Polusi udara

Polusi Udara Lebih Signifikan Mengurangi Masa Hidup Manusia Daripada Asap Rokok

Berikut negara-negara yang warganya paling terkena dampak polusi udara amat buruk. Indonesia masuk atau enggak ya?
11.3.20
Polusi Udara Lebih Signifikan Mengurangi Masa Hidup Manusia Daripada Asap Rokok
Seorang perempuan dengan wajah tertutup masker berada di wilayah pembangkit listrik tenaga batubara di Shanxi, Cina. Foto diambil pada 26 November 2015. (Foto oleh Kevin Frayer/Getty Images)

Studi terbaru membeberkan polusi udara lebih mematikan daripada asap rokok. Bahan bakar fosil adalah pelaku utamanya.

Para ilmuwan dari Pusat Penelitian Kardiovaskular Jerman menemukan kualitas udara buruk mengurangi harapan hidup global hingga tiga tahun. Banyak dari kematian dini bisa dikaitkan dengan polusi pembakaran bahan bakar fosil. 5,5 dari 8 juta kasus kematian tahunan terkait kualitas udara buruk dapat dihindari setiap tahunnya andai saja polusi buatan manusia bisa dikurangi. Ilmuwan menemukan harapan hidup global akan meningkat sekitar satu tahun jika pembakaran bahan bakar fosil dihentikan.

Saat ini, pembakaran fosil berkontribusi besar terhadap kualitas udara buruk di seluruh dunia. Para peneliti mengkalkulasi ada 70 negara yang paling terkena dampaknya. Cina, India, dan Chad berada di urutan teratas.

“Hasil penelitian kami menunjukkan adanya “pandemi polusi udara,’” Thomas Münzel, peneliti dari Pusat Medis Universitas Johannes Gutenberg, memberi tahu France24. “Sekitar dua pertiga dari kematian dini disebabkan oleh polusi buatan manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil.”

Iklan

Diterbitkan Selasa, penelitian mereka membandingkan kematian dini yang disebabkan kualitas udara buruk dengan beberapa penyebab lain. HIV mengurangi harapan hidup global hingga delapan bulan. Kekerasan mempersingkat masa hidup sampai empat bulan. Parasit dan penyakit yang ditularkan melalui vektor menurunkan harapan hidup global hingga delapan tahun. Sementara itu, merokok mengurangi sebanyak dua tahun dua bulan.

Kualitas udara buruk memperpendek harapan hidup global kira-kira dua tahun 11 bulan.

“Pengurangan angka harapan hidup akibat polusi udara lebih tinggi daripada faktor lainnya, dan bahkan lebih tinggi dari merokok,” kata penulis Jos Lelieveld dari Max Planck Institute for Chemistry, kepada The Guardian. “Benar-benar tidak terduga.”

Tingkatnya bervariasi tergantung negaranya. Chad memiliki kualitas udara terburuk di dunia. Para peneliti memperkirakan harapan hidup di negara Afrika Tengah itu menurun hingga tujuh tahun empat bulan saking parahnya polusi udara di sana. Dengan kata lain, harapan hidup penduduk Chad berkurang tiga kali lipat daripada merokok.

Kualitas udara di Cina menurunkan harapan hidup kira-kira sampai empat tahun. Sementara itu, di India, angkanya menyentuh tiga tahun 10 bulan. Kualitas udara Jepang menurunkan harapan hidup hingga dua tahun, sebanding dengan pengurangan harapan hidup akibat merokok.

Bukan berarti menghirup udara luar lebih buruk daripada mengisap satu bungkus rokok setiap hari. Tak seperti merokok, semua orang pasti bernapas. Studi ini pun merupakan studi populasi. Para peneliti ingin menunjukkan kualitas udara buruk, yang juga dihirup non-perokok, lebih membunuh daripada merokok.

Iklan

Mereka menggunakan model baru yang mengukur dampak partikel dan polusi ozon, data tingkat paparan polutan, dan angka kematian dari 2015 untuk memperoleh temuan itu. Dari data itu, mereka memperkirakan jumlah kematian yang bisa saja disebabkan polusi udara.

Kepada The Guardian, para ilmuwan mengaku temuan mereka masih perkiraan karena hanya mengukur dua jenis polusi udara. Selain itu, sains belum cukup untuk menentukan semua masalah kesehatan yang disebabkan polusi udara.

Satu hal yang pasti, polusi udara lebih mematikan daripada yang kita kira selama ini. Banyak yang perlu dilakukan untuk menguranginya.

“Dengan menyadari polusi udara adalah risiko kesehatan utama, diharapkan semakin banyak orang bersedia menghentikan aktivitas pembakaran bahan bakar fosil — dengan manfaat lain yaitu mengurangi pemanasan iklim,” Lelieveld memberi tahu France24.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.