Uang Kripto

Teknologi Uang Virtual Digunakan Untuk Menyudahi Praktek Produksi Tuna Kalengan Ilegal

Lantaran teknologi yang aman dan ultra-transparan, dalam waktu dekat kita bakal bisa menyusuri perjalanan daging tuna, dari kapal penangkapan sampai ke dapur kita.
23 Januari 2018, 3:43am
via shuttersrock

Blockchain, teknologi yang bertanggung jawab atas kemunculan mata uang kripto ajaib Dogecoin dan Bananacoin, ternyata punya fungsi lain di luar urusan mata urang kripto. Ini salah satu contohnya yang agak aneh: mencegah pemancingan ikan tuna yang tak berkelanjutan.

Proyek yang diluncurkan oleh World Wildlife Fund itu menjanjikan untuk menggunakan teknologi blockchain yang ultra-transparan untuk menyusun data digital asal tuna kalengan yang bisa diakses publik. “Dengan menggunakan teknologi blockchain, dalam waktu dekat kita kita men-scan sekaleng tuna dengan aplikasi ponsel dan mengetahui kapan tuna itu ditangkap, oleh kapal mana dan dengan metode apa,” jelas WWF dalam siaran persnya,

“Konsumen nanti bisa memastikan kalau mereka memakan tuna yang ditangkap secara legal, dibiakkan secara berkelanjutan tanpa menggunakan tenaga kerja budak yang bekerja dalam kondisi tertekan.”

Perusahan penangkapan Tuna asal Fiji Seaquest adalah perusahaan pertama yang menguji coba teknologi. WWF dan inovator teknologi asal AS ConsenSys serta TraSeable membantu karyawan Seaquest mengunggah data tuna yang mereka tangkap. Data ini kelak akan bisa digunakan oleh para pembeli tuna kalengan untuk menelusuri perjalanan daging tuna di dalamnya, mulai dari saat ditangkap sampai berakhir di piring mereka. Setelah ditangkap, tuna yang ditangkap akan diberi tag RFID agar bisa lebih mudah dilacak. Begitu dipaketkan, tag RFID diganti dengan kode QR biasa.

“Dari mulai tuna diangkat ke atas kapal, teknologi blockchain merekam perjalanan daging ikan ini secara digital dan memungkinkan tiap orang dalam rantai pasokan tua menelusuri cerita ikan-ikan tersebut,” ujar CEO Seaquest Brett Haywood.

Pertanyaanya, mengapa industri perikanan harus setransparan ini? Menurut keterangan WWF, industri tuna rentan terhadap praktik ilegal yang tak ramah lingkungan. Sebagian besar masalah ini muncul akibat susahnya memonitor dan meregulasi rantai pasokan ikan.

Meski secara teori tuna bisa ditelusuri di masa lalu, catatan online dan fisik bisa dengan mudah diubah dan susah diverifikasi. Di sinilah, blockchain bisa digunakan lantaran teknologi ini aman, mudah diverifikasi dan tak bisa diubah.

Ternyata, tak cuma organisasi lingkungan hidup yang memanfaatkan teknologi blockchain—perusahaan sekelas Microsoft dan GlaxoSmithKline baru-baru ini mengumumkan kolaborasi serupa dengan ConsenSys agar bisa lebih efisien dan transparan dalam menyusuri perjalanan produk mereka.

Jadi, rasanya kita bisa optimis kalau masa depan kita bakal mengasikkan—setidak di beberapa sisi,

Follow Kat di Twitter