Iklan
FIGHT CLUB

Dampak Bila Adegan Laga Dalam Film Terjadi di Dunia Nyata

Seandainya aksi laga James Bond betul-betul terjadi di dunia nyata, maka orang itu hampir pasti lumpuh karena tulang-tulangnya retak semua.

oleh Olga Oksman
04 Juli 2017, 12:15pm

Image courtesy Focus Features

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Aktor laga sudah pasti sering babak belur. Mulai dari jatuh dari tangga, tenggelam dalam air, dicekik, meloncat keluar dari gedung yang rubuh, hingga terlempar menabrak dinding. Lucunya, di film mereka boro-boro lecet. Namun akhir-akhir ini ada usaha untuk menciptakan adegan perkelahian agar terlihat sedikit lebih realistis, agar penonton merasa lebih tegang. (Bahkan Sterling Archer, karakter kartun mata-mata, mengidap tinnitus akibat terekspos terhadap banyak suara flashbang dan tembakan senjata dalam jarak dekat.) Namun tetap saja biarpun ada peningkatan realisme, aktor laga bisa ditonjok berkali-kali, dihajar habis, dan tetap menjalani kehidupan dengan normal tanpa efek samping atau bahkan luka.

Demi mempelajari seperti apa sih versi realistis perkelahian-perkelahian semacam ini, saya ngobrol dengan Michael Kelly, seorang dokter olahraga dan penulis buku Fight Medicine, tentang konsekuensi fisik dari pergulatan. Kami menggunakan film Atomic Blonde, yang dirilis 28 Juli sebagai contoh. Di film ini, Charlize Theron banyak mendapatkan pujian akibat adegan perkelahian yang dilakukan karakternya, Lorraine, mata-mata era Perang Dingin. Di trailer film, Lorraine diperlihatkan berkelahi dengan dua musuh sekaligus secara brutal di atas anak tangga. Adegan ini mendapat banyak perhatian media karena dianggap keren. Kini, Kelly berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi apabila perkelahian macam ini benar-benar terjadi di dunia nyata.

Faktor pertama: umur. Ketika ngomongin film laga Hollywood, tidak pernah disebutkan bahwa kebanyakan aktor laga sudah bukan anak muda lagi. Setelah umur manusia melewati 35 tahun, volume otak anda akan sedikit menyusut, dan anda memiliki resiko lebih tinggi terkena Hematoma Subdural, yang terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah, akibat pukulan keras di kepala atau jatuh, jelas Kelly. Coba lihat film terakhir Daniel Craig sebagai James Bond, misalnya yang dirilis di 2015 ketika sang aktor sudah berumur 47 tahun—bukan umur yang ideal untuk menerima banyak tonjokan di kepala (ada alasan kenapa petinju profesional biasanya pensiun di umur 30an).

Selain umur, efek kumulatif dari ditonjok berkali-kali juga tidak bisa dianggap enteng. Dengan asumsi James Bond mulai bekerja sebagai mata-mata semenjak berumur 20-an akhir, dan selalu mengalami perkelahian brutal seperti di film-filmnya, seharusnya dia mengidap chronic traumatic encephalopathy (CTE), yang biasa disebut "punch drunk syndrome," jelas Kelly. Saking brutalnya CTE, beberapa dokter dan ilmuwan meminta olahraga football dan tinju agar dilarang. Pengidap CTE menunjukkan perubahan mood, seperti marah berlebihan atau paranoia, demensia, pusing-pusing dan gejala Parkinson.

Masalahnya bukan hanya seberapa sering anda dipukuli, tapi bagian tubuh mana yang menjadi korban. Dalam tinju, jelas Kelly, anda tidak diperbolehkan untuk memukul belakang kepala seseorang. Biarpun manusia normal masih bisa menerima pukulan di tulang pipi—yang biasanya menjadi sasaran dalam film-film—pukulan keras terhadap bagian belakang kepala bisa menyebabkan hematoba subdural parah, dan apabila tidak langsung ditangani bisa menyebabkan kematian. Ingat kan ada banyak adegan belakang kepala ditampol pakai botol bir dalam adegan perkelahian bar? Jangan ditiru ya.

Di umur 41 tahun, Charlize Theron juga tidak lagi berada dalam fase yang ideal untuk menerima banyak pukulan di kepala. Kelly memang memuji adegan perkelahian tersebut karena dianggap lebih realistis dari kebanyakan adegan perkelahian. Sama seperti perkelahian jalanan yang nyata, Lorraine dihajar bertubi-tubi secara cepat oleh musuh. Dalam kebanyakan perkelahian nyata, seseorang cenderung menonjok berkali-kali menggunakan tangan yang dominan, menjelaskan kenapa banyak cedera muka berada di sisi kiri wajah. Teknik berkelahi Lorraine juga dinilai sangat profesional, "Kalau anda perhatiin, tubuhnya berputar seiring dia menerima pukulan. Ini adalah teknik petinju, apabila anda mundur dari pukulan ketika sedang ditonjok, efeknya akan lebih minor," ungkap Kelly.

Namun hanya dalam hitungan detik, realisme ini hilang sudah. Lorraine terlihat tidak terpengaruh oleh banyak pukulan yang mendarat di kepalanya, bangkit dengan mudah dan terus berkelahi. Kelly mengkhawatirkan satu adegan dimana Lorraine dipukul menggunakan tas berat. Biarpun dampak dari tinju tidak terlalu parah karena dibatasi oleh tulang tangan, apabila anda dipukul menggunakan obyek keras, ceritanya beda. Pukulan sepenuh tenaga menggunakan tas ke arah kepala bisa menyebabkan anda gegar otak.

Biarpun adrenalin akan membantu Lorraine untuk menyelesaikan pertarungan, seharusnya tubuhnya goyah dan gemetaran ketika dia bangkit. "Sangat tidak realistis bahwa dia bangun dengan mudah setelah dihajar seperti itu," kata Kelly. Efek ini bisa terlihat dalam pertandingan MMA atau tinju, jelasnya, ketika seorang petarung berpengalaman menerima pukulan berat di kepala, dan gerakannya langsung terlihat kikuk. Biasanya di momen seperti inilah seorang dokter harus menghentikan perkelahian. Seharusnya, menurut Kelly, setelah ditonjok berkali-kali di kepala, seiring perkelahian berlanjut, Lorraine akan semakin kesulitan melindungi diri sendiri.

Intinya, katanya Kelly, biarpun Lorraine bisa bertahan setelah menerima pukulan keras di kepala, faktanya gegar otak bisa disebabkan oleh pukulan yang ringan. Mereka-mereka yang terlihat "bisa menerima pukulan" sejujurnya lebih beresiko daripada mereka yang langsung hilang kesadaran setelah ditonjok. "Berdasarkan pengamatan terhadap petarung selama 50 tahun terakhir, kami menemukan bahwa mereka yang menerima pukulan dan tetap sadar justru cenderung mengidap cedera yang lebih parah nantinya, dan bisa terganggu ingatannya," kata Kelly.

Di dunia nyata, pria dan wanita tangguh macam Bond dan Lorraine sudah pasti harus pensiun dini.