Iklan
Film Dokumenter

9 Dokumenter di Netflix yang Menampilkan Kisah Perempuan-Perempuan Luar Biasa

Coba berhenti dulu nonton reality show lalu hayati sejenak kehidupan-kehidupan perempuan-perempuan hebat ini

oleh Leila Ettachfini
01 April 2018, 11:12am

Foto via Getty

Gara-gara kebanyakan nonton Riverdale, Love, dan Terrace House, rasanya saya jadi semakin dungu. Tapi, ya, mau gimana lagi. Di AS sedang dingin-dinginnya, nonton di dalam kamar itu hiburan gratis, saya gak mau ketinggalan sama sinetron terkini atau apalah, dan seterusnya.

Tetap saja, musim semi sebentar lagi tiba (ada yang bilang sudah tiba, tapi cuaca di New York sama sekali gak menunjukannya), jadi saya mungkin akan mulai keluar rumah lagi. Dan pas saya keluar rumah nanti, saya mau punya topik obrolan yang lebih menarik daripada sinetron-sinetron itu.

Saya bisa memastikan bahwa di acara-acara networking orang gak akan terkesan kalau saya membuka obrolan dengan menyebutkan tokoh favorit saya di Riverdale. Sebaliknya, saya mungkin saja nambah teman (atau setidaknya penggemar) kalau saya ngajak ngobrol soal oseanografer dan advokat konservasi Sylvia Earle. Jadi, demi kenyamanan semua orang yang kita ajak ngobrol, wawasan saya dan kamu, saya sudah mengumpulkan daftar dokumenter di Netflix yang membahas perempuan-perempuan luar biasa dengan informasi yang bermanfaat.

What Happened, Miss Simone?

“Saya beri tahu makna kemerdekaan bagi saya—hilangnya rasa takut,” ujar Nina Simone di awal dokumenter Netflix berjudul What Happened, Miss Simone? Film ini, yang judulnya merupakan kutipan Maya Angelou, menerima banyak kritik karena fokus pada penyakit mental Simone alih-alih pencapaiannya dan posisinya yang tidak terbandingi pada sejarah dunia hiburan. Tapi, film ini membawa kita ke dalam kehidupan Simone—seperti ucapannya pada Dr. Martin Luther King Jr. bahwa dia bukan seorang pasifis—yang tadinya tidak diketahui publik. What Happened, Miss Simone? Mengungkap nuansa-nuansa asing dalam hidup seorang perempuan yang bericta-cita menjadi pianis klasik kulit hitam pertama di Amerika, namun kemudian justru menjadi salah satu penghibur paling khas di dunia pada zamannya.

Seeing Allred

Seeing Allred mengisahkan tentang pengacara hak-hak perempuan paling tersohor di Amerika, Gloria Allred. Klien-kliennya termasuk keluarga Nicole Brown pada persidangan pembunuhan O. J. Simpson dan perempuan-perempuan yang menuduh Donald Trump melakukan kekerasan seksual, sehingga warga Amerika akrab dengan wajah Allred namun tidak dengan kisahnya. Seeing Allred berupaya mengubah fakta tersebut dengan mengilustrasikan bagaimana pengalaman pribadi sang pengacara mengenai isu-isu yang dia perjuangkan—kekerasan seksual, aborsi, representasi dalam tempat kerja, dll.—menginspirasinya menjadi pengacara yang ajek dan disegani.

GLOW: The Story of the Gorgeous Ladies of Wrestling

The Gorgeous Ladies of Wrestling League, liga pegulat perempuan yang dikenal dengan sebutan GLOW, adalah sensasi era 80an yang kini memiliki jutaan penonton pada musim keempat. Sebuah dokumenter 2012 berjudul GLOW: The Story of the Gorgeous Ladies Wrestling menampilkan anggota-anggota GLOW dan cerita mereka soal pengalaman menjadi pegulat profesional di acara TV nasional, dan perasaan mereka soal akhir yang tiba-tiba.

Mission Blue

Mission Blue mengisahkan Sylvia Earle, seorang oceanografer, advokat konservasi, dan perempuan pertama yang menjadi ilmuan pemimpin di U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration. Dokumenter ini mewawancarai Earle sehingga penonton dapat mengetahui alasan dia menekuni biologi kelautan, seksisme yang dia hadapi sebagai ilmuan perempuan muda, dan cara pandangnya soal penurunan laut sejak dia mulai mempelajari kelautan di 1950an.

Maya Angelou: And Still I Rise

Dokumenter pertama mengenai sang penulis dan penyair, Maya Angelou: And Still I Rise mencakup wawancara-wawancara eksklusif dengan Oprah, Clintons, Common, Alfred Woodard, Cicely Tyson, Angelou sendiri, dan lain-lain. Dokumenter ini membawa kita pada kehidupan Angelou yang mengesankan dari pertemuannya dengan KKK sebagai anak kulit hitam yang tumbuh besar di Selatan sampai pertemanan dengan Malcolm X sampai membacakan puisi di inagurasi Bill Clinton—dan bagaimana semua pengalaman ini berkontribusi pada karirnya yang cemerlang.

Diana: In Her Own Words

Dokumenter yang dirilis pada 2017 ini dinarasikan oleh Putri Diana sendiri, menggunakan rekaman-rekaman wawancara rahasia yang disebut “Morton tapes” yang dikirim sang putri ke jurnalis Andrew Morton pada awal 90an. Dalam dokumenter ini, Diana membahas banyak skandal dan tuduhan seputar keluarga kerajaan yang diangkat media pada saat itu. Rekaman-rekaman tersebut intens dan pilu: Putri Diana membahas insiden-insiden saat dia melukai dirinya dan ingatan-ingatannya soal perselingkuhan Pangeran Charles, dan topik-topik lainnya.

Daughters of Destiny

Daughters of Destiny mengisahkan lima perempuan India dari kasta Dalit—kasta paling rendah di India—saat mereka bersekolah di Shanti Bhavan. Sekolah ini, yang menyediakan pendidikan, pakaian, makanan, dan tempat tidur, didirikan dengan harapan bisa memberdayakan kasta Dalit di India supaya bisa memperbaiki taraf hidup mereka. Daughters of Destiny mengajak kita ke dalam rumah para perempuan dan mimpi mereka soal masa depan yang lebih cerah.

Joan Didion: The Center Will Not Hold

Joan Didion: The Center Will Not Hold, disutradarai oleh keponakan Didion Griffin Dunne, adalah dokumenter Netflix yang mengisahkan hidup sang novelis, jurnalis sastrawi, dan penulis Amerika yang dicintai. Dari berpesta dengan ikon-ikon Woodstock sampai mendapatkan pekerjaan di Vogue pada 1950an, dokumenter ini mencakup rekaman-rekaman langka dan wawancara intim dengan Didion.

Tig

Tig mengisahkan kehidupan pelawak Tig Nataro setelah didiagnosa kanker dan kematian ibunya, yang terjadi pada puncak karirnya. Lewat dokumenter ini, kita menyaksikan Tig pasca diagnosa yang kekeuh mendedikasikan keterampilannya dan berusaha menemukan kembali titik normal. “Setelah saya didiagnosa, semuanya menjadi lucu di mata saya,” ujarnya. “Saya senang banget melawak. Saya ingin melakukannya sekali lagi.”