Kisah Inspiratif

Lelaki Australia Sukses Jadi Difabel Pertama Mencapai Pos Pendakian Puncak Everest

Scott Dollan, yang lumpuh, harus latihan intensif memakai masker penahan oksigen selama olah raga di gym. Ini dilakukan Doolan agar terbiasa dengan kadar oksigen yang tipis di Everest.

oleh Maddison Connaughton
05 April 2018, 6:02am

Foto via instagram.com/wheelyfit

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia

Scott Doolan baru berusia 17 tahun saat menderita kelumpuhan di separuh tubuhnya, akibat sebuah kecelakaan sepeda motor. Minggu ini, saat genap berusia 28 tahun, Doolan resmi menjadi difabel pertama yang berhasil mencapai Everest Base Camp dengan bantuan yang minimal. Doolan melewati medan sejauh 65 km dalam 10 hari, sebagian besar caranya mendaki menggunakan kedua tangannya. Sebagai perbandingan, kebanyakan pendaki menghabiskan sembilan sampai sepuluh hari untuk melewati medan yang sama.

Agar bisa mendaki Everest, Doolan menggunakan kursi roda dari bahan karbon yang super ringan dan sebuah teknik bernama "wheelbarrowing"—mendaki dengan kedua tangan sementara Matt Laycock memegangi kedua kakinya.

“Aku melakukan sebanyak yang aku bisa di atas kursi roda, lalu tiap kali melewati tangga, aku menggunakan tangan untuk berjalan atau meloncat di punggung seorang sherpa atau Matt," tutur Doolan kepada ABC. "Selagi kami mendaki, kami berpapasan dengan beberapa orang yang berhenti, berteriak atau setidaknya berkata kalau kami luar biasa. Emosi-emosi macam itu sangat membantuku. Menurutku, dukungan orang lain yang kami temui sepanjang perjalanan adalah bagian yang lebih penting dibanding mencapai Everest Base Camp itu sendiri.”

Doolan mendalami fitness di akhir usia 20-an atau beberapa tahun setelah kecelakaan motor yang membuatnya setengah tubuhnya lumpuh. Selama persiapan mendaki Everest, Doolan berlatih intensif, salah satunya dengan memakai masker penahan oksigen selama berolah raga di gym. Ini dilakukan Doolan agar terbiasa dengan kadar oksigen di dataran tinggi.

Tetap, seintensif apapun persiapannya, Doolan masih menemui momen-momen berat dalam pendakiannya.

“Ada beberapa momen saat aku ingin sekali menyerah, tapi kemudian aku sadar apa yang sudah aku lewati dalam hidupku. Aku bisa melalui semua itu..aku cuma memikirkan garis finis yang akan kucapai, dalam hal ini bayangan akan Base Camp,” tuturan Doolan pada ABC. “Batasnya cuma pikiranmu kok.”

Setelah ini, Doolan mengaku ingin bertanding dalam ajang Paralympic 2020 untuk cabang olahraga renang.