Internet

Video 'Lo Fi Hip Hop Radio to Relax/Study' Menjadi Fenomena Baru di YouTube

Mixtape 24 jam sehari berisi track-track hip-hop kalem belakangan jadi langganan jutaan pengguna YouTube. Kami menyusuri kenapa hal itu bisa terjadi.
16.7.18
Dicuplik dari YouTube channel ChilledCow

Loop gambar anime seorang gadis yang duduk dalam ruang kamar seperti dalam film-film Miyazaki. Gadis itu kelihatan sedang merevisi isi buku hariannya, atau sedang membaca koran sambil menyeruput segelas kopi atau duduk melamun memandangi pemandangan langit hujan di luar jendela. Dari speaker laptopmu keluar musik-musik downtempo yang banyak diasosiasikan dengan generasi milenial; suara drum yang sengaja diredam, kelebatan suara synthesizer nokturnal sedang kadang sampel suara suara manusia dari tape-tape self-help, film kartun jebot, game-game Nintento 64 atau bahkan ceracau orang teler. Bahan-bahan penyusun mixtape ini sebenarnya sederhana dan konsisten. Namun, dari bahan-bahan ini, lahirlah inkarnasi kesekian dari radio internet bernama “ "lo-fi hip-hop," atau "chillhop," atau lebih lengkapnya, "lo-fi hip-hop radio for studying, relaxing, and gaming."

Mixtape yang dipacak di YouTube ini tak pernah berhenti barang sejenak, terus dimainkan selama 24 jam dalam sehari, menghantarkan track-track menenangkan untuk mahasiswa yang dibuat trauma oleh tugas kuliah yang datang tanpa henti—pendeknya, mixtape ini bisa jadi opsi pengganti jika Xanax tak lagi bisa bekerja dengan baik. Kadang, dalam kondisi seperti itu, yang bisa kita lakukan adalah mempercayai nerd musik yang dengan sukarela mengelola kanal YouTube.

Ada sejumlah kanal “lo-fi hip-hop” dan semuanya sangat populer. Kanal yang paling populer dimiliki oleh sosok anonim bernamaChilledCow, yang sudah disubscibe 1,7 juta pengguna sejak mixtapenya pertama kali dipasang di YouTube lebih dari setahun lalu (ChilledCow adalah orang pertama yang menggunakan gambar anime gadis di atas sebagai identitasnya. Pilihan estetik macam ini kemudian diikuti oleh YouTuber lain yang memilih genre serupa). Di atas kertas, mixtape-mixtape lo-fi hip-hop tak jauh berbeda dengan playlist yang dikurasi dengan baik dalam sebuah pesta. Mixtape ini terus berjalan tanpa disertai operator yang mengontrol urutan lagu, seperti yang kita jumpai dalam siaran radio FM konvesional. Namun, lagu-lagu dalam mixtape tersebut terus diperbarui lagu baru yang dipilih secara pribadi oleh pemilik kanal—bukan oleh algoritma komputer seperti dalam layanan streaming seperti Spotify atau Apple Music.

Ryan Celsius, seorang DJ asal Washinton DC yang juga mengelola sebuah kanal lo-fi hip-hop, mengatakan bahwa YouTube jadi ladang subur tumbuhnya mixtape-mixtape lo-fi hip-hop karena lowongnya peraturan tentang hak cipta. Sebagai perbandingan, Twitch, salah satu raksasa layanan livestreaming, terkenal sering berurusan dengan musik berlisensi yang dipajaki platform mereka. Sejatinya, Calcius memulai kanal lo-fi hip-hopnya di platform ini. Nahas, kanalnya tak pernah berumur panjang lantaran dianggap melanggar peraturan tentang hak cipta. “Baru setelah layanan YouTube Live streaming diperkenalkan pada 2017, saya beralih ke YouTube,” katanya.

Saat ini, Kanal Celsius sudah memiliki 286,000 subscriber. Alhasil, dia dianggap sebagai salah satu “pembesar” dalam skena chillhop di YouTube. Celcius menduga kebangkitan chillhop di YouTube ada sangkut pautnya dengan nostalgia program-program Adult Swim dan Toonami di Cartoon Network. Bumper tayagan Adult Swim umumnya diisi dengan iklan yang menggunakan groove-groove temaram yang kalem. Lebih dari itu, Adult Swim juga membantu melejitkan rapper MF Doom, (Jika ada album yang begitu dipuja di kancah chillhop maka album itu adalah Madvillainy.) Toonami, di sisi lain, memperkenalkan Cowboy Bebop dan Samurai Champloo ke penonton barat lengkap dengan soundtracknya yang kental dengan corak musik merengue yang keren. Remaja yang dulu menyukai tayangan ini kini sudah berkepala dua dan sudah kangen akan tekstur musik seperti itu lagi.

“Banyak orang terinspirasi oleh beat mulus dan trippy dan estetika latar belakang nyantai dari era Adult Swim 2000-an,” ujar Celsius. “Ini menciptakan semacam persilangan orang-orang yang menyukai anime dan beat hip-hop yang bergelombang.”

Mungkin kamu berpikir siapapun bisa memulai channel macam ini dan memperoleh uang berkat sistem penghasilan iklan YouTube yang egalitarian, dan memang ini ada benarnya. Namun, diperlukan banyak biaya untuk bisa mengunggah video dan audio berkualitas tinggi secara sekaligus. Celsius mengaku terabyte penampungan yang dia sewa di server cloud menghabiskan sekitar US$200 (Rp2,8 juta) hingga US$300 (Rp3,4 juta) sebulan—yang artinya, antara pemasukan dari iklan, dan pemasukan Patreon, dia bisa memperoleh sekitar $1.500 (Rp21 juta) per bulan. “Untuk saya pribadi, ini tidak sepenuhnya saya anggap seperti bisnis,” ujarnya.

Iklan

DJ YouTube lainnya juga masuk ke dalam berbagai ranah lainnya demi bertahan secara finansial. Misalnya dua bocah asal Inggris di belakang saluran stream chillhop “College Music” yang memiliki 415 ribu subscriber—Jonny Laxton, 19 tahun, dari Leeds, dan Luke Pritchard, 20 tahun, dari Reading. Bersama-sama, mereka mengubah stasiun radio mereka menjadi label rekaman—memamerkan artis mereka lewat playlist Spotify, membangun sebuah brand yang tidak anonim atau mudah terlupakan, seperti banyak hal-hal yang ditemui orang di internet. “Kami tidak ingin seseorang menemukan stream kami, tapi besoknya tidak bisa menemukannya kembali,” ujar Pritchard.

Pritchard juga mengaku terkadang dia menerima permintaan dari musisi yang bersedia membayar uang agar lagu mereka dimasukkan dalam rotasi stream—seperti praktek payola versi media masa kini. Ini masuk akal, berhubung musisi dan lagunya akan mendapat paparan yang baik, dan jelas ada nilai yang tinggi dari memperkenalkan lagu ke banyak bocah-bocah kampus di seluruh dunia. Namun College Music menolak permintaan ini, karena ini akan merusak etika radio bajakan komunitas.

“Dari awal, Jonny dan saya berfokus di membagikan musik dari musisi-musisi kecil yang kami sukai,” ujarnya. “Menghasilkan uang bukanlah alasan College Music didirikan. Untuk alasan ini, kami tidak akan pernah berusaha memaksimalkan ‘profit’ kalau harus mengorbankan integritas dan kualitas musik yang kami bagikan.”

Perlu dilihat berapa lama ini akan bertahan. Monetisasi selalu menggoda semua orang dalam dunia internet, dan apabila stream hip-hop lo-fi ini akan terus populer, tawaran profitnya akan semakin besar. Tapi tetap saja keren mengetahui ada generasi muda global yang beroperasi di luar situs-situs musik streaming bikinan Silicon Valley, di mana semuanya dikerjakan oleh berbagai server komputer yang berada di tengah-tengah AS. “Platform populer macam iTunes, Spotify, dan Google Music, biarpun mungkin bertujuan baik, akan meletakkan orang dalam semacam ruang vakum,” ujar Celsius. “Stream 24/7 akan menawarkan orang musik-musik baru yang akan mereka sukai.”