Iklan
Bahan Pangan

Sepertiga Ikan yang Ditangkap Nelayan Ujungnya Malah Tidak Jadi Dimakan

Jika terus seperti sekarang, bisa-bisa dalam di masa mendatang satu benua Afrika malah harus impor ikan.

oleh Ian Burke
11 Juli 2018, 2:35am

Foto via Flickr Julia Manzerova

Dewasa ini, aktivitas penangkapan ikan berdampak buruk bagi ekonomi pangan global. Pasalnya, laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menunjukkan bahwa sekitar 35% ikan yang ditangkap untuk bahan pangan tidak pernah dikonsumsi dan terbuang percuma. Sekitar sepertiga populasi ikan di lautan ditangkap secara berlebihan. Percaya atau tidak, penangkapan berlebihan ini bisa merugikan negara berkembang yang sangat bergantung pada ikan untuk bertahan hidup.

“Sumber daya alam dari laut semakin terkuras,” kata Manuel Barange, direktur FAO untuk divisi perikanan dan akuakultur, kepada Reuters Senin kemarin. “Pemerintah harus sungguh-sungguh dalam meningkatkan kondisi perikanan kita saat ini.” Menurut Barange, apabila eksploitasi dibiarkan maka benua Afrika harus mengimpor ikannya di masa depan karena kekurangan dana, bahan pangan dan pasokan ikan.

Akar masalah ini adalah sistem pendinginan buruk yang membuat ikan mudah busuk dan manusia yang cenderung membeli ikan tapi akhirnya tidak dimasak. Selain itu, ikan-ikan kecil tidak cocok untuk dijual ke pasar dan ada spesies yang tidak layak dikonsumsi. Akibatnya, ikan-ikan yang sudah ditangkap akan dibuang.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa tingkat konsumsi ikan saat ini sangat tinggi. Manusia kini lebih banyak mengonsumsi ikan, dan pada saat bersamaan lebih dari sepertiga ikan di lautan terbuang percuma.

Akuakultur, atau budidaya ikan, juga menjadi penyebab lonjakan konsumsi ikan di dunia baru-baru ini. Namun, negara-negara yang melakukan praktik budidaya ikan tersebut tidak memiliki perundang-undangan yang mengaturnya.

Organisasi advokat seperti The Better Fish dan Love the Wild mulai mempertimbangkan budidaya ikan berkelanjutan guna mengurangi pemborosan dan dampak lingkungan dari budidaya ikan. Meskipun begitu, kita harus sadar kalau sampah makanan bukan dari ikan saja. Menurut ReFED, sampah pangan global tahunan terdiri dari sepertiga produksi pangan global. (Di Amerika, sampah makanan menyumbang sekitar $218 miliar atau Rp3 kuadriliun setiap tahun.) Sangat tidak etis membuang-buang makanan di saat masih ada lebih dari 10 persen populasi dunia yang kelaparan.