Beginilah Yang Dilakukan Seorang Aktivis Golput Saat Datang ke TPS

Selain memakai kaos 'saya golput' yang bikin tetangganya terheran-heran, anak muda yang kecewa pada pemilu 2019 ini melakukan berbagai ulah lain, saat ditemui VICE di salah satu TPS Jakarta Timur.

|
17 April 2019, 8:30am

Foto oleh Adi Renaldi.

Sejak pertama kali cukup umur dan terdaftar sebagai pemilih, Adhito Harinugroho selalu menolak memakai haknya. Lelaki 33 tahun tersebut pertama kali ikut pemilu 2004. Kala itu karena tak ada calon yang dinilai pas, Adhito memilih mencoblos semua pilihan di kertas suara.

Untuk pemilu 2019, dia tak mengubah pandangan menjadi bagian dari golongan Putih atau biasa disingkat golput, sebutan bagi gerakan sipil yang menolak memakai hak suaranya. Menurut Adhito, tidak memberikan suaranya pada salah satu calon adalah pilihan politik terbaik. Tapi dia tak sabar memakai kaos putih andalannya ke Tempat Pemungutan Suara. Dengan tulisan warna hitam besar di bagian dada, sablonan di kaos itu tulisannya amat mencolok: "Saya Golput."

Dengan percaya diri pagi itu ia menuju ke TPS 178 di komplek perumahan Taman Kejaksaan, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dia memakai kemeja kotak-kotak warna merah dengan celana jins. Topi pancing hijau andalannya tersemat di kepala.

Sejenak dia memeriksa lagi apakah namanya ada di DPT yang tertempel di tembok TPS. Puluhan mata yang mengantre masuk bilik suara menatap Adhito. Beberapa kawan satu kompleknya tertawa dan sempat menanyakan apakah dia betul golput. Adhito cuek. Meski jarum jam sudah menunjuk angka 10, TPS itu masih ramai. Setidaknya masih ada 30 orang yang menunggu di luar dan di dalam TPS.

"Kayaknya enggak ada pilihan yang ideal ya di pemilu ini," kata salah seorang teman sebaya yang diajak Adhito bercengkerama. "Tapi saya tetap memilih. Pilihannya cuma itu."

“Ya memang enggak ada yang ideal," balas Adhito. "Tapi kita punya pilihan untuk enggak memilih juga."

Ia kebagian nomor urut 143. Antreannya ternyata cukup panjang dan Adhito menyempatkan diri minum kopi dan merokok sembari ngobrol dengan tetangga. "Coblosan pemilu kayak gini justru jadi ajang reuni buat saya," kata Adhito pada VICE. "Saya bisa ketemu dan ngobrol dengan teman-teman dan tetangga yang jarang bisa ketemu karena kerjaan."

Sesederhana itu alasannya datang ke TPS. Tapi di balik itu, Adhito pengin memantik diskusi. Selain kaos “Saya Golput” yang dipakainya pagi itu, ia sudah mencetak puluhan lembar stiker bertuliskan sama, yang akan ditempelkan di sekitar TPS.

"Aku sebenernya selalu ikut nyoblos," kata Adhito yang sehari-hari mengelola media alternatif Sorge Magazine. Maksudnya tentu mencoblos semua calon presiden dan anggota legislatif, sehingga surat suaranya akan dianggap tidak sah oleh petugas TPS. "Biar surat suaraku enggak disalahgunakan."

1555485798727-IMG_20190417_102009
Stiker ini dibawa Adhito ke TPS.

Tak berapa lama, panitia TPS memanggil namanya lewat pengeras suara. Tatapan mata panitia tak pernah lepas dari kaos putihnya. Adhito berjalan santai ke bilik suara. Sejenak kemudian dia memasukkan kertas-kertas suara ke dalam kotak di tengah TPS. Ia mencelupkan jari tengah ke dalam tinta biru. Tanda dia sudah sah mencoblos.

"Stiker ['Saya Golput'] tadi saya pasang di dalam bilik suara," kata Adhito terkekeh. "Surat suaranya saya coblos-coblosin aja."

Para pemilih yang secara terbuka mengaku tidak puas pada dikotomi politik nasional saat ini, menjadi kekuatan besar yang perlahan mengimbangi dua arus nasional. Jumlah mereka kian membesar. Jajak pendapat terakhir menyatakan jumlah generasi millenial dan generasi Z yang golput mencapai 30 persen—membuntuti elektabilitas Prabowo dan Jokowi.

Kekecewaan ini karena tiadanya pilihan capres selain dua nama yang ada. Sebagian aktivis golput juga memberi berbagai catatan negatif buat Jokowi selama lima tahun memimpin karena kebijakannya tidak berpihak ke isu-isu penting. Misalnya perlindungan kebebasan berekspresi, agresifnya pemakaian UU ITE untuk mengkriminalisasi warga sipil, defisit transaksi berjalan dan tingginya utang luar negeri di perekonomian, hingga tidak adanya komitmen dari petahana menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Golongan putih, alias mereka yang secara sadar tidak bersedia menggunakan hak pilihnya untuk mendukung calon presiden atau partai manapun, dalam sejarahnya di Indonesia muncul sebagai ekspresi protes dan kekecewaan. Istilah tersebut pertama kali muncul menjelang Pemilu 5 Juli 1971, yakni pada pemilu pertama era Orde Baru. Indonesia masih dikuasai sang diktator Suharto.

1555489508784-IMG_20190417_101857
Adhito pura-pura memantau daftar caleg di dapilnya, padahal dicoblos semua. Foto oleh penulis.

Karena sadar Golongan Karya sudah diatur menang, sekian aktivis dan mahasiswa mengajak masyarakat tidak usah memilih sekalian. Penolakan ini terhitung "ekstrem" terhadap manipulasi rezim kala itu. Majalah Ekspres edisi 14 Juni 1971 menyatakan golput saat itu dirancang menjadi gerakan datang ke kotak suara, lalu menusuk kertas putih di sekitar gambar calon-calon yang tertera. Jadi, yang dilakukan Adhito masih mengikuti teladan pendahulunya.

Yohanes Sulaiman, pengamat politik sekaligus dosen Universitas Jenderal Achmad Yani, merasa isu HAM menjadi faktor yang mendorong pemilih progresif pada 2019, seperti Adhito, ogah memilih.

"Selama memerintah, Jokowi terlihat tidak terlalu memperhatikan isu penegakan hak asasi manusia," kata Yohanes pada VICE. "Dia juga tidak cukup peduli pada hak kelompok agama minoritas serta komunitas LBGT."

Pada 2014 lalu, banyak pemilih progresif, termasuk anak muda, menganggap Jokowi bukan simbol politikus otoritarian. "Dia dianggap berbeda dari Prabowo yang mencerminkan pemimpin diktator ala Suharto. Sehingga muncul anggapan 'Joko Widodo adalah pendukung hak asasi manusia',' imbuh Yohanes. "Banyak orang berharap dia menjadi human rights warrior. Masalahnya, terbukti dia tidak mengambil peran tersebut."

Kelompok Golput ini sudah mulai menguat seiring dengan popularitas akun shitposting macam Nurhadi-Aldo sejak akhir 2018. Belakangan, gerakan mengampanyekan aksi tidak memilih Jokowi ataupun Prabowo menjadi lebih terorganisir, dan sangat ekspresif di media sosial. Golput turut menumpang popularitas film dokumenter Sexy Killers mengungkap hubungan kedua kubu paslon dengan industri batu bara yang merusak lingkungan.

Alghifari Aqsa, pengacara yang terlibat kampanye #SayaGolput, mengaku siap memobilisasi massa penolak Jokowi ataupun Prabowo agar melakukan gerakan sosial konkret setelah hari H pemilu.

"Akan ada agenda-agenda politik yang akan disiarkan oleh teman-teman #SayaGolput. Jadi 17 April kita anggap sebagai gong awalan kerja-kerja politik kita yang lebih besar," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Bagi Adhito, ketika politik terus berbiaya tinggi sehingga sulit diakses oleh kandidat miskin, sementara hanya orang kaya saja yang bisa menguasai perbincangan seputar politik elektoral, selama itu pula dia akan golput. Faktor ini menurutnya borok abadi dalam demokrasi di Indonesia.

"Menjadi golput adalah ikhtiar panjang," katanya. "Saya enggak yakin 2024 bakal berbeda. Golput akan terus jadi oposisi, siapapun yang menang nanti."