Penculikan

Penculik di Seluruh Dunia Sekarang Ingin Tebusannya Dibayar Pakai Bitcoin

Pelaku kejahatan masa kini ternyata memanfaatkan terobosan teknologi. Kasus semacam itu terjadi di Brasil, Taiwan, dan India.
05 Juli 2017, 8:42am
Foto ilustrasi oleh Liudmyla Matviiets, 271 EAK MOTO/Shutterstock

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Setelah akhir-akhir ini terjadi serangan ransomware WannaCry dan NotPetya, para peretas semakin mempopulerkan sistem pembayaran tebusan secara online. Namun tidak hanya itu, kini para penculik tradisional pun menuntut dibayar menggunakan bitcoin.

Di awal bulan, The Indian Express melaporkan kasus dimana sebuah geng penculik meminta dibayar menggunakan bitcoin. Seiring teknologi dan kejahatan kerap saling bertemu, biarpun kadang tidak sukses, bisa dipastikan ini bukanlah satu-satunya kasus dimana penculik menuntut dibayar menggunakan mata uang digital.

Enam orang menculik seorang pedagang bernama Ashu Jain di 30 Mei, berdasarkan laporan The Indian Express. Geng penculik diduga menuntut dibayar 20 bitcoin, atau sekitar Rp694 juta menurut nilai pertukaran kurs saat ini. Deepak Sharma, seorang lulusan jurusan IT diduga menjadi dalang dibelakang skema penculikan ini.

Di awal tahun ini, penculik sengaja menargetkan seorang perempuan Brasil yang merupakan istri dari pengusaha bitcoin.Menurut sebuah laporan terjemahan yang dirilis oleh Cryptocoins News, petugas yang memimpin operasi investigasi mengatakan, "Saya berbicara dengan beberapa kolega dari berbagai penjuru Brasil dan semua mengatakan bahwa belum pernah ada kasus penculikan yang melibatkan mata uang virtual. Ini baru pertama kalinya terjadi di Brasil."

Namun ternyata operasi semacam ini sudah pernah terjadi semenjak 2015, ketika gerombolan penculik Taiwan berhasil meraup Rp20 milliar dalam bentuk mata uang digital, menurut Cointelegraph. Geng tersebut menahan Wong Yuk-kawn, pemilik dari perusahaan minyak Hong-Kong selama 38 hari. Di tahun yang sama, penculik dari Kosta Rika menargetkan seorang ekspat asal Kanadia dan menuntut tebusan puluhan ribu dollar dalam bentuk bitcoin.

Bitcoin sering salah kaprah digambarkan sebagai semacam bentuk mata uang anonim yang memberikan kriminal kesempatan untuk meraup uang tanpa terdeteksi. Ini tidak selalu benar—banyak dealer situs-situs gelap teridentifikasi akibat penggunaan bitcoin. Dan begitu tindak kejahatan mulai terjadi di dunia fisik, seperti pengiriman narkoba, maka penyidik kepolisian akan memiliki lebih banyak area yang bisa diteliti.

Pola-pola seragam terungkap dari penculikan yang menuntut pembayaran bitcoin. Untunglah dari tiga kasus penculikan bermotif bitcoin yang terjadi, aparat keamanan berhasil menahan seluruh tersangka. Dari kasus di India, polisi menangkap 6 orang, sama halnya dengan kepolisian Brasil. Di Taiwan, investigator malah menangkap 16 orang dalam komplotan penculik tersebut.

Seiring meningkatnya popularitas bitcoin, sangat mungkin para penjahat tradisional akan berusaha menggabungkan modus operandi mereka dengan upaya pencarian mata uang digital. Kita semua harus semakin waspada.