Budaya Tato

Budaya Pemuda Sulawesi Mengabadikan Pahit Manis Perantauan Lewat Tato

Ratusan bahkan ribuan orang muda di Sulawesi melakukan perjalanan antara tahun 1970 hingga 1990 awal menuju tanah rantau. Pengalaman itu, baik ataupun buruk, menjadi bagian tak terlupakan dalam hidup mereka.

oleh Eko Rusdianto; foto oleh Iqbal Lubis
17 Maret 2018, 5:00am

tato Gadis di tangan Darman. Semua foto oleh Iqbal Lubis

Jalal lahir di Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada 1974. Tahun 1989, saat usianya masih 15 tahun, dia ikut keluarganya menuju Nunukan, Kalimantan. Mereka menumpang sebuah kapal dari Makassar. Lalu setahun kemudian memasuki Malaysia, dengan cara illegal.

Saat masih di Nunukan, Jalal ditinggal pergi koleganya. Dia kebingungan dan akhirnya mencoba peruntungan sendiri. Di sebuah pasar, dia bertemu seorang bapak-bapak yang bersedia menampung. Oleh si bapak, Jalal diangkat jadi anak. Beberapa bulan ia tinggal bersama dan membantu seadanya. “Bapak angkat saya punya anak. Dia bilang, ‘kau ikutlah abang mu itu’, jadi saya ikut,” katanya.

“Abang angkat itu, kerja di Sabah. Tapi sebelum ke Malaysia, teman-teman bilang nda bisa ke Malaysia kalau nda ada tato. Jadi tangan saya di pegang dan kaki. Terus saya dapat tato,” lanjutnya.

Di lengan kiri Jalal sebuah gambar corat coret terlihat. Saya berusaha, memandangnya dengan saksama. Itu adalah gambar seekor burung. Tapi belum utuh. “Iya, kan waktu itu saya ditato, tapi rupanya sakit. Jadi saya tidak tahan, jadi saya bilang stop sudah. Jadinya seperti ini,” katanya. Kami tertawa bersama.

Jalal dan tato burung yang belum sepenuhnya jadi. foto: Iqbal Lubis

Jalal tinggal di kampung Sosso’, Desa Saragian, Kecamatan Alu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Menuju Sosso’ harus melewati dua sungai. Melewati jalan setapak kecil di antara pohon kelapa dan langsat. Di kampung ini ada puluhan orang yang pernah melakukan perjalanan rantau seperti Jalal. Saya bertemu tiga di antara mereka.

Salah satunya adalah Ikhlas. Dia lahir tahun 1965. Merantau pada usia 11 tahun. Kota tujuan pertama adalah Palu. Dia bersama keluarganya menggunakan kapal Sandeq dari Majene. Melakukan perjalanan selama seminggu. “Itu saya menangis di tengah laut. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya.

“Di Palu, saya sampai enam tahun. Kerjanya angkat kelapa. Dan dapat gaji. Senang juga.”

Ikhlas nekat melakukan perjalanan, karena di sekolah acap kali mendapat cibiran dari teman-temannya. Orang tuanya bercerai dan si bapak meninggalkannya bersama sang ibu. Dia memukul seorang kawannya hingga berdarah.

Sementara itu, Syarifuddin, berasal dari Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Merantau pertama kali saat masih kelas 3 Sekolah Dasar. “Saya lari dari rumah dan bawa rapor. Saya ikut sampai Kalimantan. Saya bantu masak orang di camp, atau ambil air,” katanya.

“Jadi saya dengar orang-orang merantau itu punya banyak uang. Tidur saja dapat gaji. Jadi saya nekat, terus ada orang dari Wajo, mau kasi ikut. Jadi saya mau,” katanya.

Syarifuddin, menikmati perjalanan menggunakan kapal kayu dari pelabuhan Parepare menuju Nunukan. Di kapal, dia diladeni dengan baik. “Jadi waktu kecil, saya memang nakal mungkin. Jadi kalau dipikir sekarang, kenapa saya mau waktu itu,” katanya menerawang.

Di Kalimantan, dia bersama rombongan bekerja mengangkut kayu dari hutan menuju sungai dan kemudian dihanyutan menuju hilir dan diangkut kapal. “Itu benar-benar di tengah hutan. Karena masih kecil, saya selalu dimarahi. Dipukul juga. Beberapa kali saya menangis,” katanya.

Akhirnya, usia bertambah. Rasa dendamnya terkumpul. Saat mulai merasa mampu melawan, dia berkelahi. Syarifuddin mengandaikan, kalau terus dijajah akan selalu jadi pesuruh. “Waktu sudah berkelahi, orang-orang mulai tidak lagi memukul. Tapi karena masih muda, saya masih disuruh-suruh. Tapi tidak apa-apa.”

Saya menyambangi Kabupaten Luwu, Pinrang, dan kota Parepare di Sulawesi Selatan, serta Polewali Mandar dan Majene di Sulawesi Barat, menemui puluhan mantan perantau yang sekarang hidup menjadi seorang petani di kampung halaman. Mereka pada dekade tahun 1970 hingga 1980, adalah keluarga yang tak kekurangan. Hidup rukun dan berkecukupan. Lahan keluarga untuk dikelola tersedia.

Kini sebagian dari mereka sudah memiliki cucu. Mereka menunjukkan tatonya dengan senda gurau. Menahan malu ketika anak dan cucunya melintas. Lalu tersenyum dan tertawa. Hasil rajah di kulit mereka memiliki kisah masing-masing. Tak ada tato yang tak memiliki arti.

Tapi, tulisan ASBUDI adalah yang terbaik. Singkatannya adalah Anak Sulawesi Buang Diri. Kenapa buang diri? “Hahahaha, itu bukan buang diri. Tapi kayak tanda saja lah. Kalau ketemu orang-orang, dan ada tato, maka itu satu kampung,” kata Sulaiman.

Sulaiman dan tato 'Asbudi' di tangan kirinya. Foto: Iqbal Lubis

Asbudi seperti kata kunci di dunia rantau. Di singkatan kata itu tak ada suku. Bugis, Luwu, Toraja, Makassar, Mandar, semua satu rasa. Sulaiman lahir tahun 1968. Tahun 1986 dia ikut kakaknya yang lebih dulu merantau ke Papua.

Sulaiman menempuh perjalanan panjang dan mencapai Sorong – kini Papua Barat. Dia menjadi seorang pekerja kayu. Di tempat ini, dia bertahan selama setahun. Dan pada 1987, dia menuju pulau Seram, setahun kemudian menuju Merauke, dan setahun selanjutnya ke Asmat.

Di Merauke, tahun 1987, dia menyaksikan kehidupan orang-orang kampung dan rantau. “Jadi ada orang orang perantau yang sudah menetap. Bangun rumah tembok (beton). Tapi batu pondasi dipesan dari Makassar atau Surabaya. Tak ada batu di sana,” katanya.

Tahun 1989, dia akhirnya bernisiatif membuat tato. Tulisannya adalah ASBUDI di lengan kiri. Dibubuhi gambar wajah seorang perempuan berambut panjang terurai. Di sisi kiri gambar ada deretan angka 2159 dan di sisi kanan ada tulisan AN3DIS. Di bagian bawah gambar ada tulisan IRJA – Irian Jaya.

Angka 2159 berarti; dua insan satu tujuan lima menit terasa nikmat sembilan bulan dalam kandungan. Dan AN3DIS adalah Anti Gadis.

Berbagai pengalaman hidup dipadatkan dalam satu tato. Foto: Iqbal Lubis.

Akhir 1989, bisnis kayu mulai redup. Sulaiman menjadi pelaut. Operasi kapalnya adalah perairan Papua Nugini. Mangiwang, begitu Sulaiman menamakan kerjaan baru ini sebagai pemburu hiu. Tapi nahas, upaya pertama kali melakukan perburuan hiu, satuan pengamanan laut di Papua Nugini membekuknya. Semua ABK ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Kapal pun ditahan.

Sulaiman mendekam di penjara selama sebulan lebih. Ketika keluar dari jeruji besi, dia kembali membubuhkan tato di paha kirinya. Kenangan kelam dan pahit. Daru, 17-3-89 PNG. Tahun 1992, dia pulang kampung.

Uang hasil jerih payah selama merantau dibelikan rumah. Dan kemudian memelihara kuda. “Cukuplah. Jadi itu masa-masa susah. Dan bertualang. Sekarang, ya jadi petani. Pelihara bebek juga. Anak juga sudah kuliah dan punya cucu. Nikmati hidup,” katanya.

Tapi, di paha kanan ada gambar lain. Sebuah badik – senjata khas dari Sulawesi – menghiasinya. Di bawah gambar ada tulisan; love S.Rajam (Sulaiman Rammanu Jannami) Herlina. “Ini siapa om?,” kata saya menunjuk nama perempuan.

“Hahahaha.. malu-malu bela,” jawabnya.

“Pasti pacar ta di perantaun?,”

“Hahahaha.. itu masa lalu.”

Di kampung Sosso’, Ikhlas mengangkat lengan baju kirinya. Ada tulisan; Lukman Asbudi kemana-Mana. Lukman adalah nama samaran yang digunakannya saat di Malaysia. Setelah merantau ke Palu, ia menyempatkan diri kembali ke kampung untuk istirahat selama dua tahun. Setelah itu, pada 1984 ia berangkat ke Kalimantan, seterusnya pada 1985 akhir, ia berangkat ke Sabah, Malaysia.

Di Malaysia, Ikhlas menjadi buruh kayu selama enam tahun. Pada 1989, ketika bisnis kayu meredup. Agen perusahaan tempatnya bekerja menjadi macet. “Waktu itu kami banyak dihalau. Jadi tidak bikin apa-apa. Jadinya bikin tato,” katanya.

Tato Lukman Asbudi kemana-mana. Foto: Iqbal Lubis

Halau dalam bahasa pergaulan di Malaysia adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tato Ikhlas, mulai terlihat berwarna ungu, karena memudar. Rajah di lengan itu, punya sambungan di paha kiri. Sambil membuka celana, ikhlas memperlihatkannya. Kami terbahak bersama.

Di pahanya, ada gambar botol, yang ditengahnya ada tulisan ATHI. Bagian atas botol ada tulisan Sabah Malaysia dengan penutup Cari Sahabat. “Jadi Asbudi di mana-mana, dan cari sahabat,” kata Ikhlas.

Oh iya, Athi di tulisan dalam badan botol adalah nama seseorang. “Pacar juga?,” saya bertanya.

“Hahahahaha, itu dulu lah,” jawabnya.

Selain Asbudi, beberapa orang juga menulis ASTUTI atau Anak Sulawesi Tunangan Tidung. Tidung adalah salah satu kampung di bagian Sabah, Malaysia. Ada pula ARDATH; aku rela ditiduri asal tidak hamil. Yang lain KANSAS; kami anak nakal suatu saat akan sadar. Saya kira singkatan-singakatan ini menjadi penanda generasi masa itu.

Syarifuddin, yang saya temui ketika jelang sore di teras rumahnya sedang bersantai. Mengenakan celana pendek dan tak menggunakan baju. Di dadanya ada gambar binatang Macan atau mungkin Harimau sedang menerkam. Di dekat ekornya, ada tulisan KENT. Kent adalah sebuah merk rokok di Malaysia.

Tato di dadanya mirip logo puma berkepala tikus. KENT adalah singkatatan dari Karena Engkau Nafsu Terbuka. Foto oleh Iqbal Lubis.

Tapi, Syarifuddin berpandangan lain. “Saya juga suka itu rokok. Tapi, KENT itu artinya Karena Engkau Nafsu Terbuka,” katanya.

Sementara di lengan kananya, ada gambar bunga dengan tulisan Kal-Sul alias Kalimantan Sulawesi. Dan di lengan kirinya, ada gambar kupu-kupu. “Kan waktu itu kupu-kupu malam. Ini lambangnya toh. Play boy, hahaha,” kata Syarifuddin.

Rajah tubuh dengan cerita itu, juga dimiliki Kasim Soyyang (45 tahun) seorang perantau yang pergi ke Malaysia tahun 1988. Dia bekerja di sebuah kilang pengeboran minyak. Lengan kanannya ada gambar seorang perempuan yang kelihatan telanjang, dengan tulisan Ketek. Di lengan kirinya, simbol damai dengan dua jari tangan dan tulisan 2159.

Tahun 1990, Kasim terserang malaria. Menderita selama 10 bulan kemudian mendapatkan perawatan di sebuah klinik di Tawau, dengan biaya sendiri. Kemudian dia berkelahi dengan warga Filipina. Mendekam di penjara selama 1 tahun 6 bulan. “Saya bebas 16 Agustus 1993,” katanya.

Kasim dan tato ketek-nya. Foto oleh Iqbal Lubis

Bagaimana para perantau ini membuat tato? Ada empat bahan baku utama. Tinta ballpoint, tinta china, arang baterei, dan arang pelita. Caranya cukup sederhana, setiap orang memikirkan gambar masing-masing. Lalu melarutkan tinta di sebuah wadah dan menempelkannya di jarum jahit.

Pada umumnya tiga atau dua buah jarum dirapatkan jadi satu dan diikat dengan benang. Jarum-jarum itu, akan menembus kulit serupa mematuk. Muhammad Ali bin Kaco (59 tahun) perantau Kalimantan asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengatakan, rasanya sakit. “seperti digigit semut, tapi banyak,” katanya.

Muhammad Ali punya tato di kedua lengannya. Masing-masing gambar Banteng dan Naga. Tato itu dibuatnya tahun 1976, ketika dia sedang tak ada pekerjaan di sebuah pengeboran minyak di Kalimantan. “Jadi saya mau gambar sapi. Karena saya itu, sebelum merantau menggembala sapi. Tapi di kertas kupon shio togel, hanya ada gambar banteng, jadi ya mirip lah itu,” katanya.

Tato sapi yang mirip banteng. Ada cerita banyol di balik pembuatan tato ini. foto: Iqbal Lubis

Membuat tato menggunakan tinta cina, harus dicairkan. Tinta cina itu bentuknya padat. Dipanaskan terlebih dulu, setelah cair kemudian ditunggui sampai dingin. Dan untuk penggunaan arang pelita, pertama-tama lampu yang menyala ditutup lalu ditunggui sampai asapnya mengepul dan menghasilkan arang. Arang-arang yang menempel di kaca lampu templok, kemudian diserut dan dikumpulkan.

Arang hasil serut itu, kemudian dicampur dengan minyak kelapa, agar dapat menempel di ujung jarum sebelum digunakan. Penggunaan arang baterei juga menggunakan campuran minyak kelapa. “Kalau sementara di tato itu, berdarah-darah. Jadi bengkak tiga atau empat hari. Terus kulitnya lepas. Jadi kalau begitu sudah jadi,” kata Sulaiman.

“Biasanya juga ada orang sakit dan sampai nakulai e – demam,” kata Syarifuddin.

Kemudian bagaimana mereka memandang rajah tubuh itu? Jawabannya singkat; iseng. Meski demikian tato memiliki akar budaya di Indonesia. Beberapa masyarakat adat membuat rajah di tubuhnya, seperti Mentawai dan Dayak. Tapi di Indonesia, tato kemudian mendapat stigma negatif pada 1983-1984, melalui operasi Pembersihan Kriminal atau dikenal dengan Petrus (penembakan misterius).

Hatib Abdul Kadir Olong dalam Tato, menuliskan hingga akhir 1984, setidaknya ada 8.500 orang terbunuh semata-mata karena dituduh preman. Jenasahnya ditemukan dengan luka tembak dan tusukan bertubi-tubi. Akhirnya mayat yang ditemukan dengan gambar rajah membuat trauma yang panjang.

Rupanya, riuh rendah peristiwa Petrus tak berakhir hingga 1984 saja. Di pedalaman Kalimantan, tempat para orang-orang rantau bekerja didatangi pihak militer. “Itu sudah tahun 1989, ada tentara masuk ke camp, cari tato. Saya disuruh buka baju, lalu satu-satu ditanya artinya. Setelah tahu, itu tentara ketawa. Dan suruh saya bikin kopi,” kata Syarifuddin.

Kini tato-tato itu telah menempel di tubuh dan mengekalkan setiap kenangan. Darman (46 tahun), yang mencapai Sabah di Malaysia bekerja menjadi buruh sawit tahun 1988 hingga menjadi buruh las di usaha konstruksi perumahaan. “Di kebun sawit, itu seperti kerja 24 jam dan penghasilan hampir tak ada,” katanya.

Foto: Iqbal Lubis

Penderitaan di tahun pertama itu, Darman, abadikan dengan tato di lengan kanan: Sabah Malaysia Derita 5 tahun. Lengan kirinya adalah gambar seorang perempuan dengan rambut terurai dengan tulisan GADIS. “Jadi teman yang gambar perempuan itu bilang, ‘kalau hanya tato tulisan, bukan laki-laki’ jadilah ini tato,” katanya sambil tersenyum.