seks

Lelaki Cenderung Suka Melebih-Lebihkan Jumlah Perempuan yang Mereka Tiduri

Penelitian terbaru menyelidiki perbedaan persepsi gender mengenai pasangan seksual. Lelaki punya kecenderungan buruk membual soal seks yang menyimpan potensi masalah besar.

oleh Kimberly Lawson
30 Juli 2018, 8:06am

Foto ilustrasi oleh ALTO IMAGES via Stocksy.

Saya dulu sangat terobsesi dengan jumlah orang yang saya tiduri—seolah-olah mampu menghitung pasangan seks saya dengan satu atau dua tangan adalah semacam indikasi kualitas saya sebagai individu.

Seperti banyak perempuan, saya dapat dengan cermat mengingat berapa banyak orang yang pernah saya ajak berhubungan seks. Tetapi, menurut para peneliti seks, hal ini tidak umum untuk laki-laki. Bahkan, laki-laki sebenarnya cenderung melaporkan lebih banyak pasangan lawan jenis dalam kehidupan mereka daripada perempuan—sesuatu yang telah lama membuat bingung para peneliti karena angka-angka itu seharusnya hampir sama. Sebuah penelitian baru yang diterbitkan Journal of Sex Research adalah salah satu yang pertama untuk menyelidiki mengapa ada perbedaan gender.

Untuk analisis mereka, para peneliti melihat Survei Nasional Sikap dan Gaya Hidup Seksual, yang mencakup tanggapan lebih dari 15.000 laki-laki dan perempuan berusia 16 hingga 74 tahun di Inggris. Mendukung penelitian sebelumnya, mereka menemukan bahwa laki-laki melaporkan dua kali lebih banyak pasangan daripada perempuan: rata-rata 14 versus tujuh pasangan, masing-masing.

Salah satu penjelasan untuk kesenjangan itu, menurut penelitian, adalah bahwa laki-laki melaporkan, "jumlah pasangan seumur hidup yang ekstrem" lebih sering daripada perempuan. Dalam analisis mereka, para peneliti menemukan bahwa jumlah mitra tertinggi yang dilaporkan oleh segmen kecil pria adalah 110; bagi perempuan, hanya 50. Ketika persentasi tadi disingkirkan, kesenjangan gender menyempit.

Ada alasan lain yang menjelaskan disparitas ini. Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut menyatakan muncul perbedaan dalam strategi cara mengingat angka dari tiap gender. Laki-laki lebih mungkin daripada perempuan untuk menebak nomor pasangan seks mereka daripada benar-benar mengingat dan menghitung setiap pasangan.


Tonton dokumenter VICE mengenai satu suku di Tiongkok yang masih menerapkan matriarki, sehingga perempuan berkuasa atas semua aspek sosial:


Di antara mereka yang melaporkan antara lima hingga sembilan pasangan, sekitar seperempat laki-laki (dibandingkan dengan 15 persen perempuan) sampai pada kesimpulan itu dengan melakukan perkiraan. Dari mereka yang mengatakan bahwa mereka tidur dengan 10 atau lebih pasangan, 63 persen laki-laki (dibandingkan 52 persen perempuan) juga membuat perkiraan. Para peneliti juga menemukan bahwa perempuan lebih cenderung menghitung pasangannya.

Peneliti menawarkan penjelasan ketiga, untuk menjawab pertanyaan kenapa jumlah pasangan seks laki-laki cenderung jauh melampaui perempuan: yaitu, sikap orang-orang seputar seks dan stereotipe gender. Perempuan biasanya mengekspresikan "sikap yang jauh lebih konservatif terhadap seks bebas dan seks non-eksklusif," demikian kesimpulan salah satu penulis makalah tersebut. Permpuan cenderung tidak berpikir one night stand dapat diterima dan lebih sering berpikir bahwa seks di luar nikah selalu salah, mungkin beberapa dari jumlah mereka tidak akurat agar mereka tidak terlihat melanggar harapan masyarakat.

(Sebuah makalah 2003 meringkas peran gender dalam seksualitas seperti: Perempuan dianggap lebih "berorientasi pada hubungan," oleh karena itu mereka diharapkan untuk tidak menyetujui "seks bebas, masturbasi, dan penggunaan erotika hardcore atau softcore. Sebaliknya, seks yang sering dan awal serta perilaku seksual autoerotic lebih disetujui dan didorong secara sosial untuk laki-laki daripada bagi perempuan.")

Kirstin Mitchell adalah peneliti senior di Universitas Glasgow di Skotlandia dan penulis utama studi ini. Dia mengatakan secara luas bahwa tidak jelas mengapa laki-laki melaporkan jumlah pasangan yang ekstrem, tetapi menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki berlaku seperti ini. "Saya menduga itu karena alasan yang sama bahwa perempuan melaporkan jumlah yang lebih sedikit: ingin menyesuaikan dengan apa yang mereka anggap sebagai ideal untuk seorang laki-laki (atau perempuan)," katanya.

“Sering ada anggapan bahwa laki-laki cenderung berbohong atau melebih-lebihkan,” lanjutnya. “Sebenarnya kurang mudah mendeteksi apakah orang-orang melaporkan jumlah yang lebih rendah. Ada eksperimen dan penelitian lain yang menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengubah jawaban mereka jika mereka terpapar dengan percakapan yang mengekspresikan norma-norma konservatif atau jika mereka merasa mereka memiliki privasi ekstra. Kemudian mereka mungkin melaporkan lebih banyak mitra.”

“Saya pikir itu baik untuk menyadari bahwa stereotip ini [mengenai sikap seks laki-laki dan perempuan] masih ada,” Mitchell menambahkan, “dan mereka mempengaruhi cara kita ingin dilihat ... bahkan dalam konteks survei pribadi di mana tidak ada orang yang akan melihat apa yang kamu tulis. Tetapi, semoga [sikap tentang seks] akan terus semakin fleksibel dan orang-orang akan semakin merasa bebas untuk menjadi diri mereka sendiri dan tidak merasa seperti mereka harus mengumpulkan atau membulatkan [ketika mereka melaporkan berapa banyak orang yang telah mereka tiduri] tergantung pada jenis kelamin mereka.”

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.