yang liberal jadi inspirasi bagi musikus impresionisme seperti Claude Debussy hingga Arnold Schönberg; dari usaha pemerdekaan suara oleh Edgard Varèse hingga musique concrète. Dengan merespon masa lampau, revolusi gaya bermusik ini menciptakan sebuah bahasa universal yang sengaja mbalelo dari konsep kesejamanan. Autechre misalnya bodo mata karya mereka kedengaran atonal, atau mirip "seperti suara perkakas elektronik rusak," karena sebenarnya aturan-aturan teknis penulisannya masih sama kakunya—atau malah jauh lebih ketat—dari yang berlaku pada komposisi new wave atau lagu-lagu pop.

Sementara seniman musik elektronik terkemuka lainnya seperti Boards of Canada berusa mereka ulang seperti apa—ya tentu saja kalau kita mampu—angkasa berbunyi, dengan menaruh sample (terutama rekaman field recording) di tengah lagu dan hasil akhirnya membangkitkan kenangan akan film-film sci-fi 1970an. Aphex Twin memcoba meniru Johaness Brahms dengan memanfaatkan ketidakteraturan yang njelimet sebagai dasar narasi musikal yang ini dia angun. Keduanya juga dikenal piawai untuk menilik kembali formula yang telah ditinggalkan atau tak pernah dimanfaatkan dengan maksimal oleh techno (seperti piano yang digunakan untuk membangun album Aphex Twin yang dilepas pada tahun 2001, Drukqs) dan dengan demikian menghapus batas tipis antara budaya klab dan musik pop.

Seperti seniman-seniman IDM, karya-karya Wagner juga ditempeli asosiasi yang runit dan oksimoron, meski masih jauh dari kredo "seni untuk seni semata." dalam hal ini, Wagner setali tiga uang seperti rombongan musisi IDM 90an yang mendekati lantai dansa dengan lebih woles, setelah melewati fase eksperimental (maksudnya artis macam Carl Craig, Jeff Mills, atau The Orb, terutama band terakhir pasca berbagai pergantian personel mereka).

Sejujurnya, menggali terus kesamaan antara musik romantik dan IDM punya dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa IDM tak lebih dari sekadar evolusi musik yang dipicu perkembang teknologi. Di sisi lain, terus menerus keukeuh mengatakan bahwa keduanya paralel membuat kita seperti pengkhotbah konsep-konsep musik yang adiluhung (dan belum tentu bisa diterapkan). Ada yang hilang di sini dan itu adalah teks—tak ada skenario dan pola dalam kedua genre tersebut. Yang juga hilang adalah score dan tujuan pasti yang kamu temukan di sebagian besar komposisi romantik. Namun, pada akhirnya, itu tak jadi masalah. Dalam musik romantik dan IDM, yang didahulukan adalah perkara-perkara tentang ritme baru setelah kemudian revolusi yang ingin keduanya letupkan.

Konsep seni universal yang digagas oleh Beethoven dalam Simponi Kesembilannya membuka mata dunia terhadap genre baru, yang DNAnya masih bisa kita temukan dalam Selected Ambient Works, Frequencies, Incunabula, Music Has The Right to Children. Kadang kala, kita hampir percaya bahwa tak banyak waktu berlari antara kelahiran kedua genre tersebut. IDM, dalam hal ini, telah menerapkan spirit romantisme usianya sudah lebih satu abad, dan berhasil menarik benang merah yang merentang antara Kraftwerk, Brian Eno, dan Beethoven. Namun, yang paling penting, IDM memberi kita alasan untuk ngobrol tentang seni di dalam klab yang hiruk pikuk.

Follow Giovanni Coppola di Twitter .