Jomblo

Kami Membahas Rencana Kartu Jakarta Jomblo Bersama Pengguna Tinder

Gagasan Wakil Gubernur DKI terpilih itu direspons "hangat" oleh anak muda yang selama ini sudah berjuang secara swadaya memperoleh jodohnya masing-masing.
8.5.17

Janji politikus yang muluk-muluk rasanya setua sejarah kampanye pertama di muka bumi ini. Seandainya kita punya mesin waktu, coba kembali ke masa Yunani Kuno, masyarakat yang konon pertama kali menerapkan sistem demokrasi dan pemilu seperti kita kenal sekarang. Saya yakin pasti ada saja calon pejabat yang membuat janji aneh-aneh agar terpilih. "Tiap musisi akan dapat harpa, guru sekelas Plato untuk setiap ruang kelas, dan semua alun-alun akan dapat patung perunggu cowok telanjang." Kira-kira begitulah.

Iklan

Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih, Sandiaga Uno, memberi janji yang kurang lebih sama muluknya seperti contoh di atas. Dia hendak memastikan semua jomblo di Ibu Kota bisa memperoleh pasangan. Yap, kalian pasti sudah baca beritanya sejak sepekan terakhir. Sandi, demikian sapaannya, ingin mengentaskan lelaki dan perempuan yang memilih single dari kesendirian. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menghamburkan anggaran pemerintah. Sandi mengusulkan adanya Kartu Jomblo Jakarta.

Wacana Kartu Jakarta Jomblo ternyata bukan main-main. Awalnya banyak kalangan menilai Sandiaga Uno cuma bergurau terkait ucapannya yang akan "memastikan tiap individu di DKI Jakarta tidak lagi sendirian". Ternyata mereka serius!

Idenya begini: kartu ini berlaku selama 6 bulan khusus bagi para single (saya pribadi tidak suka menyebut mereka jomblo). Apakah Pemprov kini menyambi fungsi menjadi biro jodoh?

Sandiaga mikirnya begitu. Pemprov akan didorong memfasilitasi orang yang belum memiliki pasangan untuk melakukan perkenalan lewat jalur ta'aruf masal (sesi perkenalan lawan jenis sesuai anjuran Islam) di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA). Selain itu, melalui program Kartu Jakarta Jomblo, lelaki dan perempuan single akan diberi kemudahan mengakses kredit rumah dan akses pada lapangan pekerjaan melalui program ekonomi andalan pasangan ini, yaitu OK-OCE. Kartu Jomblo, menurut Sandi, akan bisa disandingkan dengan program penyediaan rumah tanpa uang muka yang jadi andalan saat kampanyenya.

Iklan

"[Single] nantinya bisa menyiapkan lapangan kerja yang baik. Karena begitu mereka memiliki penghasilan, calon mertua itu akan jauh lebih membuka sebuah impresi yang positif terhadap calon mantunya." kata Sandiaga kepada Kompas.com. "Rumah DP 0 itu juga memastikan para calon menantu akan PD (percaya diri) menghadapi calon mertua karena 'ternyata saya punya rumah lho'. Jadi ngelamar anaknya itu sudah dengan tingkat kepedean karena punya rumah tinggal. Ketimbang di 'pondok mertua indah."

Usulan Sandi disambut negatif oleh pengamat kebijakan publik Agus Pambagio. "Itu kehidupan privat kok diatur negara, menurut saya itu kebijakan yang tidak jelas tidak mutu, kartunya buat apa?" kata Agus saat diwawancarai BBC Indonesia. "Menurut saya [Sandi] kurang kerjaan, harusnya bagaimana membuat Jakarta menjadi lebih baik."

Sandiaga Uno beralasan rogram Jakarta Jomblo perlu dilakukan demi mencegah menurunnya populasi yang menurun dengan berkaca pada kondisi Singapura yang kekurangan penduduk. Dampaknya negara kota itu saban tahun harus 'mengimpor' 3-4 ribu imigran dari negara lain untuk membantu penyelesaian masalah ketenagakerjaan dan penuaan demografi.

Sandi tampaknya meyakini Jakarta sedang mengalami ancaman kekurangan penduduk seperti Singapura. Benarkah demikian? Data-data valid menunjukkan indikasi sebaliknya. Tingkat kelahiran di Ibu Kota—dengan koefisien 2,3 per perempuan—memang lebih rendah daripada kota-kota lain Indonesia yang mencapai 2,6. Tapi angka Jakarta masih lebih tinggi dari target ideal BKKBN yang mematok agar angka kelahiran terjaga di koefisien 2.0. Mengingat Jakarta juga wilayah paling padat penduduk se-Indonesia, kok akal sehat bilang berkurangnya bayi yang lahir di kota ini dampaknya di masa mendatang lebih baik ya?

Iklan

Apapun itu, jomblo bagi sebagian orang mungkin dipandang sebagai masalah. Okelah. Berarti tetap perlu ada solusi. Tapi daripada kartu semacam itu, kenapa tidak sekalian saja ada aplikasi berbasis smartphone yang bisa membantu lelaki atau perempuan single saling mengenal. Seandainya ada, saya sih berharap cara pakainya mudah, lalu ada profil dan juga lokasi sehingga memudahkan orang untuk kencan. Sudah adakah aplikasi semacam itu? Ya ampun, ternyata ada. Namanya Tinder. Wow. :P

Daripada pusing sendirian memikirkan tujuan Kartu Jomblo Jakarta, lebih baik saya main Tinder saja. Saya ingin tahu pandangan para lajang yang selama ini secara swadaya mencari jodoh lewat smartphone , tentang ikut sertanya negara mengurus asmara anak muda. Saya mengajak ngobrol empat orang yang 'matched' dengan saya di Tinder, membahas esensi Kartu Jakarta Jomblo bersama-sama. Mungkin inilah yang bisa kita sebut kencan berkualitas.

VK, 28, Jakarta

VICE Indonesia: Hey
VK: Halo. Boleh tanya-tanya engga?
Boleh. Kamu penulis ya? Iya, aku sebenarnya wartawan.
haha. Menurut lo apakah program Kartu Jakarta Jomblo esensial?
Jomblo berobat gratis, Jomblo dikasih fasilitas kalo patah hati dikasih masuk bar gratis. Lebih baik kartunya dikasi buat orang yang membutuhkan sih. Jangan ke jomblo. Mending buat kaum pengangguran, kaum tidak mampu, kaum yang penghasilannya dibawah UMR. Atau misal anggaran ke kartu jomblo itu dimaksimalkan di KJP Plus. Atau mungkin bisa di alokasikan ke tempat lain.

Adanya kartu jomblo gini, apakah memperkuat anggapan kalau single itu "aib"?
Nah itu yang salah. Single itu kan tergantung persepsi dan sudut pandang. Single kan bukan artian belum punya pasangan. Jadi single ga harus jadi manja yang harus dikasihani negara. Single punya harga diri juga sih. Kalo mau ngasih benefit sih jangan sampe beda-bedain status.

Iklan

Jadi adanya program ginian bikin single seakan ga punya harga diri? Hahahaha
Wkwwk, kalo menurut gue sih iya. Single itu bukan kaum kelas dua.

Program-program pemerintah terkait "perjombloan" dan "pencarian jodoh" sudah banyak nih. Sebelumnya Wali Kota Ridwan Kamil di Bandung bikin Taman Jomblo. Buat lo, apa hal-hal terkait ginian bisa menarik anak muda?
Kalo menurut gue itu cuma bagian dari promosi diri. Segmentasi pemilih (muda) dalam pilkada itu kan banyak. Nah gimana caranya para kandidat calon kepala daerah ini buat dapet perhatian mereka sih.

Menurut lo wajar engga sih urusan cari jodoh sampai diatur sama pemerintah/negara?
Kalo ditanya wajar atau engganya bingung juga sih. Kalo idenya mungkin bagus, membantu mencarikan jodoh. Tapi itu kan kembali lagi ke individu. Kan ada orang yang engga suka dijodohin. Pemerintah membukakan jalan itu masih make sense. Tapi kalo udah masuk ke ranah pribadi perorangan baru udah ga masuk akal. Misal kalo udah minta data diri sampai ke riwayat hidup ahaha. Itu udah ga masuk akal. Kalo mau justru memfasilitasi para single untuk menikah. Misal contoh Pemerintah akan membayar biaya pernikahan dengan standar mereka bagi orang-orang yang mau nikah Tapi ada syarat bagi orang-orang yang dimaksud. Itu bagus programnya.

Gopas Devando Simarmata, 28, Jakarta

Gopas: Hello Arzia! Thank you for swiping right on my profile! :) VICE Indonesia: Hey You.
Greetings from your friend 'GO-JEK'. :D [It's a joke because his name is Gopas, like GO-JEK, get it?] Gue lagu wawancara mau bikin Q&A gitu soal kartu Jakarta Jomblo. Pernah denger ga?
Gopas: Gue taunya dari Facebook. Sandiaga Uno kan yang pengen banget diwujudkan, yang RPTRA mau dijadikan tempat berkumpulnya para jomblo.

Gue mau tanya pendapat lo soal Kartu Jakarta jomblo. Lo setuju engga sama program kayak gitu?
1. Gue ga setuju.
2. Program nya bagi-bagi duit untuk orang yang katanya 'jomblo'. Bayangin aja, semua orang akan ngaku-ngaku jomblo. Di KTP mana ada status: jomblo. Terlalu banyak, meskipun rencananya, 6 bulan pelaksanaan. Wasting banget. Kalau mau tujuannya menyatukan kembali silaturahim, mending buka Balai kota 24 jam, dengerin curhatan masyarakat, langsung beri tindak lanjut, atau kalau ahok pernah bangun masjid, giliran Anies-Sandi bangun gereja, pura, kelenteng, dan program-program menyatukan.
3. Dari statementnya sih cuma 6 bulan. Ga esensial, meski programnya diperpanjang sekalipun.

Iklan

Menurut lo, wajar gak sih urusan cari pasangan aja sampai diatur sama pemerintah?
Akan penting kalau dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk menurun, seperti di Jepang atau Korea. Wajar dalam kondisi tertentu. Tapi tidak wajar untuk Indonesia /Jakarta saat ini. :D

Lajang di Indonesia bayar pajak lebih tinggi daripada yang married, terus jaminan kesehatan, gaji, dll lebih gede. Menurut lo gimana?
Gue orangnya termasuk yang lumayan cuek sama hidup orang yang married. So, gue gak bisa bandingin gue sama yang married dalam membayar pajak atau asuransi. Nyatanya gimana sih? Emang iya ya kalau single lebih gede dalam pajak atau asuransi dibandingkan ama yang married? Kalau iya, gue sih sedih. Gue bakalan merasa, "pantesan tabungan gue untuk married makin susah". Oke, barusan gue tanya bos gue, iya single lebih gede. Anjir, gue merasa lagi menikah sama negara.

P, 28, Jakarta

VICE Indonesia: Gue mau nanya pendapat soal Kartu Jakarta Jomblo menurut lo gimana?
P: Menurut gue lelucon.

Kenapa?
Urusan mencari pasangan sedari dulu diserahkan pada pribadi masing-masing. Kalau mencari pasangan saja sudah diatur secara politis (turunan program OK-OCE) ya menurut gue itu lelucon. Nanti kedepan bisa muncul pengaturan agama bagi anak yang baru lahir. Atau Pengaturan-peraturan lain yg bukan ranah dari pemerintahan. Sebaiknya fokus saja sama program yg jelas membangun daerah, birokrasi, sarana prasarana. Dalam UUD 45 telah ditegaskan masyarakat lebih membutuhkan lapangan pekerjaan, pendidikan, pekerjaan, jaminan sosial dsb.

Iklan

Menurut lo kartu jomblo ini munculin kesan, seakan-akan being single tuh aib dan perlu dikasihanin?
Gue rasa enggak ada korelasi nya ke situ. Itu cuma program semata. Lo sendiri emang mau ikut program itu? Haha

Maksud gue dalam artian mereka bikin program buat single, seakan-akan single adalah kaum yang paling butuh atensi? Seakan-akan semua harus dipastikan punya pasanga, seakan-akan being single itu bukan pilihan individu?
Bukan… Mereka memang kehabisan ide program kampanye

Buat lo pernah ngerasa ada hal-hal yg mendiskriminasi orang-orang berstatus single gak dibandingkan mereka yg sudah married?
Gue rasa ngga ada kok. Yang merasa terdiskriminasikan ya hanya yg merasa aja. Gw single ga merasa ada pembedaan kok.

Rico, 22, Jakarta

VICE Indonesia: Menurut lo wajarkah hal cari jodoh diatur sama pemerintah/negara?
Rico: Kalo diatur ga wajar cuma kalau dikasih wadah gitu gapapa sih, tergantung warganya juga lagi kan mau pakai atau enggaknya.

Kalo menurut lo program kartu Jakarta jomblo gimana?
Engga kreatif, programnya ga ngaruh sama persoalan sebenernya di Jakarta.

Kalo beneran dikeluarin lo bakal ikut ga?
Ga lah haha ga ada yang lebih malu dari ngikut program gitu. Padahal maen Tinder. Ironis ya. (hahahaha).

Berarti kebijakan ini masuk kategori single shaming kah menurut lo?
Tapi kan sama juga wadah, cuma mungkin lebih private ya. Masuk sih, kayanya kita gabisa ngapa-ngapain gitu soal kejombloan. Betul kesannya dipaksain gitu, ga natural.