The VICE Guide to Right Now

Akibat Nilai Ujian Jelek, Lebih dari 20 Pelajar di India Bunuh Diri

Ada guru ikut keliru mengisi skor 0 untuk pelajar pandai, yang berakibat fatal. Tak sedikit siswa kelas 12 SMA di Negara Bagian Telangana stres, merasa mempermalukan ortu karena gagal ujian.
01 Mei 2019, 1:00am
Akibat Dinas Pendidikan Keliru Beri Nilai Ujian Akhir Jelek, 25 Pelajar di India Bunuh Diri
Pelajar SMA mengikuti ujian akhir sekolah di halama sekolah Kota Jaura, India. Foto oleh Yann Forget / Wikimedia Commons

RALAT (8/5/2019): Versi awal artikel ini memasang tajuk '25 pelajar bunuh diri akibat dinas pendidikan salah beri nilai ujian'. Dari hasil investigasi yang muncul 5 Mei lalu, Dinas Pendidikan Telangana memastikan ada 22 pelajar bunuh diri, dan tiga lainnya berusaha mengakhiri nyawanya. Tapi mereka bukan yang mengalami salah input nilai seperti diberitakan sebelumnya. Mereka bunuh diri karena nilai ujian tengah semester yang jelek. Kekeliruan ini terjadi akibat versi awal artikel belum memuat hasil investigasi dinas pendidikan setempat. VICE meminta maaf atas ketidaknyamanan ini.


Dilaporkan lebih dari 20 pelajar berusaha bunuh diri di Negara Bagian Telangana, India, akibat dinyatakan nilai ujian tengah semesternya jelek. Tragisnya sebagian nilai para pelajar yang stres berat itu anjlok karena kesalahan data Dinas Pendidikan Menengah setempat. Insiden salah nilai ujian ini dialami secara massif, dialami sekitar 328 ribu pelajar, dari total 978 ribu peserta ujian SMA negara bagian Telangana. Artinya, 33 persen pelajar kelas 12 di sana dinyatakan tak ulus ujian serentak Maret lalu, gara-gara inkompetensi lembaga pemerintah.

Kekacauan ini terjadi, justru ketika pemerintah daerah mengontrak perusahaan swasta Globarena Technologies Pvt Ltd, untuk menyediakan perangkat lunak koreksi lembar jawab pelajar. Tak lama sesudah hasil ujian diumumkan 18 Maret lalu, pemakaian software evaluasi lembar jawab menuai protes ribuan orang tua murid. Pelajar yang sehari-hari menonjol di kelas tiba-tiba saja dinyatakan nilainya tidak lulus ujian.

Saking kagetnya melihat nilai ujian yang buruk itu, ratusan pelajar depresi. Tak sedikit yang dilaporkan kabur dari rumah karena malu pada orang tuanya. Sebagian lagi menempuh langkah ekstrem dengan cara bakar diri atau gantung diri. Akibat maraknya protes dari berbagai kalangan, Menteri Utama (setara gubernur) Negara Bagian Telangana, Chandrasekhar Rao, memerintahkan penyelidikan menyeluruh demi mencari tahu apa alasan banyak nilai pelajar jeblok secara membingungkan.

Kesimpulan penyelidikan ini sangat mengejutkan. Inkompetensi tidak hanya dipicu perusahaan swasta yang salah mengoreksi lembar jawab. Banyak guru setempat rupanya belum siap memakai internet untuk input data nilai ujian pelajar, serta terbebani tanggungan lembar jawab yang harus dinilai dalam sehari. Merujuk sistem lama, tiap guru cukup mengoreksi 30 lembar jawab. Dengan adanya sistem baru, dibantu software, membuat guru harus memeriksa lebih dari 100 lembar jawaban siswa per hari.

Satu guru sudah diskors, karena terbukti silap memberi nilai 0 kepada seorang pelajar, padahal nilai ujiannya jika diperiksa manual mencapai 99—alias nyaris sempurna. Seorang guru lain di Telangana didenda 5 ribu Rupee (setara Rp1 juta), juga gara-gara ketahuan keliru memasukkan skor anak didiknya.

Tim penyelidik independen dari negara bagian mengakui keteledoran pemberian nilai terjadi di nyaris semua lini. Mulai dari tingkat sekolah, kota, sampai akhirnya ke database negara bagian. Seakan menabur garam pada luka para pelajar yang kaget karena dinyatakan tak lulus, penyelidik menuding teknologi pembaca lembar jawab komputer yang dipakai Dinas Pendidikan Menengah Telengana mengalami gangguan. Faktor ini jadi biang kerok ratusan pelajar dinyatakan absen atau tak ikut ujian, padahal mereka sudah mengumpulkan lembar jawab.

Sebagai rekanan swasta yang disewa pemerintah untuk mengoreksi lembar jawab, Globarena Technologies ikut diserang kanan-kiri. CEO-nya, VSN Raju, berusaha membela diri dari kecaman masyarakat. "Kesalahan teknis macam ini sering terjadi saban tahun saat ujian nasional. Tapi kali ini ada kesan kesalahan tersebut dipolitisasi pihak-pihak tertentu," ujarnya saat dihubungi media lokal.

Tragedi ini bukan sekadar perkara scanner gagal membaca lembar jawab siswa. Pendidikan menengah di India punya masalah serius sejak awal. Banyak sekolah, serta guru, hanya mendorong anak agar meraih nilai ujian tinggi tanpa peduli pada prosesnya. Akibatnya, skor ujian akhir dianggap menentukan nasib mereka. Bisnis bimbingan belajar menjamur, hanya mengajarkan anak cara menjawab soal, bukan mendorong anak memahami konsep yang diajarkan.

Tidak heran bila kekeliruan nilai ini berbuntut panjang, bahkan memicu bunuh diri pelajar. Sebab banyak anak SMA di India sudah dicekoki pandangan tidak akan sukses ketika nilai ujian akhir sekolahmu buruk.

Untuk mengatasi situasi yang terlanjur kacau, pemerintah setempat menjanjikan pemeriksaan ulang semua peserta ujian tahun ini. Nilai evaluasi terbaru itu yang nantinya dipakai untuk masuk dalam rapor.

Follow penulis artikel ini, Shamani Joshi, di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India