Opini

Pak Eko Adalah Inspirasi Agar Indonesia 'Hepi' dan Tak Menyebalkan Jelang Pemilu

Video polisi senior Sidoarjo melempar obyek-obyek tak lazim ke papan kayu sedang viral. Teruslah melempar pak, sebab aksimu adalah katarsis dari perseteruan cebong-kampret. Pokoknya, "Mashook Pak Eko!"

oleh Ardyan M. Erlangga
25 Agustus 2018, 12:00am

Ilustrasi kehebatan Pak Eko oleh Farraz Tandjoeng.

Asal sempat membuka media sosial sesudah Idul Adha 2018, kalian pasti bakal melihat seruan bocah-bocah ataupun mendengar frasa yang membuat hati plong saat mengucapkannya. Semacam kombinasi umpatan, ekspresi kebahagiaan murni, sekaligus ucapan syukur; pendek kata, sebuah katarsis: "MASHOOK PAK EKO!"

Kalian tidak perlu tahu maknanya, kalian tidak perlu memahami siapa si Eko ini sebenarnya. Sebagaimana Gofar Hilman mempopulerkan ulang "Sekut" agar bisa dibengkokkan artinya manasuka untuk berbagai kebutuhan suasana, "Mashook Pak Eko" pun setali tiga uang. Kau, tak peduli latar budaya ataupun kelas sosialmu, bisa mengucapkannya tanpa perlu takut dituduh sebagai poser. Frasa "Mashook Pak Eko" sepenuhnya membebaskan.

Efek seperti yang saya bual-bualkan di atas bertambah sekian kali lipat ketika menyaksikan video Ajun Komisaris Polisi Eko Hari Cahyono, sosok polisi yang viral berkat aksinya melempar berbagai macam benda ke papan kayu dengan ketepatan presisi. Mulai dari pisau, gunting, sampai benda tak lazim macam sendok, gergaji, ataupun pacul.

Video di atas telah disaksikan ratusan ribu kali, dibagikan ulang oleh lebih dari 5 ribu pengguna Facebook lainnya, belum termasuk video kloningannya di Youtube. Sekilas menyaksikannya saja kalian sudah bisa menangkap alasan postingan tersebut viral. Ini adalah aksi iseng polisi mengisi waktu luang, dibalut komedi polos yang mengingatkan kita pada sifat kanak dalam diri ini. Bayangkan keputusan melakukan aksi ini yang pastinya komikal cenderung absurd, dan makin total absurdnya berkat kehadiran para suporter—bocah-bocah yang menyorakinya tiap kali sukses melempar secara akurat. "Wah, karena bisa melempar akurat pisau, gimana kalau tak coba sekalian ngelempar gunting, obeng, hingga pacul?"

Eko adalah pelatih bidang taktik kepolisian serta SAR, di Pusat Pendidikan Samapta Bhayangkara, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Atasannya mengetahui polisi yang sudah tiga dekade lebih mengabdi ini sedang viral dan justru mendukungnya. "[Eko] punya keahlian pada kualifikasi [melempar senjata]. Walaupun itu di video kelihatannya sambil bercanda, tapi sebenarnya untuk ahli seperti itu butuh latihan yang keras," kata Komisaris Besar Guritno Wibowo, sebagai Kepala Pusdik Sabhara Porong saat dihubungi awak media.

Sebagian pengguna Internet lantas mengaitkan video ini sebagai pemicu ucapan populer "Mashook Pak Eko" yang perlahan rutin digunakan dalam pentas dangdut sirkuit Pantura dan Jawa Timur (bahkan lagu yang terinspirasi ucapan itupun sudah dirilis oleh label rekaman yang dulu mengorbitkan Nella Kharisma) selama lima bulan belakangan. Sayangnya, informasi itu keliru. Pak Eko (polisi super yang hobi melempar semua benda layaknya pisau) bukan yang pertama membuat frasa tersebut viral. Terus ini Pak Eko masuk dari manaaaaa?!!!

Kalau yang dibahas adalah siapa pencetusnya, maka kehormatan itu ada pada Cak Persil, komedian kelahiran Banyuwangi, murid Kirun, yang kini namanya cukup besar di pentas-pentas seputaran Kediri. Video soal bagaimana frasa "Mashook Pak Eko" lahir bisa kalian saksikan di tautan ini (sayangnya kalian harus memahami Bahasa Jawa). *Spoiler: jangan pernah berharap dapat penjelasan memadai tentang siapa Eko sebetulnya, selain untuk itu nama dalang Tulungagung yang menjadi ide dasar seruan tersebut. Anggap saja Eko adalah dirimu, diriku, kita semua—lintas gender bahkan.

Tapi saya tidak sedang peduli sebatas pada video aksi Pak Eko (polisi) ataupun frasa yang viral dari komedian besar Kediri Raya. Harta karun terbesar yang sedang kita peroleh dari fenomena guyonan ringan yang populer ini adalah sosok Eko Hari Cahyono itu sendiri. Simaklah akun instagramnya, yang kini sudah diikuti 21 ribu follower.

Dari sana, kalian bisa melihat, viralnya video Pak Eko bukan upaya nyeleneh sekedar mendapat ketenaran limat menit di jagat maya. Pak Eko memperlakukan Instagram di luar pakem-pakem micro-influencer yang senantiasa berbagi konten "menarik+inspiratif", padahal diatur sekian rumus tertentu agar algoritma dan key performance indicators (KPI) bisa berjodoh.

Pak Eko berbagi foto atau video keseharian hidupnya. Bersama anak, istri, mencuci motor, menjalankan tugas di kantor, touring, menjepit rokok sambil minum kopi di antara gigi berlubang, serta tentu saja sembari melempar apapun ke papan target disoraki oleh bocah-bocah yang tinggal di Pusdik. Awalnya postingannya pun acak saja. Pak Eko baru mulai mengunggah konten ke instagram pada 4 Agustus 2016, sekadar mempertontonkan latihan menembak.

Tak semua videonya unik, tak semuanya foto indah. Tapi di situlah kuncinya. Jauh sebelum rutin mendapat ribuan like sekali posting, Pak Eko menggunakan Instagram sebagai platform yang sederhana: berbagai kebahagiaan yang polos. Kebahagiaan tanpa menghitung untung-rugi jumlah love dan perkembangan jumlah follower.

Bukankah banyak orang juga seperti itu? Berbagi momen bahagia lewat sosmed? Kenapa saat polisi yang melakukannya (dan kebetulan viral) jadi istimewa?

Lho memang benar. Esai ini justru ajakan bagi kita semua untuk menjadi Pak Eko yang baru.

Soalnya begini. Dalam tujuh bulan ke depan, hidup di jagat maya akan (kembali) menyebalkan. Jauh lebih menyebalkan dibanding biasanya. Ribuan akun di FB, Twitter, ataupun Instagram bakal berusaha merebut perhatianmu, mengaitkan segala hal kepada politik dalam 'p' kecil. Mereka akan sibuk menggoreng semua isu agar bisa disempalkan dalam koridor politik elektoral. Semua hal coba diringkus semata perkara Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. Kalian mungkin sudah menentukan sikap, kalian mungkin sedang bimbang, atau kalian berusaha tidak peduli dan tak percaya satu suara bisa mengubah negara ini jadi lebih baik maupun buruk.

Namun para key opinion leader media sosial itu tidak akan peduli. Mereka bekerja sesuai KPI. Tugas mereka adalah merebut perhatian, bukan mengajak kalian membicarakan substansi. Membuat kegaduhan lebih dulu, syukur-syukur mengubah persepsi kemudian. Tubir dulu, substansi belakangan kalau sempat. Kalian tidak dicerdaskan. Mau itu skandal korupsi menteri, vaksin, bencana alam, jumlah utang, semua saja bisa menjadi bahan debat.

Kalian digiring menjadi massa penggembira di pinggir ring gelap, yang ketika lampu disorotkan, ternyata kalianlah yang sedang gebuk-gebukan, sementara aktor utama berhitung posisi tawar melihat siapa yang bisa lebih banyak menggerakkan emosi warga dunia maya.

Sudah terlalu banyak contoh campur tangan akun macam ini dalam diskusi internet kita lima tahun belakangan. Tak perlu diulang lagi. Ini zaman yang mengerikan. Zaman ketika kau berusaha berpikir mandiri dan mengedepankan akal sehat, akan ada tangan anonim entah di sudut mana menyambar dan menabalkan cap 'cebong' ataupun 'kampret' padamu. Stop sudah.

Makanya, yang malah perlu digalakkan adalah gerakan mengubah (Internet) Indonesia menjadi 'Hepi' lagi. Semacam ruang bahagia sesaat dari rentetan kepedihan yang niscaya mewarnai hidup. Jangan peduli pada mereka yang akan meneriaki bahwa eskapisme model Pak Eko sebagai 'apolitis'. Tai kucing. Tertawa dan bersikap woles dalam sekian menit hidup kita yang singkat ini adalah sikap politik juga. Key Opinion Leader berhitung sesuai KPI, berpolitik dengan urat tegang kenapa kita harus diajak ikutan kalau memang tak suka?

Pak Eko kebetulan berjodoh dengan dewa algoritma. Dia menemukan resep populer. Barangkali dia akan populer diundang ke acara bincang-bincang TV. Namun seberapa lama sih popularitas trik melempar sendok atau arit ke papan kayu? Tak lama pastinya. Bahkan, setahun lagi setelah artikel ini tayang, sangat mungkin tak banyak lagi yang mengenal sosoknya.

Cuma, tolong diingat, jauh sebelum "Mashook Pak Eko" menemukan resonansinya dalam selera humor receh kita, polisi senior ini punya konsistensi yang membuatnya punya audiens setia: sekali lagi, berkat berbagi kebahagiaan. Baik itu ketika melatih anjing kepolisian, datang ke kondangan muridnya di pusdik, atau bahkan sekadar nongkrong di pos.

AKP Eko adalah bapak-bapak biasa. Dia sangat mungkin punya sejarah hidup pahit, hingga preferensi politik yang beda darimu, tapi dia sadar wajah yang dia tampilkan untuk orang lain pertama kali adalah kebahagiaan. AKP Eko bagi saya adalah perwujudan sosok 'Om Funky', lagu klasik legenda reggae Tony Q Rastafara (berupa manifesto Tony Q soal manusia Indonesia ideal) yang digambarkan lewat potongan lirik macam ini:

Om Funky, tampang keren istri satu anak dua / Bekerja keras dan jago gaul Disenangi teman kagak punya lawan Sering bikin orang tertawa...

Enggak beda-bedain warna, kulit, agama / Kaya miskin sama saja

Kau figur langka yang sedang kita cari....

Tony Q benar dan keliru sekaligus. Jika kita melihat media sosial, benar yang sekilas terlihat adalah gerombolan megalomaniak yang terlampau serius menganggap bobot opini mereka berguna bagi masa depan bangsa. Namun sosok 'Om Funky', yang mewakili sikap woles, tidak takut ketinggalan tren hanya karena semua orang sedang mengomentari satu isu, serta lebih suka gaul demi kawan-kawannya bahagia, masih ada di mana-mana. Banyak orang, dalam satu dan lain hal, sama seperti Pak Eko.

Ada jutaan manusia baik di negara ini. Mereka kadang terombang-ambing membenci presiden, mengeluhkan soal ketidakdilan, dan dipaksa senantiasa peduli pada isu "penting" yang bisa diarahkan kepada kepentingan politik elektoral. Tak mengapa. Luangkan waktu tertawa ketika kau penat dan benci melihat beranda media sosialmu.

Resapi hidup woles ala Pak Eko. Hidup yang komikal, absurd, tapi juga dilandasi empati untuk membahagiakan "penonton" di sekitarmu, mereka yang berharga bagi hidupmu, mereka yang mungkin tidak menyumbang likes atau memperbesar pengaruhmu di jagat maya.

Momen receh tulus ala AKP Eko inilah yang membuat kita bisa rehat dari kebisingan maya. Maka, teruslah melempar apapun Pak Eko. Kursi boleh, ponsel baru boleh. Apa saja deh. sebab aksimu adalah katarsis kami agar lepas dari perseteruan dangkal jelang pemilu. Sorakan kami di akhir aksimu adalah luapan lepas (sejenak) dari impitan orang-orang penting yang senantiasa berupaya memandu kami, domba-domba media sosial ini, sesuai arahan mereka.

"Mashook Pak Eko!"