kopi dan tradisi

Kopi Sumatra Terasa Lebih Enak Jika Dibuat Seorang Dukun Lho

Tetanggaku selama tinggal di Sumatra adalah seorang dukun yang sering kesurupan ketika kami sedang asyik minum kopi bersama.
20.12.18
kopi
Foto via Flickr akunrichardaustin

Ete Kenti masih pakai baju tidur ketika membuatkanku kopi. Dia terbiasa bangun sangat pagi untuk salat Subuh. Selesai bersembahyang, Ete Kenti bergegas membuka warung di depan rumahnya. Dia tinggal di atas bukit yang menghadap hutan kecil penuh pohon pisang dan kopi.

Warungnya digunakan untuk jualan rokok, kopi, permen, dan deterjen sachet, bukan untuk menawarkan jasa dukunnya. Aku sering mampir dan duduk di belakang warungnya. Dia akan merebus air dan menyalakan TV. Setelah itu, Ete Kenti akan membawakan kopiku. Aku menyeruput kopi, sementara dia kembali dalam kesibukannya. Dia menyalakan tungku arang dan meletakkan wajan penyok di atasnya. Ete Kenti mulai menggoreng bawang dan cabai untuk membuat kari. Kami asyik ngegosip dan nonton sinetron sembari dia masak.

Iklan

Dia baru menjadi dukun kalau dibutuhkan saja. Banyak orang menggunakan jasanya untuk menyembuhkan penyakit, membaca masa depan, atau sekadar mendapat saran darinya. Dia akan komat-kamit membacakan sesuatu, dan tubuhnya seketika dirasuki roh leluhur. Badannya berguncang hebat dan matanya menjadi putih semua. Suaranya pun berubah serak.

Aku berobat dengannya ketika sikuku bergeser sehabis jatuh dari motor. Dia kerasukan dan mengurut lenganku dengan air.

Kadang, roh leluhur laki-laki merasuki tubuhnya tanpa diundang pas larut malam. Dia nongkrong sambil merokok di belakang warung tanpa habisnya.

Perempuan di Sumatra Barat tidak merokok, tapi mereka minum kopi. Faktanya, kopi menjadi pemersatu Indonesia yang terdiri dari berbagai kepulauan, bahasa, kepercayaan dan masakan.

Kopinya lezat banget. Tak seperti Kenya yang kopi enaknya selalu diekspor ke luar negeri, dan para penduduk harus minum kopi bungkusan Nescafe, Indonesia memiliki beragam kopi yang lembut, kental, beraroma dan sangat terasa kacangnya.

Para petani kopi memanen, memfermentasi, dan memanggang biji kopinya sendiri. Setelah itu, biji kopinya akan ditumbuk halus dan dijual ke pasaran. Cara Ete Kenti membuat kopi sama seperti orang Indonesia kebanyakan. Dia akan menyendokkan kopi bubuk ke gelas, lalu menambahkan satu sendok gula supaya lebih manis. Setelah itu, dia menuangkan air panas dan menyajikannya dengan piring kecil.

Coffee by Becca Gluckstein

Foto oleh Becca Gluckstein.

Kopinya diaduk dan didiamkan sampai ampasnya mengendap di bawah. Orang lalu menuangkan kopinya ke piring kecil sebelum menyeruputnya. Yang tersisa di gelas hanya ampasnya saja.

Apabila kamu naik bus dari Aceh, kamu bisa mencicipi kopi ganja—lebih mantap lagi kalau sebelumnya kamu makan gulai kambing rebusan ganja.

Iklan

Di Danau Toba, yang mayoritas penduduknya orang Kristen, kalian bisa minum kopi di Minggu pagi sambil ditemani lantunan nyanyian pujian.

Lalu kalian akan tiba di Sumatra Barat, tempatku menikmati kopi buatan Ete Kenti di pagi hari. Di sini, kalian berjumpa dengan masyarakat Muslim matriarki. Kalian bisa berkumpul bersama mereka di aula sambil minum kopi di tengah malam. Kepulan asap rokok cengkeh memperkuat suasana hangat warga yang memberikan secarik puisi kepada penyanyi yang akan mendendangkannya.

Setelah makan ikan bakar, enaknya minum kopi sambil bersantai di pantai dan memandang ke arah Gunung Krakatau. Apabila sedang main ke Jakarta, kalian bisa minum kopi Starbucks atau mencoba STMJ (Susu Telur Madu Jahe).

Kalian harus sedikit bersabar kalau mengunjungi pulau Jawa. Orang Jawa terkenal dengan kesopanannya. Mereka pasti menghidangkan kue dengan kopi atau teh manis untuk tamunya. Tapi, ingat! Jangan ambil sebelum ditawarin. Kalian harus menunggu sampai tuan rumahnya minum dulu.

Orang Jawa suka ramah-tamah, jadi minumnya bakalan lama. Bisa sampai berjam-jam malah.

Sementara di Indonesia Timur seperti Bali dan Flores, yang pulaunya terpisah dengan selat, kopi disajikan di gelas kecil.

Apabila melakukan perjalanan malam dengan bus, kalian akan berhenti beberapa kali untuk buang air kecil, merokok, makan dan minum kopi.

Kopi Indonesia tetap kaya rasa dan lezat meskipun sudah menjadi bubuk. Sebenarnya kita bisa saja menemukan Starbucks di mal-mal Jawa dan Bali, tapi untuk apa minum di sana kalau kopi Nusantara saja rasanya sudah tak tertandingi?

Jika ingin mencoba yang beda, tak ada salahnya minum kopi luwak. Biji kopinya berasal dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Harganya yang tinggi membuat binatang ini dijejalkan ke dalam kandang kecil dan dipaksa memakan biji kopi sebanyak mungkin. Hal ini jelas mengkhawatirkan pegiat hak hewan dan pecinta kopi luwak, yang menganggap luwak seharusnya memilih biji kopinya sendiri.

Aku pribadi, sih, lebih suka kopi Ete Kenti. Aku yang hanya pendatang di Sumatra Barat merasa seperti di rumah berkat Ete Kenti, roh leluhur dan kopi hangat buatannya.