bola basket

Seabrek Analisis Dampak Kepindahan LeBron James ke LA Lakers

Pemain terbaik dunia kini bermain untuk Los Angeles Lakers, dan nasib NBA sudah pasti tidak akan sama. Berikut analisis kami tentang dampak terbesar kepindahan itu
4.7.18
Photo by David Richard - USA TODAY Sports

Setelah lima tahun diwarnai kegagalan, pilihan draft yang mengecewakan, manajemen yang awut-awutan, dan tawaran free agent memalukan yang memaksa klub untuk membayar Timofey Mozgov layaknya dia seorang juruselamat, Los Angeles Lakers akhirnya berhasil mendatangkan (satu-satunya?) pemain yang mampu membangkitkan reputasi mereka sebagai franchise terkaya dalam sejarah NBA.

LeBron akan menyebut Staples Center sebagai rumahnya paling tidak selama empat musim ke depan. Dia berada dalam sebuah tim yang catatan gajinya dipenuhi oleh pilihan lotere yang sedang berkembang macam Brandon Ingram dan Lonzo Ball, kontrak skala-rookie seperti Josh Hart, Kyle Kuzma, dan Mo Wagner, dan veteran macam Kentavious Caldwell-Pope, JaVale McGee, Lance Stephenson dan pemain 33 tahun, Luol Deng.

Ini semua sangat seru, dan tentunya mengubah lanskap liga dalam banyak aspek. Tapi untuk sekarang, di awal Juli, ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Saat ini, Lakers masih memiliki semua pemain di atas plus Ivica Zubac. Gaji Julius Randle juga masih masuk dalam buku Lakers.

Sebelum kontrak McGee masuk hitungan, Lakers masih memiliki sekitar $23 juta—apabila kontrak Randle dilepas dan kontrak Deng diregangkan—untuk bisa mengontrak pemain macam DeMarcus Cousins (udah ngacir ke Warriors), Derrick Favors (kabarnya sudah dikontrak ulang oleh Jazz), atau J.J Redick (udah teken kontrak ulang dengan 76ers) selama setahun, ya intinya pemain dengan tingkat sekelas itulah. Dengan rosternya sekarang, produksi tembakan tiga-angka L.A gak buruk-buruk amat, tapi juga gak bagus, dan memang ada cukup pemain sayap atletis yang jago mencetak angka dan mengorkestrasi serangan ketika LeBron butuh lima menit untuk beristirahat—kemewahan yang dia tidak bisa dapatkan di Cavaliers musim lalu—dan dikelilingi oleh pemain-pemain dengan ukuran tubuh serupa. Intinya rekan-rekannya di LA lebih modern dan lebih aman di atas kertas.

Kehadiran LeBron akan menjadi sebuah tsunami terhadap apapun skema, formasi, konfigurasi, dan identitas fundamental yang dibangun Lakers tahun lalu, tapi untuk saat ini, mengontrak ulang Caldwell-Pope memberikan mereka cukup kontinuitas masuk ke musim berikutnya. Pertahanan L.A seharusnya masuk level rata-rata liga, paling buruk masih lebih tangkas switching dibanding timnya di Cleveland dulu. Rebounding dan perlindungan ring bisa jadi kelemahan mereka, tapi L.A masih punya banyak waktu dan sumber daya untuk mencari solusinya. Bahkan sebelum kita semua tahu siapa rekan-rekan LeBron nantinya, tidak ada tim (selain Warriors) yang ingin bertemu Lakers dalam seri tujuh game.

Gambaran besarnya, migrasi LeBron ke Konferensi Barat merupakan pukulan telak terhadap Cleveland Cavaliers, Philadelphia 76ers, dan setiap tim dalam Konferensi Barat yang kini harus berhadapan dengan LeBron, belum lagi Golden State Warriors dan Houston Rockets. Kedua tim raksasa tersebut juga enggak aman lho. Kalaupun Lakers tidak mendapatkan Kawhi Leonard sebelum tenggat pertukaran pemain berikutnya berakhir, mereka masih mempunyai satu slot kontrak maksimal untuk pemain kaliber All-Star tahun depan. Dua nama yang sudah dibicarakan adalah forward Warriors, Kevin Durant, yang bisa (dan kemungkinan akan) keluar dari kontrak dua-tahun yang baru saja dia teken, dan tentunya Kawhi Leonard.

Iklan

Dan bahkan apabila Lakers tidak mendapatkan satupun dari kedua nama tersebut, mereka akan menemukan pemain bagus cepat atau lambat. Mungkin saja Klay Thompson nantinya enggak betah dan ingin bermain di mantan tim ayahnya dulu. Atau Jimmy Butler ingin mengeksplor pilihannya sebagai seorang free agent? Mungkin Damian Lillard atau Paul George atau Joel Embiid meminta ditukar ke tim lain? Motivasi untuk bermain di Hollywood bersama LeBron James sudah pasti akan memaksa pemain lain untuk mengevaluasi karirnya dan menginginkan perubahan.

Berasumsi Lakers tidak secara bodoh mengiyakan kontrak jangka panjang apapun sepanjang musim panas ini, mereka akan menjadi tempat tujuan utama para pemain musim depan. Cocok juga untuk mengejar ring. Tidak seperti di Cleveland, LeBron secara tegas berkomitmen terhadap L.A selama empat tahun ke depan, mendorong bintang lain untuk melakukan komitmen yang sama. Biarkan imajinasimu menggila deh, kemungkinan macam apa yang bisa terjadi di Lakers beberapa tahun ke depan.

Tentu saja, ketidakimbangan NBA bisa saja memiliki efek sebaliknya. Bagaimana kalau pemain bintang di tim-tim non-super di Konferensi Barat ingin menuju Timur, di mana langkah menuju gelar jauh lebih enteng? Bagaimana Anthony Davis akan bereaksi sebagai satu-satunya bintang di Pelicans? Bagaimana dengan Lillard, atau Karl-Anthony Towns? Semua skenario gila ini tidak ada habisnya.

Dan ini semua bukan hiperbola loh. Sebagai atlit paling berkuasa dalam olahraga profesional, pilihan LeBron menimbulkan konsekuensi yang akan dirasakan di masa mendatang. Namun yang pasti, Cavaliers akan terlihat buruk paling tidak selama satu generasi setelah kepergian LeBron. Biarpun sempat ada laporan awal bahwa Cleveland berusaha mempertahankan Kevin Love dan menjaga kehormatan setelah LeBron pergi, kini kabar terbaru Cleveland berniat menukarkan Love, kemungkinan besar dengan tim kuat penuh aset seperti Philadelphia—dengan asumsi Sixers tidak menghabiskan aset mereka untuk mendapatkan Kawhi Leonard. Sepertinya Cleveland bakal tanking musim ini.

Udah ah ngomongin Cavaliers. Keputusan LeBron untuk bermain di Lakers juga berupakan gamparan untuk Philly atas dasar dua alasan:1) Mereka gagal mendapatkan LeBron, 2) Mereka kemungkinan tidak berani menyerahkan terlalu banyak aset berharga demi Kawhi, karena ada kemungkinan dia ingin bermain dengan LeBron di musim 2019-20, 3) Kalaupun mereka memiliki cukup ruang gaji di musim depan, akan ada banyak tim lain dalam posisi yang sama, siap memburu pemain yang sama. Tentunya ini bukan akhir dari Sixers, tapi mungkin saja mereka baru melewatkan kesempatan terbaik mereka untuk mendapatkan peningkatan dari luar.

Riak dari kepindahan LeBron bisa menjadi malapetaka. Tapi bisa juga menjadi perayaan bagi tim lain, misalnya Boston Celtics: sebuah tim yang belum sanggup mengalahkan LeBron dalam delapan tahun terakhir. Mereka akan menjadi favorit untuk lolos ke Final musim depan, dan tim manapun yang mereka hadapi pasti sudah berdarah-darah dan kelelahan. (Misalnya Rockets entah bagaimana lolos. Mereka harus bertarung melewati LeBron dan Durant.)

Nah tapi intinya gini deh. NBA kemungkinan besar akan dihuni satu lagi tim super, di pasar mereka yang paling menguntungkan secara finansial, didukung oleh salah satu pemain paling komplit sepanjang masa. NBA tidak akan lagi sama, dan tidak ada yang bisa memprediksi seperti apa nanti lanskapnya.