Pesta Pernikahan Tionghoa Punya Jamuan Makan Paling Top
Pernikahan

Pesta Pernikahan Tionghoa Punya Jamuan Makan Paling Top

Seorang keturunan imigran Tiongkok menceritakan ketakjubannya pada kuliner resepsi nenek moyang yang sangat kaya nuansa.
28.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES. 

Sue Chan adalah otak di balik Care of Chan, agensi komunikasi dan perhotelan di New York (meski dia lahir di Taiwan dan besar di California). Dia bercerita tentang tradisi pernikahan di keluarganya. Nenek saya memasak sendiri menu makan malam untuk pesta pernikahan orangtua saya. Kedua orangtua saya berasal dari latar belakang biasa-biasa saja, dan ketika mereka menikah, mereka tidak menginginkan pesta besar. Mereka menikah di balai kota, lalu pulang dan menyantap masakan nenek saya. Dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian, beberapa musim panas silam sepupu-sepupu saya mulai mengadakan resepsi kawinan mengundang banyak sekali tamu. Segala hal soal resepsi kawinan ini sangat merinci. Sebelumnya, kedua mempelai akan melakukan foto pranikah—mereka akan mengenakan kostum-kostum tertentu, berpose yang unyu-unyu, dan di lokasi yang heboh-heboh. Di hari pernikahan, mempelai pria harus menjalani serangkaian ujian yang dibuat oleh kawan-kawan dan keluarga mempelai wanita—seperti menulis puisi mengapa dia mencintai si perempuan, atau bernyanyi sambil melakukan push-up. Setelah itu, semua anak-anak kecil di keluarga meloncat-loncat di ranjang kedua mempelai—hal ini dianggap membawa berkat soal kesuburan.

Iklan

Lalu semua orang mulai makan dalam kelompok. Biasanya, jamuan ini berlokasi di restoran besar atau aula resepsi—tempat-tempat yang memang biasa digunakan untuk pesta pernikahan. Di sana, kita bisa melihat lautan manusia dan ratusan meja. Gila, deh. Saya berpindah-pindah tempat tinggal saat muda, dan selalu berada di tempat asing, jadi rasanya menyenangkan bisa berkumpul dengan keluarga.

Suasana selama jamuan sudah pasti terasa menegangkan, bahkan orang-orang semacam berada dalam keadaan "senggol-bacok". Bagaimana tidak, di sana ada ribuan orang, jadi ada banyak kesepakatan bisnis terjadi, dan banyak musuh bebuyutan saling bertatap muka. Karena seluruh anggota keluarga besar diundang, drama menjadi tak terelakkan. Terkadang, semuanya jadi tergantung siapa makan di meja yang mana. Hal-hal macam begitu yang amat penting di budaya Tionghoa, karena tamu adalah raja—dan jika mereka tersinggung, akan timbul masalah besar.

Karena semua keluarga diundang, tentu saja terjadi drama…

Ketika santapan dimulai, semua menu disajikan dengan gaya kekeluargaan, di meja bulat yang dapat diputar, dan biasanya akan ada sepuluh hingga dua belas menu. Ada menu-menu yang pasti dihidangkan keluarga saya, seperti ayam Hainan, babi panggang, dan ubur-ubur. Saya paling doyan ubur-ubur, disajikan dingin dengan cuka merah. Rasanya asam dan manis dan, duh, top banget lah.

Daging asap yang disajikan dingin dan sop sirip hiu juga disajikan di resepsi pernikahan Tionghoa pada umumnya. Sejujurnya, sop sirip hiu rasanya enak banget, tapi saya enggak enak bilang begitu karena pemburuan hiu adalah ilegal. Sewaktu kecil, saya sempat milih-milih makanan. Saya menolak makan segala yang lembek dan aneh seperti ubur-ubur atau pauhi. Kalau dipikir-pikir, fase itu dipengaruhi oleh kawan-kawan saya—sebagian besar menu Taiwan dianggap aneh oleh anak-anak Amerika. Ketika saya pindah ke Amerika, saya tentu saja mencoba berasimilasi dengan budaya Amerika, dan itulah salah satu alasan mendasar saya menolak makanan-makanan tersebut. Namun kini, setelah dewasa, saya sadar makanan Taiwan maknyus semua. Pada pesta resepsi ada pula bebek Peking, dan bakpao, dan mungkin juga ada lobster dan ikan utuh, dimasak dengan jahe dan daun bawang, untuk melambangkan kemakmuran. Menu lain yang selalu ada adalah mi, karena itu melambangkan umur panjang di budaya Tionghoa. Ada pula sayur-sayuran seperti bok choy dengan belut laut dan saus tiram. Bersamaan dengan menu itu, disajikan pauhi rebus dengan madu dan udang kenari—ini adalah inceran saya di resepsi-resepsi pernikahan Tionghoa. Nih ya, udang kenari itu nikmatnya surgawi. Pertama-tama, udangnya digoreng tanpa cangkang, dan dengan baluran tepung. Udang ini disajikan dengan mayonnaise, dan serpihan kacang kenari. Waktu saya kecil, saya doyan banget. Menu ini terasa amat mewah, dengan udang-udang raksasa yang terlihat seperti perhiasan di atas piring. Udang goreng kenari adalah makanan terenak di seluruh dunia.

Makanan yang tersisa, kalau ada, akan dibungkus untuk di bawa pulang. Anti membuang-buang makanan adalah salah satu khas budaya Tionghoa, jadi semua orang akan kebagian bungkusan—boleh jadi, ini adalah bagian terbaik dari sebuah resepsi pernikahan.

Acara ini adalah pengingat bahwa ini adalah budaya saya, dan mereka adalah keluarga saya. Rasanya nyaman ketika saya bisa menerima dan menghargai hal itu. Mungkin sewaktu saya masih sekolah dulu, saya tidak begini. Saya adalah satu-satunya keturunan Asia di pertemanan—dulu saya sempat berpikir dan berperilaku laiknya orang putih. Saya mengucilkan budaya Asia termasuk makanannya… tapi menghadiri resepsi-resepsi pernikahan Tionghoa membantu saya menghargai budaya Tionghoa. Menyantap makanan enak dikelilingi oleh orang-orang terkasih dari latar belakang budaya yang sama. Resepsi pernikahan Tionghoa adalah perayaan cinta, tempat berkumpulnya sanak saudara.

Menu terakhir yang disajikan adalah sop kacang merah dengan bola ketan tangyuan. Kali pertama saya mencoba sop ini sewaktu kecil, di salah satu resepsi Tionghoa besar, dan saya jatuh cinta—bola ketannya melambangkan manisnya kehidupan.