Sisi Gelap Lomba Kicau

Lomba Kicau Mania Mendorong Sebagian Spesies Burung Menuju Kepunahan

Setelah banyak varian burung kicau di Pulau Jawa terkikis nyaris habis, penggemar dan pedagang burung menyasar spesies burung dari pulau-pulau lain di Indonesia.
13.9.17
Suasana lomba kicau burung di Tuban. Foto oleh Eddy Purnomo.

Minggu sore itu di halaman belakang gedung perkantoran kawasan Mampang, Jakarta Selatan, saya mendengar riuh rendah suara kicauan burung. Nyanyian burung-burung tadi terdengar bersahut-sahutan. Padahal tak ada pepohonan rindang di sekitar gedung.

Usut punya usut, satpam gedung, Ngadimin, sedang santai menjemur koleksi burungnya. Pria 56 tahun asal Gunung Kidul, Yogyakarta tersebut biasanya tinggal di mes belakang gedung. Kebetulan dia sedang libur jaga. Sambil berkaus kutang dan menenteng rokok kretek cengkeh kesukaannya, Ngadimin mulai memandikan burung-burungnya satu per satu memakai semprotan khusus.

Iklan

"Biar enggak kangen kampung halaman mas. Di sana saban hari juga denger suara burung dari hutan," ujar Ngadimin bersemangat. "Saya udah 10 tahun belum balik kampung."

Koleksi burung Ngadimin tak terlalu mewah. Dia memelihara lima ekor burung. Dua kenari, sisanya perkutut, cucak rowo, dan murai batu. Burung-burung tersebut dikurung dalam kandang kayu sederhana dan digantung di langit-langit kanopi mes karyawan gedung.

Burung-burung tersebut dibeli Ngadimin dari sesama pehobi burung kicau. Harganya bervariasi dari mulai Rp 300 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung jenisnya. Makin indah nyanyiannya, makin tinggi harganya.

Takut dimarahi sang istri karena menghamburkan uang demi burung, Ngadimin tak kehabisan akal. Tak jarang dia menjadikan hobi tersebut sebagai bisnis. "Gaji satpam sekarang berapa sih. Kan lumayan jualan burung bisa nambah makan anak istri," kata Ngadimin. "Kalau mau, burung apa aja bisa saya cariin."

Ngadimin tak sendirian. Hobi memelihara burung adalah satu dari sekian kebiasaan masyarakat Jawa. Ada lima syarat agar seseorang disebut ksatria dalam budaya Jawa sejak berabad-abad lalu. Salah satunya spesifik disebut 'kukila', artinya adalah hobi memelihara burung. Sebab burung dianggap sebagai perlambang keindahan dan penanda status sosial mereka yang punya selera seni tinggi. Hobi memelihara burung, serta merebaknya bisnis jual beli unggas berkicau itu menyebar ke seluruh Indonesia sejak dekade 1970'an. Kegemaran pada burung kicau tak lagi didominasi etnis Jawa, menyusul kebijakan transmigrasi Presiden Suharto. Manifestasi dari kegemaran ini adalah lomba kicau burung. Lomba semacam ini bisa kita temukan di berbagai pelosok Indonesia, baik di kota-kota besar maupun kampung-kampung. Lomba kicau burung, beserta jual beli burung dengan suara paling indah, terus bertahan sampai sekarang. Uang yang berputar untuk lomba dan jual beli burung kicau bisa menyentuh miliaran Rupiah.

Iklan

Ternyata, harga yang harus dibayar untuk menikmati keindahan kicau burung dalam sangkar jauh lebih tinggi lagi. Akibat hobi yang sekilas tak berbahaya ini, beberapa jenis burung asli kepulauan nusantara terancam punah akibat perdagangan massif. Lembaga penyayang binatang Traffic dalam penelitian terbaru menyebut ada 13 spesies burung yang terancam punah, termasuk poksay hitam Sumatra (Sumatran Laughingthrush) dan ekek-geling jawa (Javan Magpie). Sebetulnya perdagangan burung kicau yang sudah dibiakkan khusus tidak terlarang. Namun karena permintaan tinggi, sebagian pedagang berbuat nakal, membayar pemburu menangkapi langsung spesies burung kicau liar di hutan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sustyo Iriyono mengatakan bahwa populasi burung kicau di alam liar memang belum terdeteksi, namun permintaan pasar yang tinggi ditengarai otoritas lingkungan cukup mengkhawatirkan.

"Belum ada riset soal populasi burung kicau. Jual-beli burung kicau seharusnya dilakukan dengan cara penangkaran, bukan menangkap dari alam," kata Sustyo.

Praktik nakal sebagian pedagang, menurut Sustyo, memicu penyelundupan burung kicau besar-besaran beberapa tahun belakangan. Kasus terakhir yang menggegerkan adalah upaya penyelundupan lebih dari 4.000 ekor burung murai yang digagalkan Kepolisian Batam Juni lalu.

Burung poksay hitam Sumatra di alam bebas. Foto dari akun cuatrok77 via Flickr.

Status perdagangan burung kicau yang semi-legal, dan punya lubang dalam aturannya, membuat upaya memberantas perburuan liar makin sulit. Berbeda dari misalnya praktik penyelundupan trenggiling, gajah, atau harimau yang jelas melanggar hukum.

Situasi ini makin mengkhawatirkan, mengingat kecintaan pada burung kicau diperkirakan tak akan surut seperti tren batu akik. Berdasarkan pencarian lewat mesin pencari Google, hampir semua situs jual-beli online punya pedagang yang menawarkan burung kicau.

Iklan

Salah satu situs jual-beli besar OLX memiliki 9.500 entri yang menjual burung. Sementara forum terbesar pehobi burung kicau Kicaumania.or.id saat ini memiliki ratusan ribu entri dengan jumlah anggota mencapai ribuan.

"Orang-orang sekarang sudah kesulitan mencari burung di pulau Jawa," kata juru kampanye LSM Pro Fauna Swasti Prawidya Mukti saat dihubungi VICE Indonesia. "Karena di Jawa ini burung-burung sudah bertahun-tahun di tangkap, orang-orang kini mulai melirik pulau-pulau lain seperti Sumatera dan Kalimantan."

Menurut perempuan yang akrab disapa Asti tersebut mengatakan dua-tiga tahun terakhir penyelundupan skala masif adalah pertanda permintaan pasar meningkat. Meski kebanyakan burung-burung tersebut tidak atau belum dalam status dilindungi, penangkapan massal di hutan-hutan rentan memicu ketidakseimbangan alam.

"Kalau dilihat dari sisi itu, hobi memelihara atau melombakan burung kicau jelas telah membikin punah beberapa jenis burung di pulau Jawa. Ditakutkan persoalan yang sama bisa terjadi di Sumatera dan Kalimantan," ujarnya.

Asti mengatakan bahwa terlepas dari statusnya yang dilindungi atau tidak, menangkap satwa di areal hutan terutama konservasi telah melanggar UU Kehutanan. Pemerintah menurutnya wajib memperkuat sistem monitoring dan pengamanan.

Meski saat ini pemerintah menganjurkan jual-beli burung kicau hanya dari penangkaran, Asti pesimis karena sistem penangkaran memakan waktu dan tenaga, belum lagi harus dikondisikan dengan siklus alami si burung. Ditakutkan ketika permintaan begitu tinggi sementara hasil penangkaran tak memadai, maka penyelundupan hanya akan bertambah marak.

Kicau burung, bagi orang seperti Ngadimin adalah obat pelipur lelah. Namun, ketika tak ada lagi spesies yang tersisa di hutan, kicau indah tadi bisa-bisa hanya akan kita nikmati lagi lewat rekaman suara.