data

Daripada Dikasih Gratis ke Facebook, Pria Ini Jual Data Pribadinya Lewat Toko Online

“Aku baru sadar kalau selama ini aku sudah menggratiskannya dan memutuskan saatnya aku mendapatkan uangku.”
30 Mei 2018, 6:08am
Oli Frost

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Google dan Facebook adalah dua perusahaan yang paling tinggi nilai valuasinya. Sebagian besar pendapatan mereka datang dari penjualan spot iklan. Salah satu alasan dua perusahaan besar ini menguasai tiga perempat pangsa pasar iklan di Amerika Serikat adalah karena mereka memiliki data pengguna yang begitu berlimpah. Data-data inilah yang digunakan untuk menentukan target sebuah iklan dengan sangat presisi. Masalahnya, data-data tersebut tak selalu aman dari penyalahgunaan, seperti yang terjadi dalam skandal Cambridge Analytica scandal. Namun, meski terbukti menyalahgunakan data dari 87 juta penduduk AS, nilai valuasi Facebook tak terlalu banyak terpengaruh.

Nah, jika perusahaan yang koceknya tebal karena data-data kita ini tak mampu menjaganya dengan baik, kenapa kita tak sekalian saja melelangnya? Oli Frost asal London berpikir demikian. Pria berusia 26 tahun itu melelang semua data pribadi akun Facebook-nya di eBay pekan lalu.

“Ada banyak email dari berbagai perusahaan tentang GDPR, isinya bilang betapa berharga dan pentingnya data-data saya bagi mereka,” tulis Frost lewat sebuah surel. “Aku baru sadar kalau selama ini aku sudah menggratiskannya dan memutuskan saatnya aku mendapatkan uangku.”

Dalam daftar barang lelangan yang dikeluarkan eBay Sabtu lalu, Frist menawarkan semua data personalnya di Facebook dengan harga pembukaan 99 sen (Rp13,8 ribu). Data-data tersebut diperoleh dengan menggunaan tool Facebook yang memungkinkan pengguna mengunduh rekaman semua aktivitas Facebooknya. Menurut daftar barang lelangan yang dikeluarkan Forst, data-data Facebooknya mencakup “setiap like, post dan komen-komen tolol yang aku buat saat berumur 16 tahun,” foto-foto saat aku masih berponi dan mendengarkan Billy Talent,” dan “banyak lainnya seperti siapa yang aku pilih dalam pemilu, nama bosku dan di mana semua keluargaku tinggal.”

Frost bukan orang baru dalam hal bikin banyolan di internet. Dia adalah orang di belakang Lifefaker, aplikasi yang bikin hidupmu kelihatan begitu sempurna di media sosial dan Flopstarter, platform patungan untuk mewujudkan ide-ide buruk. Tetap saja, ide bahwa seorang tak kita kenal membeli fotomu pada saat berumur 16 tahun serta nama dan alamat keluargamu masih tetap bikin kita geleng-geleng kepala.

Frost sendiri mengatakan bahwa dia tak khawatir datanya akan disalahgunakan. Namun dalam postingannya, dia menolak memberikan penawar tertinggi “izin untuk mencuri identitasnya dan mendirikan pabrik sweatshop.” Kendati begitu, dia mengatakan dirinya belum banyak memikirkan apabila datanya bakal digunakan untuk melakukan pemerasan.

“Aku punya teori kalau semua penawar tertinggi itu sebetulnya ibuku yang ingin mengajarkan pelajaran penting tentang kehidupan,” ucap Frost enteng.

Screenshot daftar data-data Facebook Oli Frost yang dilelang pada 29 Mei 2018.

Saat tulisan ini dimuat, data Frost sudah menarik perhatian 43 penawar dengan tawaran paling tinggi tercatat $385 (Sekitar Rp5,3 juta). Frost mengatakan dirinya berniat menyumbang semua uang yang dia dapat kepada Electronic Frontier Foundation, organisasi nirlaba yang memperjuangkan hak-hak digital dan privasi di internet. Saat ditanya apakah penawar tertinggi akan mendapatkan sesuatu yang menarik dari datanya, dia mengatakan itu masih bisa diperdebatkan. Dia sendiri tak tahu seberapa berharganya data-data Faceboonya tersebut.

“Aku mencoba mencari artikel ini tentang hal ini di internet, tapi artikelnya kepanjangan,” aku Frost. “Makanya, sekalian saja, aku tanya warganet lewat lelang ini.”

Nah, jika kamu tipe orang yang penasaran terus dengan kehidupan orang lain di media sosial, mungkin ada baiknya kamu ikutan dalam lelang ini. Tenang, Lelangnya masih digelar sampai Jum’at depan. Selamat menawar!