Konflik Korea

Korsel Hentikan Taktik Memutar Lagu K-Pop di Perbatasan Untuk Provokasi Korut

Keputusan itu diambil setelah Presiden Korsel Moon Jae-in dan Diktator Korut Kim Jong-un dijadwalkan bertemu di zona demiliterisasi, membahas upaya damai yang dari dulu tertunda.
24.4.18
Prajurit Korsel membuka kain penutup pengeras suara yang dipakai untuk memprovokasi Korut di markas perbatasan Yeoncheon. Foto oleh Korea Pool-Donga/Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Militer Korea Selatan sejak Senin, awal pekan ini, mematikan seluruh pengeras suara ukuran besar di perbatasan yang biasanya memutar lagu-lagu K-pop ataupun materi propaganda agar bisa terdengar sampai Korea Utara. Provokasi ke negara tetangganya yang tertutup itu adalah kebijakan Korsel sejak dekade 1960-an. Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari setengah abad, Seoul mengambil kebijakan tak lagi mengirim materi propaganda lewat speaker besar tadi.

Iklan

Keputusan ini diambil, setelah kedua pemimpin negara sepakat bertemu membahas perjanjian damai Jumat pekan ini. Presiden Korsel Moon Jae-in akan bertemu dengan Diktator Korut Kim Jong-un di Desa Panmunjom, kawasan demiliterisasi di perbatasan kedua negara, seperti dilaporkan kantor berita Yonhap.

Sejak perang pada dekade awal 1950'an, Korut dan Korsel tidak pernah-pernah berdamai, kedua negara hanya mencanangkan gencatan senjata. Makanya dua negara di Semenanjung Korea ini senantiasa terlibat dalam adu provokasi. Termasuk memutar propaganda lewat pengeras suara. Bukan cuma Korsel yang melakukannya. Pyongyang juga memerintahkan prajurit di perbatasan balas memutar materi-materi berisi pujian terhadap pemimpin, termasuk Kim Jong-un, diarahkan ke wilayah Korsel. Korut bersedia mematikan pengeras suara tersebut supaya pembicaraan damai kedua pemimpin berlangsung lebih mulus.

Pengeras suara itu biasanya memutar drama radio, lagu pop terbaru Korsel, kritik terhadap kebijakan Pyongyang, serta iming-iming kehidupan yang lebih baik bagi warga Korut kalau mau membelot. "Kami harap kebijakan ini akan menghentikan kritik dan propaganda dari kedua belah pihak, serta mendorong terciptanya awal perdamaian yang langgeng," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel dalam keterangan tertulis.

Ini bukan kali pertama speaker propaganda dimatikan. Pada 2015, kedua negara sempat melakukannya karena ada negosiasi damai, termasuk memfasilitasi reuni keluarga yang terpisah gara-gara perang Korea yang dipengaruhi AS dan Uni Soviet dulu. Pengeras suara itu kembali dibunyikan keras-keras setelah Korut secara sepihak melanggar perjanjian, menggelar uji coba bom nuklir keempat kalinya pada Januari 2016.

Dalam negosiasi antara Presiden Korsel dan Diktator Korut, ada dua agenda utama. Pertama adalah tuntutan Korsel agar Kim Jong-un melucuti segala jenis senjata nuklir. Kedua, Pyongyang menuntut Presiden Moon Jae-in tak lagi menggelar latihan militer bersama Amerika Serikat.

Seoul akhirnya bersedia duduk di meja negosiasi dengan negara tetangganya itu, ketika Kim Jong-un dalam pidato resmi berjanji menghentikan semua jenis uji coba nuklir dan rudal. Sang diktator rezim paling tertutup sedunia itu juga berjanji akan menutup semua laboratorium penelitian nuklir agar perdamaian tercipta di Semenanjung Korea.

Meski demikian, beberapa pakar mengingatkan semua pihak agar tidak begitu saja menyepelekan Korut. Bisa saja, pidato Kim Jong-un menandakan rezim Korut sebetulnya sudah menguasai teknologi senjata nuklir dan rudal lintas benua, sehingga tidak perlu lagi melakukan penelitian.