Iklan
Teror ISIS

Menengok Isi Kamar-Kamar Tempat Pembantaian Milik ISIS di Irak

Maret lalu, kru VICE kembali ke Kota Mosul untuk kali pertama setelah perang melawan ISIS berakhir delapan bulan lalu. Peringatan: beberapa foto sangat sadis. Harap ditonton secara hati-hati.

oleh VICE News
10 April 2018, 11:45am

foto dari VICE News

Meski kehidupan boleh jadi kembali normal di bagian timur kota, di sisi seberang sungai—tempat pertempuran paling intens—skala pembangunan ulang yang harus dilakukan besar sekali. Menurut estimasi, masih ada 8 juta ton puing-puing konflik yang perlu dipindahkan sebelum rekonstruksi bisa dimulai; setara dengan tiga kali ukuran Piramida Besar di Mesir. Sekitar 75 persen puing-puing itu berada di West Mosul, bercampur dengan banyak persenjataan yang belum diledakkan sampai-sampai para ahli menyatakan bahwa inilah salah satu tempat paling terkontaminasi di bumi.

Di Old City, dulunya pertahanan terakhir ISIS, para penghuni perlahan mulai kembali—sebagian pemilik bisnis yang berharap dapat merenovasi kios-kios mereka, dan keluarga-keluarga yang tak punya pilihan lain selain tinggal di rumah mereka yang rusak parah. Sebagian tangki air sudah diisi dan kabel-kabel listrik sudah disambung di sepanjang jalan untuk sementara waktu. Meski demikian, tempat ini terasa terlantar, dan beberapa bagian tertentu tampak sama-sama saja dengan saat pertempuran baru usai.

Delapan bulan telah berlalu, namun ratusan atau bahkan ribuan mayat masih terhimpit di bawah puing-puing, menambah kepedihan para keluarga yang sudah kembali.

Mayat-mayat yang membusuk utamanya adalah pasukan ISIS atau keluarga mereka, karena banyak mayat-mayat warga sipil non-ISIS sudah dipindahkan dan diakui oleh keluarganya atau pekerja pertahanan sipil. Mayat-mayat yang tersisa berisiko merusak kesehatan, tapi hampir tak ada yang mau berurusan dengan mereka, dan memindahkan mereka amat berisiko mengingat persenjataan yang belum meledak tersebar di seluruh area. Namun, kelompok-kelompok relawan berkunjung ke rumah-rumah dan melaksanakan tugas berbahaya tersebut setiap hari.

Satu tim relawan dipimpin oleh Sroor al-Hosyani, mantan perawat berusia 23 tahun. Banyak anggota grupnya berusia lebih muda lagi; sebagian adalah mahasiswa kedokteran, namun sebagian besarnya tidak punya pelatihan formal untuk menangani mayat-mayat. Sejauh ini, mereka telah memindahkan dan membungkus 350 mayat. Mereka memasukkan mayat-mayat itu ke dalam plastik jenazah berwarna putih sehingga truk-truk bisa dengan mudah mengangkutnya, dan menempelkan label yang menjelaskan kemungkinan peledak ditemukan bersamaan dengan mayat.

Kamar yang diduga jadi ruang eksekusi di sebuah ruang bawah tanah di gedung yang telah runtuh di kota Al Maydan. Hosayni dan rekan-rekannya menyebut di sini sedikitnya ada seratus mayat, dan mereka baru berhasil memindah sekitar 30-an saja. (Adam Desiderio/VICE News)

“Kami melihat ada mayat di mana-mana, di gang-gang dan di dalam rumah-rumah,” ujar Hosyani. “Saya membawa tim saya dan mulai mengimplementasikan ide untuk membantu pemerintah kotamadya dan staf pemerintah, dengan memindahkan mayat-mayat sebelum musim panas tiba dan penyakit menyebar ke seluruh kota.”

Pada awalnya pihak berwenang mengeluh pada Hosyani, “Kamu gak perlu memindahkan mayat-mayat ISIS. Biarkan saja nanti dimakan anjing.”

Hosyani membalas, “Tapi mayatnya terlalu banyak untuk dimakan satu-dua anjing.”


Tonton dokumenter VICE mengenai kamar pembantaian peninggalan ISIS berikut:


Setelah merekam tim Hosyani saat bekerja di dekat masjid Al Nuri yang telah hancur, kami mengikuti mereka ke Al Maydan—wilayah sekitar Old City tempat ISIS bertahan untuk terakhir kalinya. Mereka telah bekerja di sebuah area tertentu selama berminggu-minggu.

Buldoser mulai membersihkan jalan tempat Jalan Souk Al-Samak pernah membentang di sepanjang sungai, tetapi hampir tidak ada yang berubah sejak bom-bom udara meratakan kabupaten ini.

Di belakang reruntuhan pintu batu berukir, terlihat halaman seperti diorama perang, membeku dalam waktu: mayat-mayat dalam berbagai tingkat kerusakan tergeletak di tengah-tengah persenjataan liar, barang pecah-belah, truk mainan plastik, dan pakaian militer yang dibuang.

Hampir dua ratus meter di jalan sebelah kanan, tim mengarahkan kami ke sebuah bangunan di tepi Sungai Tigris. Setelah melewati reruntuhan dinding bata, kami masuk ke dalam dua ruangan bawah tanah dengan jendela bertralis menghadap sungai. Di ruangan yang lebih jauh, dipenuhi lalat-lalat dan bau amis, ada puluhan mayat yang tertumpuk. Sepertinya, ini adalah sisa-sisa eksekusi massal.

Tim pengangkut mayat menyampaikan bahwa sekurang-kurangnya ada 100 mayat di ruangan itu; tim telah mengangkut lebih dari 30 mayat tapi tak membuat banyak perubahan.

Sroor al-Hosayni, mantan perawat berusia 23 tahun, memimpin sekelompok relawan yang mengangkut mayat-mayat dari bangunan-bangunan yang hancur di Al Maydan, kabupaten Old City, pertahanan terakhir ISIS. Hosayni dan timnya telah memindahkan mayat-mayat dari kamar eksekusi bawah tanah.

Pemuda 23 tahun Sroor al Hosayni, eks perawat, memimpin tim evakuasi jenasah di kota Al Maydan, tempat pertahanan terakhir ISIS (Adam Desiderio/VICE News)

Kami melihat yang tampak seperti mayat anak-anak, meski sulit diverifikasi karena sudah membusuk. Kami tidak melihat persenjataan atau peralatan militer di sekitarnya. Tim memberi tahu kami bahwa mereka bisa melihat luka tembak di kepala mayat-mayat ini.

Ada laporan-laporan bahwa ISIS mengunci banyak orang di dalam ruangan-ruangan seperti ini, menggunakan mereka sebagai perisai manusia di hari-hari terakhir konflik. Banyak keluarga tersebut tewas akibat serangan udara—namun ruangan ini masih utuh. Mungkin saja mereka dieksekusi ISIS saat pemerintah mendekat. Tapi tidak jelas mengapa ISIS membunuh warga sipil dengan cara begini.

Ada pula laporan-laporan pasukan Irak mengeksekusi anggota-anggota ISIS di kawasan ini. Janggut dan rambut panjang masih terlihat jelas pada sebagian mayat; oleh karena itu, para pengangkut mayat percaya boleh jadi mayat-mayat itu terafiliasi dengan ISIS. Namun, pada VICE seorang pejabat militer Irak menyangkal bahwa pasukan Irak bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan tersebut dan menyampaikan bahwa situs itu telah diselidiki, tanpa mengungkapkan rincian lebih lanjut.

Satu organisasi internasional yang telah mendokumentasikan kasus-kasus di mana pasukan keamanan Irak dituduh melakukan eksekusi adalah Human Rights Watch.

Belkis Wille, penyelidik utama Iraq di Human Rights Watch, mengunjungi situs itu tak lama setelah kami. Dia bilang dia tidak mengetahui penyelidikan apapun mengenai situs ini, dan bahwa—siapapun yang bertanggung jawab atas kematian-kematian ini—memindahkan bukti-bukti adalah hal problematis mengingat situs ini boleh jadi sebuah tempat kejadian kejahatan perang.

“Situs-situs seperti itu membutuhkan tim forensik yang mengamankan situs dan melaksanakan analisis yang diperlukan untuk menetapkan apakah ini benar-benar TKP,” ujar Wille pada VICE News. “Terlpas dari janji-janji perdana menteri di akhir pertempuran untuk menyelidik tindak penyelewengan, kami belum melihat tanda-tanda adanya tim dan penyelidikan yang diperlukan. Dan pertanyaannya adalah, pada titik apa situs-situs ini berpotensi kehilangan nilai forensik dan bukti-buktinya?”

Namun bagi tim pengangkut mayat—dan bagi banyak penduduk Mosul—karena musim panas semakin mendekat, prioritasnya saat ini adalah untuk membersihkan kota ini dan memulai pembangunan ulang. Keperluan untuk mendokumentasikan dan menyelidiki kejahatan perang secara mumpuni bukan prioritas utama.

“Saatnya fokus pada orang yang masih hidup, bukan yang mati,” merupakan mantra yang kami dengar dari mulut pihak berwenang dan banyak keluarga yang mencoba membangun ulang kehidupan mereka.

Meski begitu, pertanyaan tentang apa yang terjadi di kawasan-kawasan seperti Al Maydan pada momen-momen terakhir sebelum kemenangan diumukan, dan pada hari-hari setelahnya, tak kunjung hilang.

Di masa-masa terakhir pertempuran untuk memadamkan perlawanan terakhir ISIS di Mosul musim panas lalu, akes pada “zona pertarungan” semakin dibatasi.

Reruntuhan masjid agung al-Nuri di Mosul, Irak di mana pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan Irak dan Suriah

Baghdad mendeklarasikan konflik secara resmi berakhir pada 10 Juli. Pengumuman ini, yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional, mengejutkan banyak orang, karena ledakan dan tembakan masih terdengar dari Old City tempat pasukan teroris ISIS menolak menyerah.

Sehari sebelumnya, VICE News adalah satu dari segelintir media yang berhasil melalui penjagaan itu untuk bergabung dengan seorang jendral dari brigadir konterterorisme Irak dan sebuah tim beranggotakan anak buahnya. Dengan hati-hati mereka memilah jalan menuju atap yang penuh peledak tersembunyi di sebuah gedung runtuh di Al Maydan untuk mengibarkan bendera Irak di Tigris.

Itu adalah perjalanan melewati neraka. Kawasan itu sudah diluluhlantakkan oleh serangan udara dan penembakan sepanjang kampanye, tetapi intensitasnya telah meningkat ketika ISIS jatuh kembali ke jalan-jalan kuno dan sempit ini yang dipenuhi bangunan abad ke-12. Hampir tak ada struktur yang masih utuh, persenjataan dan mayat berjejer di sepanjang rute, beberapa masih segar, sebagian membengkak dan sebagian sudah membusuk akibat terjemur di bawah matahari selama berminggu-minggu.

Mencapai sungai adalah simbol pasukan Iraq telah menembus garis pertahanan ISIS, momen kemenangan yang ditunggu-tunggu para prajurit. Namun, ketika bendera itu dikibarkan dan para tentara melakukan selfie, tembakan dari seorang penembak jitu yang masih hidup di antara puing-puing menyebabkan mereka berlindung.

Pada hari-hari terakhir itu, ketika unit-unit pasukan keamanan Irak yang berbeda mengadakan perayaan kemenangan dadakan setelah kawasan tersebut bebas, pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana penampakan perumusuhan ketika musuh berjuang sampai titik darah penghabisan.

Kemungkinannya, kita tak akan pernah tahu siapa yang membunuh orang-orang di ruang bawah tanah sebuah rumah di Jalan Al-Samak—namun selama klaim-klaim terus berlanjut bahwa pembunuhan ekstrayudisial oleh pasukan keamanan Irak mungkin terjadi—adalah risiko tinggi untuk tidak menyelidiki pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan militan khilafah.

Meski hampir tidak ada yang bersimpati dengan ISIS di kawasan Mosul, budaya impunitas atas segala pelanggaran yang dilakukan selama tiga tahun mereka berkuasa berisiko diyakini oleh penduduk yang masih tersisa sekarang. Sangat mungkin, situasi macam ini bisa membangkitan kembali kelompok teroris di masa mendatang.

Tagged:
VICE News
ISIS
Mosul
Irak
Berita
Abu Bakr al-Baghdadi
Terorisme
Timur Tengah
perang
Teroris
Khilafah
Militan Khilafah
peninggalan
Pembebasan Mosul