Iklan
The VICE Guide to Right Now

Thailand Alami Serangan Teror Terburuk, 15 Orang Tewas di Kawasan Mayoritas Muslim

Militan di kawasan selatan Thailand ditengarai sebagai pelaku penembakan massal itu.

oleh Edoardo Liotta
08 November 2019, 4:33am

Korban tewas serangan militan di Provinsi Yala, selatan Thailand, pada 6 November 2019. Foto oleh Tuwaedaniya Meringing/AFP.

Sebanyak 15 orang tewas, sementara empat lainnya cedera parah akibat penembakan pada 5 November lalu di Provinsi Yala, kawasan selatan Thailand yang selama ini mengalami persoalan separatisme. Insiden ini merupakan serangan teror terburuk dengan korban jiwa terbanyak sepanjang sejarah Thailand. Juru bicara Angkatan Darat Thailand, saat dikonfirmasi kantor berita AFP, menduga pelakunya adalah jaringan pemberontak dari etnis minoritas muslim.

Yala, bersama Provinsi Pattani dan Narathiwat sudah berulang kali mengalami insiden kekerasan bersenjata dan peledakan bom di ruang publik. Tiga provinsi itu mayoritas penduduknya beragama Islam dan secara etnis lebih dekat dengan penduduk negara tetangga Malaysia. Karenanya, sempat muncul tuntutan warga yang teradikalisasi untuk melepaskan diri dari Thailand yang mayoritasnya beragama Buddha. Sejak 2004, diperkirakan nyaris 7.000 orang tewas akibat gerakan separatis di kawasan tersebut.

Rungrawee Chalermsripinyorat, pengamat politik Thailand, menyatakan penembakan yang terjadi dua hari lalu "memiliki corak serangan yang biasa dilakukan Barisan Revolusi Nasional," ujarnya kepada BBC. Barisan Revolusi Nasional adalah satu dari tiga kelompok separatis utama di kawasan selatan Negeri Gajah Putih.

"Walaupun sering tidak disorot dunia, tapi bisa kawasan selatan Thailand adalah lokasi salah satu konflik paling mematikan Asia Tenggara," imbuhnya.

Dalam penembakan 5 November lalu, target serangan adalah dua pos pemeriksaan militer. Beberapa militan memberondong relawan penjaga keamanan setempat, serta warga sipil yang kebetulan berada di lokasi.

"Sebanyak 12 orang tewas seketika di lokasi, dua lainnya menyusul tewas setelah dirawat di RS, dan satu lagi baru saja tewas sebelum kami menggelar konferensi pers ini," kata jurubicara Angkatan Darah Thailand Pramote Prom-in kepada media.

Selama 10 tahun terakhir, kondisi di kawasan selatan Thailand cenderung lebih kondusif kendati gerakan separatis masih aktif. Intensitas serangan teror paling parah terjadi pada 2004. Ketika itu militan biasa meledakkan kantor dan pos pemeriksaan militer, atau menyerang lokasi yang jadi simbol-simbol kenegaraan Thailand. Warga sipil sering menjadi korban, karena kebetulan berada di lokasi kejadian.

Follow Edoardo di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

Tagged:
News
Thailand
Berita
Pattaya
Terorisme
Separatis Muslim
Separatis Thailand
Konflik Selatan Thailand