Iklan
Covering Climate Now

Jalur Gaza Diprediksi Tak Lagi Layak Dihuni Manusia Pada 2020

Melihat kondisi air yang semakin tercemar limbah, prediksi PBB sepertinya akan menjadi kenyataan bagi rakyat Palestina yang terisolasi Israel itu.

oleh Salem El Rayyes; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
11 Oktober 2019, 4:12am

Penduduk setempat bermain di saluran air limbah di Gaza. Semua foto oleh penulis.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Arabia.

Anak-anak berenang di pantai dekat saluran air limbah. Nelayan menangkap ikan di perairan yang sudah tercemar. Air limbah merembes ke jalanan. Kira-kira beginilah pemandangan krisis air bersih dan listrik di Gaza. Sangat memprihatinkan, bukan?

Pada 2015, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) merilis laporan yang memprediksi Gaza tak lagi layak dihuni 2020 nanti, setelah puluhan tahun dirusak operasi militer dan konflik. Prediksi ini sepertinya akan menjadi kenyataan.

Sudah 30 tahun lebih aku tinggal di Jalur Gaza. Bencana lingkungan bukanlah hal terpenting bagi 2 juta orang Palestina yang hidup dalam kungkungan perang dan pengepungan oleh Israel dan Mesir setelah Hamas menguasai Gaza pada 2007. Hidup kami sudah begitu berat sehingga ogah menambah beban masalah lain.

Namun, 97 persen air minum di Gaza sudah tercemar, dan kondisi ini diperparah oleh ditutupnya pabrik pengolahan limbah karena terlalu sering pemadaman listrik. Kami tentu tak bisa mengabaikannya begitu saja, tetapi mau bagaimana lagi? Aku cukup sering menanyakan teman-temanku apakah mereka khawatir bencana lingkungan Gaza memburuk tahun depan. Jawabannya? “Bukan waktunya mikirin lingkungan, ada situasi ekonomi yang lebih penting sekarang.” Sedangkan lainnya sudah putus asa.

Teman-temanku telah melalui banyak hal, jadi sepertinya kita harus maklum kalau mereka tidak peduli. Akan tetapi, setiap masalah itu saling terkait. Krisis air sebenarnya ada hubungan langsung dengan masalah-masalah yang melanda kawasan ini sejak dulu.

1568631800575-gaz
Tempat ini dulunya menyimpan cadangan air alami di Jalur Gaza, tapi kini sudah berubah menjadi TPA dan rawa limbah kotor.

Peperangan sangat memengaruhi kualitas air

Hanya satu dari 10 rumah tangga yang dialiri air bersih di Gaza. Akuifer pantai (cadangan air alami bawah tanah) merupakan sumber air tanah di daerah ini, tetapi polusi dan kebocoran limbah mencemari 97 persen pasokan air. Setelah disepakatinya Perjanjian Damai Oslo dan dibentuknya Otoritas Nasional Palestina (PNA) pada 1994, sebuah komite menyusun perencanaan nasional untuk menyelesaikan masalah air Gaza. Namun, rencananya gagal total akibat terjadinya pemberontakan kedua Palestina melawan pendudukan Israel pada 2000, yang kemudian disusul oleh pengepungan Israel dan Mesir pada 2006 dan penguasaan Hamas pada 2007. Pasokan air Gaza semakin menipis karenanya.

Selama Water Committee melakukan penelitian pada 1990-an, tepat setelah terbentuknya PNA, tenaga ahli mampu menyedot 55-60 juta liter kubik per tahun dari sumur air tanah di Jalur Gaza. Penelitiannya mengusulkan pabrik desalinasi sentral yang dapat mengubah 60 juta liter kubik air limbah menjadi air minum, di samping kemungkinan mengimpor 10-20 juta liter air dari Israel. Namun, layaknya segala hal di Gaza, segalanya tak berjalan sesuai rencana.

“Pabrik desalinasi seharusnya didirikan,” kata Monzer Shiblak, direktur Utilitas Air Kotamadya Pesisir Gaza, “tetapi pemberontakan kedua pecah pada 2000, padahal dananya sudah terkumpul. Proyek ini mau tak mau dihentikan, dan memaksa kami mengandalkan sumur air tanah saja.”

“Peningkatan populasi dari 1,5 juta menjadi 2 juta menaikkan konsumsi airnya menjadi 200 juta liter kubik per tahun, menyebabkan air laut merembes ke akuifer,” imbuh Shiblak. Dengan kata lain, satu-satunya sumber air Gaza semakin tak layak diminum.

Gaza valley estuary
Muara lembah Gaza di Mediterania, yang mengalilrkan imbah dan sampah ke laut sepanjang tahun.

Tak ada listrik berarti tak ada sistem pembuangan limbah

Pada 2006, Israel membom satu-satunya pembangkit listrik di Gaza, yang menyebabkan penutupan total. Pusat pembangkit listrik di Deir al-Balah sekarang hanya dapat beroperasi setengah kapasitas. Pabrik pengolahan limbah di Gaza ditutup karena pemadaman listrik konstan, yang pada akhirnya memaksa pihak berwajib membuang air limbah belum diolah ke laut.

“Kami perlu mengalirkan air limbah tanpa kerusakan,” ujar Shiblak. “Sedangkan kami cuma punya dua pilihan. Membiarkannya bocor ke rumah terdekat, atau membuangnya ke laut tanpa diolah. Jadinya kami terpaksa mengalirkannya ke laut.”

Menurut UNEP, 70-80 persen air limbah Gaza dibuang langsung ke laut. Kementerian Kesehatan menyebutnya “salah satu penyebab pencemaran air [Gaza] paling berbahaya,” dalam laporan terbitan 2017.

1568632682456-gaz7
Tangki air hujan usang di tenggara Gaza kini menyedot air limbah, terlepas dari kedekatannya dengan daerah berpenduduk.

“Diperkirakan 50 juta meter kubik air limbah dibuang ke laut setiap tahun,” ungkap pakar lingkungan Dr Samer Abu Zer. Dia kemudian menambahkan siapa saja yang mengonsumsi air tercemar berisiko mengalami diare, penyakit hati, dan gagal ginjal. Penelitian berjudul “The Impact of Climate Change on Children’s Health: Diarrhoea in the Gaza Strip” yang ditulis Yosr Al Atrash menemukan bahwa air tanah tercemar juga merupakan penyebab utama diare pada anak-anak.


Tonton dokumenter VICE mengenai unjuk rasa berdarah warga Jalur Gaza melawan penindasan Israel:


Dr Abdullah Al Kishawi, dokter spesialis ginjal di Rumah Sakit Shifa, pernah menyampaikan kekhawatiran akan meningkatnya kasus gagal ginjal sebanyak 14 persen per tahun di Gaza.

Ditambah lagi, nelayan terus memancing di pantai dekat pembuangan limbah. Itu berarti ikan-ikan yang dimakan juga telah terkontaminasi, dan memiliki risiko kesehatan serius.

locals play on the gaza beach
Wisatawan Gaza bersantai di tempat pembuangan limbah belum diolah, yang telah menyebabkan berbagai penyakit selama beberapa tahun terakhir.

Kekurangan air, listrik dan hujan

Selain masalah politik dan ekonomi, Jalur Gaza juga menghadapi perubahan iklim. Dalam beberapa tahun terakhir, curah hujan hanya terjadi pada Januari dan Februari saja. Sumur air tanah pun terkena dampaknya. Air hujannya menetes ke jalanan dan tercampur air limbah. Banyak petani terpaksa menggunakan air payau yang dapat merusak tanaman.

Penduduk Gaza terjebak dalam lingkaran setan. Mengetahui krisis yang sedang berlangsung, sejumlah negara dan organisasi lain sudah berupaya mencegah terwujudnya prediksi tersebut dengan mendirikan 48 pabrik desalinasi kecil dan berencana mengoperasikan instalasi pengolahan limbah awal tahun depan.

Namun, segala upaya ini tentu takkan menyelesaikan masalah jika listriknya masih suka padam. Dengan begitu, penduduk Gaza harus siap menerima krisisnya berlanjut tahun depan, kecuali pasukan militer kembali membawa kehancuran sebelum itu — atau ada politikus yang akhirnya memiliki solusi efektif agar kami bisa hidup di lingkungan yang lebih layak.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE AR.

Tagged:
israel
gaza
Politik
Palestina
Perubahan Iklim
Lingkungan
Timur Tengah
Konflik Palestina-Israel
Penjajahan Palestina
Krisis Air
Enviromental extremes