Kecanduan

Olahraga Lari Bisa Jadi Cara Efektif Berhenti Merokok

Teknik baru untuk berhenti merokok ini memiliki tingkat kesuksesan lebih tinggi berdasarkan penelitian anyar.
22.2.18

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Chelsea Gumbley merokok sebungkus sehari dan merasa dia harus menghentikan kebiasaan itu. “Saya memikirkannya setiap hari, setiap saya merokok saya kepikiran untuk berhenti,” ujarnya. “Saya mencoba tidak melihat gambar-gambar paru-paru saat saya membeli rokok. Saya mikirin betapa menjijikannya dan saya benci perasaan itu. Saya tahu merokok itu buruk.”

Meski demikian, seperti perokok manapun, Gumbley kesulitan berhenti. Gumbley mencoba mengubah kebiasaan itu setidaknya 10 kali sejauh ini—yang paling lama, dia berhenti merokok selama dua tahun—namun dia tidak bisa meneruskannya. Suatu hari ibunya memberitahu soal Run to Quit, sebuah program di Running ROom, toko sepatu lari di Kanada. Program ini membantu orang-orang berhenti merokok dengan melatih mereka berlari 5 kilo. Gumbley awalnya ragu. “Saya enggak pernah suka lari, dan saya enggak mau lari. Saya aja menghindari cardio pas ngegym,” ujarnya. Namun tunangannya saat ini, Ryan Denneny, juga perokok berat dan sama-sama ingin berhenti. Jadi mereka memutuskan untuk mencoba berhenti bersama-sama.

Iklan

Running Room meluncurkan Run to Quit di tokonya di Ottawa pada musim semi 2013. Selama 10 minggu, para peserta yang juga perokok akan datang ke toko itu untuk berlatih dan berlari 5k menggunakan metode teruji Running Room di mana orang-orang menggabungkan lari dan jogging dan jalan kaki, dan pelan-pelan mengurangi durasi berjalan kaki sampai mereka bisa berlari tanpa henti. Yang membuat klinik ini berbeda dari yang lainnya adalah, peserta diminta memformulasikan sebuah rencana untuk berhenti merokok (dengan bantuan dari materi bacaan dan saran kawan) dan menetapkan tanggal berhenti total. Tujuh puluh orang melakukan program musim semi 2013, termasuk orang-orang yang memilih alternatif onlinenya.

Tak lama kemudian, Running Room menerima dana dari Public Health Agency of Canada dan bermitra dengan Canadian Cancer Society dan semakin banyak toko mulai menawarkan klinik-kliik dengan tujuan spesifik berhenti merokok. Tahun ini, 100 lokasi akan mengadakan program itu pada musim semi dan musim gugur, bersamaan dengan tiga pilihan onlin. Yang paling penting, program ini mengubah namanya menjadi Walk or Run to Quit, yang membantu menarik ketertarikan orang-orang yang awalnya jiper dengan berlari. “Ini adalah program belajar lari, jadi kita selalu mulai dengan berjalan kaki dan kami enggak mau mengesankan bahwa orang harus berlari sejauh 5K—tentu saja mereka boleh jalan saja,” ujar Bryan Smith, pengelola area Running Room. “Ini lebih soal bergerak dan menantang tingkatan kebugaran kita, bahkan jika itu hanya meningkatkan kecepatan berjalanmu.”

Iklan

Pada 2016, saat para peneliti diminta mengevaluasi Run to Quit, mereka menemukan bahwa program ini sangat berhasil dalam membantu orang-orang berhenti merokok. Penelitian mereka, diterbitkan musim panas lalu, menemukan bahwa pada evaluasi 10 minggu, 51 persen peserta belum merokok selama tujuh hari, dan pada evaluasi 6 bulan, hampir 20 persen peserta melaporkan mereka masih belum merokok. Statistik yang kedua mungkin tak tampak besar, bahkan tidak mencapai 25 persen, tapi dalam konteks percobaan berhenti merokok, ini termasuk persentase yang besar.

“Saat orang-orang mencoba berhenti merokok, tingkat kesuksesan mereka sekitar tujuh persne, jadi program ini berhasil bagi banyak orang,” ujar Carly Priebe, penulis utama penelitian dan fellow pascadoktoral di University of British Columbia’s school of kinesiology. “Dan kalau mereka tidak berhenti total, setidaknya mereka mengurangi rokok. Kami menemukan bahwa 91 persen orang yang mengikuti program ini telah mengurangi rokok.”

Aktivitas fisik dari Walk or Run to Quit memiliki komponen-komponen magis. “Olahraga itu seperti stimulan,” ujar Prieve. “Endorfin yang kita keluarkan saat berolahraga dapat menggantikan perasaan atau sensasi enak yang mungkin ditemukan dari menghisap rokok.” Terang saja, kita enggak perlu jadi perokok untuk mendapatkan manfaat endorfin, siapapun bisa giting karena olahraga, tapi karena saat mereka berhenti, perokok tidak lagi merasakan euforia dari rokok, jadi penting sekali untuk menemukan pengganti untuk sensasi tersebut.

Iklan

Kegiatan fisik juga bisa mengurangi kecanduan nikotin dan membuat proses berhenti lebih mudah dikelola. Sebuah penelitian akhir-akhir ini, diterbitkan pada British Journal of Pharmacology menemukan bahwa saat tikus-tikus dipompa dengan nikotin dan berlari di roda, mereka menunjukkan gejala sakau yang lebih rendah. “Kita tahu bahwa saat sakau, seseorang akan merasa sangat down, jadi olahraga mungkin mampu memperbaiki mood seseorang, seperti penyeimbang kimiawi,” ujar Priebe.

Denneny, yang menyelesaikan program dua tahun lalu dan belum merokok sejak itu, berkata bahwa berlari juga menjadi alat distraksi yang bagus. “Kalau saya mau merokok, saya lari aja,” ujarnya. Dia kemudian melakukan klinik 10K dan bahkan menjadi pelatih lari untuk Walk or Run to Quit tahun lalu. Kini, dia sedang berlatih untuk melakukan half-marathon dan berlari lima hari seminggu. “Hal ini sulit awalnya, namun saya rasa berlari memulai siklus yang membuat saya merasa senang dan lalu membuat saya lebih mudah untuk berhenti merokok secara permanen,” ujarnya. Gumbley sudah tidak merokok sejak dia menyelesaikan program ini dan meski dia tidak berlari secara kompetitif, dia jadi rutin berolahraga.

Beberapa orang tidak berhenti merokok selama program berlangsung atau kembali merokok setelah hiatus pendek. Setidaknya Walk or Run to Quit setidaknya membuat pesertanya rajin olahraga. “Mengetahui bahwa saya harus lari malam ini artinya saya mengurangi rokok,” ujar Anna Misheal, yang merokok sebungkus sehari sebelum mengikuti program pada musim panas lalu. Kini dia hanya merokok sekitar delapan batang sehari dan bahkan bisa tidak merokok selama berhari-hari. “Selain itu, saya juga enggak mau merokok setelahnya karena saya sudah melakukan hal yang bagus sekali untuk tubuh saya, jadi ya saya enggak mau merokok habis lari.” Penelitian juga mendukung fakta bahwa orang yang berolahraga cenderung tidak ingin merokok, dibandingkan orang yang melakukan aktivitas pasif seperti duduk.

Meski olahraga berperan dalam menjauhkan orang dari keinginan merokok, aspek dukungan sosialnya juga sangat membantu. “Berlari adalah motivator yang bagus karena kamu bisa merasakan perubahan dalam tubuhmu. Kamu jadi makin bugar dan makin susah napas kalau kamu masih merokok,” ujar Gumbley. “Tapi buat saya sih, orang-orang di kelompok ini yang sangat berharga. Kami saling berbagi tips soal bagaimana mengatasi keinginan merokok dan ngobrolin perasaan kami. Dan rasanya dimengerti dan diterima karena mereka melalui hal yang sama.”

Misheal merasa bahwa berdekatan dengan orang-orang yang dulunya atau masih jadi perokok berat (bahkan para pelatihnya mantan perokok) memberikan Walk or Run to Quit kredibilitas lebih. “Mantan perokok sangat berpengaruh karena mereka sudah melalui hal yang sama sebelumnya,” ujarnya. “Orang-orang yang mau saya berhenti enggak punya pengalaman seperti saya. Seperti, ibu saya tidak pernah merokok, dokter saya juga enggak eprnah merokok. Salah satu bagian paling keren dari Run to Quit adalah kita semua duduk di sini sebagai perokok dan rasanya menyenangkan untuk tahu bahwa saya bukan satu-satunya perokok di ruangan. Saya bukan satu-satunya yang kesulitan berhenti.” Peserta juga terhubung dengan Canada’s National Quit Smoking line, di mana staf pendukung membahas strategi untuk pemicu-pemicu spesifik tiap orang, atau yang disebut Mishael “mendengarkan saya ngomel soal berhenti.”

Bagi banyak orang, menjadi bagian sebuah kelompok dengan tujuan yang sama bisa mendorong sesama untuk mencapainya, yang merupakan alasan utama orang-orang keluar programnya. “Kami selalu terpengaruh oleh satu sama lain, bahkan kalaupun kita tidak menyadarinya. Saat kamu melihat mereka naik tangga alih-alih eskalator, tubuh kita meresponnya dengan ikut-ikutan naik tangga,” ujar Priebe. Kalau orang-orang di sekitarmu berhenti merokok, kamu juga bisa berhenti merokok.

Program-program berhenti merokok yang mendekatkan orang-orang bisa sangat membantu. Sebuah ulasan baru-baru ini soal 13 penelitian dengan hampir 4500 peserta menemukan bahwa terapi kelompok lebih manjur dibandingkan self-help. “Elemen kelompok membuatmu mendorong diri lebih jauh dan bisa dimintai pertanggungjawabannya oleh orang lain, jadi kemungkinan kita berubah,” ujar Priebe. “Banyak peserta memiliki perokok dalam lingkaran sosial mereka, jadi saya rasa memiliki lingkungan baru dan kelompok sosial baru lebih penting. Saat kamu mencoba berubah dan orang-orang di sekitarmu tidak berada di jalur yang sama, hal ini bisa jadi sulit dilakukan.”

Meski dia belum berhenti total, Misheal merasa lebih siap untuk berhenti karena Walk or Run to Quit. “Program ini membuat saya merasa bahwa berhenti merokok mungkin dan dapat dicapai, dan hal itu bisa mewujud dalam beberapa upaya, tapi ya itu gapapa,” ujarnya. “Saya akan berhenti.”