Kemajuan teknologi

Temuan Ilmiah: Orang Makin Males Cepat-Cepat Ganti Ponsel Pintar

Ini dipicu, di antaranya, oleh harga ponsel pinter makin tinggi dan kebiasaan jelek produsen ponsel pintar menambahkan fitur-fitur yang tak penting.
1.11.18
Seseorang mengecek telepon seluler
Foto via Shutterstock

Pagi ini, sejumlah awak media dan engineer menghadiri gelaran Apple hardware keynote di Brooklyn. Dalam acara itu, kami akhirnya tahu bahwa Apple akan segera meluncurkan Macbook Air terbarunya yang sudah ditunggu-tunggu publik. Seperti yang sudah diduga, varian Macbook Air baru ini masih dilengkapi keyboard Apple yang kerap bermasalah seperti pendahulunya. Jangan tanya juga tentang headphone jack. Lubang yang satu ini sepertinya bakal absen dari Macbook Air paling anyar.

Iklan

Tak satupun orang menyebut-nyebut soal Iphone hari ini. Ini bisa dipahami sebab gelaran hardware keynote khusus iPhone sudah duluan diselenggarakan September lalu. Namun, sepertinya sekarang sudah tak penting lagi fakta bahwa varian terbaru produk ponsel pintar, tablet atau laptop memiliki fitur yang lebih mumpuni dan lengkap. Pasalnya, sebuah laporan penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kini kita cenderung lebih lama menggunakan ponsel kita. Atau dengan kata lain, kita makin malas membeli gawai mobile terbaru.

Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Hyla Mobile, perusahaan tukar tambah gawai, yang hasilnya dikutip oleh Wall Street Journal, rata-rata umur ponsel yang masuk ke dalam gerai tukar tambah kini 2,92, naik dari 2.38 tahun pada 2016, dan 2.59 pada 2017, menurut Hyle Mobile.

Salah satu penyebabnya, menurut Biju Nair, CEO Hyla Mobile, karena gerai penjualan ponsel kini lebih sering menawarkan opsi cicilan ponsel lantaran harga smartphone kian hari kian mahal. Artinya, kini bila kalian beli smartphone dari gerai penjual ponsel dengan cara menyicil, pada dasarnya kalian dipinjamkan ponsel. Baru setelah cicilannya beres, ponsel itu benar-benar jadi milik kalian.

Kadang, butuh beberapa tahun untuk mengangsur ponsel pintar (apalagi jika yang dicicil adalah

iPhone XS Max yang harganya sampai Rp15,1 juta) dan begitu kewajiban mengangsur kalian kelar, nyaris tak ada insentif untuk meninggalkan investasi (baca: mengganti ponsel) kalian—terutama kalau model terbarunya memiliki spesifikasi dan performa yang tak jauh berbeda.

Ini belum ditambah upaya kelompok pembela right-to-repair menyadarkan konsumen bahwa ponsel sejatinya tak perlu cepat-cepat diganti kalau layarnya retak dan sebagainya. Alhasil, orang lebih setia dengan ponselnya lebih lama.

Cara kita memandang teknologi baru juga bergeser. Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang kultur update ponsel pintar—terutama iPhone—sebagai simbol status sosial seseorang. Fan Apple dulu mungkin bisa menebak umur iPhone dengan sekali lihat. Akan tetapi seiring makin homogennya tampilan dan jeroan ponsel pintar, perbedaan itu makin kabur. Jadi, andaikata ponsel pintarmu sudah berumur tiga tahun, siapa yang bakal tahu—dan peduli juga?

Parahnya lagi, perusahaan ponsel punya kebiasan yang menyebalkan: menambahkan fitur yang tak diperlukan atau malah dibenci pelanggannya cuma demi dibilang inovatif. Apple paling sering melakukan dosa yang satu ini. Dalam rangka menggiring pelanggannya untuk terbiasa memakai headphone wireless dengan menghilangkan jack headphone 3,5 mm mulai iPhone 7, Apple secara tak langsung memaksa penggunanya untuk membeli Airpod (atau beli adaptor khusus yang dicolok ke lubang charger.)

Semua faktor ini—ditambah ketakutan bahwa kita perlahan-perlahan merusak planet yang kita tinggali dengan sampah plastik dan elektronik serta kesadaran kita ikut andil dalam praktek usaha yang merugikan buruh pabrik ponsel‚ menabalkan rasa sayang kita kepada gawai pintar kita.