Travel

Tradisi Minum Kencing Unta di Yaman

Warga setempat percaya mereka sedang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW yang disebut-sebut para sahabat pernah menyarankan kencing unta sebagai pengobatan alternatif.
J
oleh JB
Tradisi minum kencing unta di Yaman
Foto oleh penulis.

Orang-orang di Semenanjung Arab sejak lama terbiasa mengonsumsi kencing unta. Bahkan, air kencing hewan berpunuk ini dijadikan sampo oleh Suku Badui yang tersebar di berbagai lokasi Timur Tengah. Mereka menggunakan urin ini untuk terapi kesehatan sejak berabad-abad lamanya. Kebiasaan ini langgeng berkat asumsi kencing unta berkhasiat. Praktiknya merupakan bagian dari tradisi Muslim setempat. Mereka berpegang pada hadis yang menyatakan Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan umatnya minum susu dan kencing unta "sampai tubuh mereka segar bugar."

Iklan

Orang Yaman termasuk yang sangat percaya kalau tradisi ini sesuai anjuran Rasulullah. Data konkret seberapa sering kencing unta dikonsumsi warga memang tidak ada, tetapi kamu gampang menemukan banyak orang yang meminumnya sebagai pengobatan di Yaman.

Tradisi minum kencing unta paling banyak ditemukan di daerah pedesaan. Ada salon kecantikan yang memanfaatkannya sebagai obat alami untuk rambut rontok. Beberapa dokter di Yaman bahkan meresepkannya juga untuk pasien mereka.

Para peneliti di negara Islam mulai menawarkan dasar ilmiah yang membuktikan khasiat kencing unta bagi kesehatan. Pada Februari 2013, sejumlah ilmuwan dari King Abdulaziz University di Jeddah, Arab Saudi, mengklaim berhasil mengekstrak zat dari kencing unta yang disebut PMF701. Zat alami ini diyakini dapat menyembuhkan kanker. Sebelumnya, sebagian peneliti di Saudi punya klaim serupa pada 2009 bahwa mereka menemukan bukti bahwa susu dan air kencing unta bisa menyembuhkan eksim dan psoriasis.

Namun, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Saudi melarang tim tersebut melakukan eksperimen lain kepada pasien. Ada banyak ilmuwan dan dokter di Saudi, ataupun negara-negara Arab lainnya, secara terang-terangan menentang praktik minum kencing unta. Kebiasaan ini dianggap tidak berkhasiat secara medis.

Beberapa dosen Sana’a University, di ibu kota Yaman, mati-matian memperingatkan masyarakat bahwa minum air kencing tidak baik untuk sistem pencernaan kita. Demikian pula Rida Al-Wakil, dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Al Azhar Mesir, menegaskan kepada surat kabar berbahasa Arab Alrai di Kuwait, bahwa iklan pengobatan hepatitis dengan air kencing unta "amat menyesatkan" dan berbahaya.

Iklan

Saya mendatangi sebuah pemukiman di dekat Ta’izz, kota terbesar ketiga di Yaman, untuk merasakan sendiri sensasi minum air kencing unta. Menurut beberapa penggembala, harga kencing unta betina perawan adalah yang paling mahal (sekitar Rp303 ribu per liter) karena rasanya lembut dan "khasiatnya" melimpah. Karena tidak ada duit, saya hanya mampu membeli air kencing unta betina yang sudah tidak perawan. Harganya setara Rp60 ribu per liter. Saya membelinya dari penggembala unta bernama Ahmed. Saya menenggaknya sekali sampai habis.

Kalian mungkin penasaran bagaimana rasanya. Air kencingnya hangat dan tidak enak sama sekali. Saya juga merasakan ada campuran susu unta di dalamnya. Jujur saja, rasanya semakin tidak karuan.

Sisa rasa pengarnya tidak kunjung hilang dari mulut sejak saya pertama kali meneguknya selama beberapa jam. Khasiatnya buat tubuh? Nihil. Saya tidak merasa lebih sehat setelah minum, tapi tidak membuat saya sakit juga, sih.

Jadi apakah saya menyarankan menjajal minum air kencing unta kalau berkunjung ke negara-negara Jazirab Arab? Tentu saja tidak. Tapi silakan saja, selama niatnya adalah pamer di Instagram atau melakoni tantangan dari teman. Asal, kalian memang siap dengan popularitas dan kemungkinan di-bully online seperti tokoh agama asal Indonesia yang juga minum kencing unta awal tahun ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Magazine