FYI.

This story is over 5 years old.

Musik

Wajah-Wajah di Balik Bangkitnya Scene EDM di Cina

Mengejar kesuksesan di sebuah negara komunis di mana facebook dan soundcloud di-block bukan perkara enteng. Namun beberapa orang tak mau menyerah.
15.6.16
Foto-foto oleh Vitaly Tyuk

Artikel ini pertama kali diterbitkan di THUMP Netherlands.

Menjadikan DJ musik elektonik dan produser sebagai sandaran hidup bukan perkara gampang di Cina, mengingat kesempatan membeli musik impor baru legal selama 10 tahun ke belakang. Belum lagi, pemerintah Cina masih mengawasi scene musik dengan ketat. Saking ketatnya, jika ingin membuat gig formal di sana, anda harus siap-siap repot mengirim seluruh set-list ke Kementrian Kebudayaan setempat untuk sekadar persetujuan. Robin Leembruggen, expratriat berusia 23 tahun dari Belanda, paham sekali tentang hal ini. Ia sudah kenyang mengakali segala tetek bengek menyebalkan dari birokrasi scene music Cina guna mempromosikan talent-talent lokal yang menjanjikan.

Iklan

Semua bermula ketika tempat Leemburggen bekerja, promotor Belanda bernama Art Of Dance, mengirimnya ke Beijing dua tahun lalu untuk membantu memasukkan DJ-DJ Rropa ke pasar dance music Cina yang tengah berkembang. Leembruggen segara sadar tugasnya tak enteng sama sekali. Situs-situs yang kerap digunakan sebagai media berbagi musik macam Soundcloud, Google, Facebook, Instagram dan Twitter semua diblok di Cina. Bahkan, superstar macam Martin Garrix pun kewalahan mancapai penggemarnya di negeri tirai bambu sana. Sadar akan hal ini, Robin akhirnya memutuskan untuk bekerja dengan talent lokal saja.

Ini yang akhirnya membawa Leembruggen to Shanghai. Di sana dia bertemu produser muda penuh bakat Wang Lowen. Di bawah pseudonim Dexter King, Lowen telah berhasil mengukir namanya sendiri di Shanghai dan menjadi bagian dari kolektif undeground Mad Panda. Kelak Leembruggen banyak membantu menjalankan kolekif ini. Beranggotakan musisi kamar muda belia, Mad Panda mempromosikan musiknya lewat media sosial legal di Cina macam WeChat, Weibo dan Xiami.

Sejak saat itu, semua bergerak lebih sangat cepat bagi Leembruggen dan banyak produser/DJs yang terhubung dengannya. Tahun lalu, Leembruggen membawa Longwen dalam sebuah tur yang menyambangi banyak kota besar di Cina. Salah satu anggota kolektif yang dia jalankan lainnya, Chace, akan manggung di Tomorrowland di Belgia tahun ini. Guna tahu lebih banyak bagaimana kru yang berisi artis muda yang lapar manggung ini mempersiapkan diri, kami mengunjungi mereka di studio kamar mereka di Cina mendengar seluk beluk cerita masing-masing, bagaimana mereka sampai ke titik ini.

Dexter King (27)

Dexter King: Saya dan pacar saya sudah tinggal di apartemen di Shanghai selama 3 tahun. Namun, sejatinya, saya tumbuh besar di utara Cina. Di sana, saya punya teman dekat yang punya usaha toko CD ilegal. Aparat di Cina memang diinstrusikan untuk menghancurkan CD-CD ilegal dengan membolongi CD-CD tertentu menggunakan bor. Untungnya, mereka kerap bikin salah, jadi sebenarnya CD-CD yang mereka bor itu masih bisa dimainkan. Malah, biar CD-nya bisa jalan, kami harus bikin lubang lain. Dengan cara inilah saya bisa dapat banyak album.

Ketika beranjak remaja, uang yang saya miliki banyak amblas di toko-toko CD ilegal. Kalau ga salah, album yang pertama saya beli adalah album The Backstreet Boys dan Lionell Richie. Lalu, saya mendengarkan Hip-Hop. Sejak pertama kali mendengarnya, saya langsung kecantol. Saya tak punya tempat yang cukup untuk menaruh semua CD ini di apartemenku. Tapi, di dalam tas yang saya bawa, ada Wu-Tang Clan, Eminem dan Tupac. Dulu, Beli-beli album macam ini sebenarnya ilegal tapi ya ga berbahaya banget juga. Tak ada satupun orang di pemerintahan yang peduli.

Iklan

Saya pertama kali menyentuh CDJ-Player di 2008, gara-gara didorong seorang teman yang punya bar untuk mencobanya. Awalnya saya susah beradaptasi—maklum biasanya pakai pemutar piringan hitam—jadi saya pikir bakal ada semacam jarum gitu. Malam itu, show saya sukses dan saya bisa dapat pendapatan dari nge-DJ. Saya masih ingat betapa bahagianya saya malam itu. Rasanya ya sama seperti ketika saya dengerin artis macam Avicii dann Don Diablo. Pas pertama kali nyetel "Wake Me Up," saya mewek.

Saya berusaha mencampur semua influence saya ke dalam musik yang saya buat, contohnya remix "Baby I Got Your Money" dari Old Dirty Bastard dan Kelis. Selalu ada aspek hiphop yang dulu saya mainkan pas remaja. Ada juga elemen EDM ala Avicii dan, kalau anda mendengarkannya secara seksama, anda bisa dengar suara instrumen musik Cina. Ah, apa ya itu namanya? Oh, kecapi Cina! Saya sih jujur ga bisa maininnya. Tapi kan ada Ableton. Beres perkara!

Tsunano (23)

Tsunano: Saya lahir di Taiwan, yang ketika saya tumbuh dewasa masih jadi musuh Cina. Jadi ya, semua orang di sekeliling saya benci Cina daratan. Orang-orang juga nyepelein saya karena saya payah dalam matematika. Semua orang Taiwan memang menganggap matematika pelajaran paling penting di sekolah.

Saya tidak lanjut ke SMA. Sederhana saja sih, nilai-nilai saya tak cukup. Saya masih ingat dulu guru saya sampai manggil ayah cuma buat bilang saya tak becus di pelajaran matematika. Ayah diam saja. Dalam hati saya mikir: apa gunanya saya kalau tak becus matematika?

Iklan

Keluarga kami pindah ke Shanghai beberapa tahun lalu. Orang tua saya ingin mencoba usaha keluarga di sini. Mereka kerja melulu. Malah, sekarang nih mereka lagi dalam business trip. Mereka masih ngarep kalau nanti saya bakal mewarisi usaha mereka.

Saya masih ingatpertengkaran saya dengan orang tua gara-gara musik. Orang tua saya tak setuju saya beli Turntable. Jadi ya saya meminjam uang buat beli turntable. Mereka marah bukan kepalang. Turntable itu tak boleh ada di kamarku. Lalu, saya sering beli album yang bahkan ga bakal saya putar. Saya cuma suka cover art-nya tok.

Saya pertama kali keranjingan reggae setelah pindah ke Cina. Malah, sempat beberapa kali saya main di pesta reggae. Influece reggae juga masih ada di rilisan musik elektronik saya. Karir bermusik saya sedang bagus-bagus-nya sekarang, tapi tetap saja orang tua saya meminta bukti. Saya masih berjuang menyakinkan ayah kalau ini karir yang bisa diharapkan. Aku sudah tak sabar menunggu hari ketika saya bisa pulang dan bilang "Yah, aku sudah sukses!". Makanya, aku bekerja mati-matian sekarang. Manggung 4 hari berturut-turut? Ayok!

Chase (17)

Chace: Saya mulai memproduksi musik pas umur 13 tahun. Hasilnya: versi acappella dari lagu-lagu kesukaan saya. Kala itu, saya pakai mulut saya untuk menirukan semua jenis suara yang saya dengar. Saya dan Ibu lalu pindah ke Shanghai karena saya sedang mempersiapkan diri untuk belajar di sebuah konsevatorium. Sementara Ayah kami tinggalkan di kampung halaman. Beliau juga anak band. Bandnya adalah salah satu band pertama di Cina yang menggunakan instrumen elektronik di Cina. Ya sekitar tengah dekade 90an lah. Jadi, anda bisa bayangin dong seterbelakang apa Cina? Saya masuk konservatorium sebagai seorang drummer. Tapi, nyatanya, kehidupan malam Shanghai lebih menggoda dan saya terInspirasi untuk Menjadi seorang produser full-time.

Jadi sekarang, kerjaan saya ya duduk-duduk di depan komputer sembali sesekali melongok keluar jendela, mencari inspirasi. Pernah suatu kali, saya lihat anak kecil bermain layang-layang. Makanya, larik pertama di single saya bunyinya begini "Every now and then I see a kite up in the sky." Melodi single itu datang pas saya lagi di kamar mandi dan speaker bluetooth saya kumat. Bunyi aneh yang keluar dari speaker tersebut menjadi inspirasi saya ketika memproduksi track ini.Saya menyanyikan lirik saya sendiri. Awalnya, saya kerap pakai translator, atau dengar vokal orang lain. Entahlah, apa saya akan bernanyi di atas panggung, tapi saya ingin sekali memperbaiki kemampuan panggung saya. Makanya, saya masih sering ndengerin Michael Jakseon. Saya juga masih suka nyetel set Diplo lawas di Coachella yang dikirimkan teman saya. Tapi, dewa musik saya tetap Swedish House Mafia. Lambang mereka sampai saya tato di lengan.

Saya senang bisa bertemu Robin [Leembruggen]. Kebetulan saja ada orang asing yang muncul dan sepertinya kenal semua orang. Gara-gara dia, saya sekarang bisa kerja bareng Yellow Claw dan manggung di Tomorrowland musim panas nanti, yang bakal jadi panggung pertama saya di luar Cina. Aku tahu orang ngedrug habis-habisan di festival macam ini, tapi itu bukan mainan saya. Tapi, saya tahu apa yang mereka rasakan. Saya tahu betul karena level energi yang mereka rasakan sama seperti energi ketika saya manggung. Saya gatal ingin segera manggung di sana!