Perjuangan Minoritas Muslim Rohingya Memperoleh Keadilan Lewat Internet
Motherboard

Perjuangan Minoritas Muslim Rohingya Memperoleh Keadilan Lewat Internet

Di tengah sensor dan pembatasan hak oleh pemerintah Myanmar, warga muslim melawan dengan membuka kanal komunikasi independen yang dikelola swadaya.
12.1.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Dalam sebuah video yang diunggah ke Facebook awal Januari 2017, aparat beragama Budha terekam memukuli dua orang narapidana muslim. Sejak penyerangan terhadap terhadap sebuah kantor polisi Myanmar oleh kelompok pemberontak Islam, tentara Myanmar terus memburu penduduk sipil muslim dengan melakukan pemboman yang menyasar desa-desa warga muslim, pembakaran rumah, pengusiran, pembunuhan anak-anak dan pria dewasa, serta pemerkosaan perempuan Rohingya. Video tersebut mempertanyakan klaim pemerintah Myanmar yang mengatakan bahwa persekusi yang diterima oleh etnis Rohingya hanyalah sebuah upaya untuk menjaga kestabilan keamanan di Myanmar.

Iklan

Bagi muslim Rohigya yang rutin menjadi target persekusi disponsori negara, internet merupakan pertaruhan hidup dan mati. Aktivis internet mendampuk internet sebagai katalis perubahan demokratis. Konsep ini benar-benar dimaksimalkan oleh muslim Rohinya, etnis paling parah mengalami penindasan di Myanmar. Mereka berharap internet bisa jadi kanal untuk menyebar informasi tetang apa yang mereka alami. Sayangnya, sensor pemerintah yang ketat dan mewabahnya berita hoax, situs abal-abal, sekaligus propaganda palsu memaksa mereka berjuang lebih keras di dunia daring.

Etnis muslim Rohingya yang hidup di Myanmar jumlahnya mencapai dua juta jiwa, mendiami Provinsi Rakhine, di pantai barat negara itu. Mereka dulu hidup akur berdampingan dengan kelompok mayoritas Buddha. Beberapa tahun belakangan, pemeluk agama Budha di Myanmar menuduh etnis Rohingya sebagai kelompok imigran liar dari Bangladesh. Muslim Rohingnya membela diri dari tudingan itu, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka sudah hidup jauh-jauh hari di daerah yang kelak dinamai Rakhine. Seluruh etnis Rohingya sudah menginjakan kaki sejak tahuan 1800-an. Jika ditelusuri, garis keturunan mereka akan sampai pada para pelancong Arab.

Anak-anak suku Rohingya tengah bermain di kamp Thet Key Pyin Camp. Foto oleh: Austin Bodetti

Pemerintah Myanmar—yang hingga 2011 masih dikuasai Junta militer—selalu membela pemeluk agama Budha. Pemerintah memperlakukan etnis Rohingya layaknya imigran ilegal selama beberapa dekade. Ketegangan ini akhirnya pecah pada bulan Juni 2012, ketika beberapa lelaki Rohingya memperkosa seorang wanita Rakhine. Kerusuhan meletus di Sittwe. Korban jiwa jatuh di kedua pihak. Rumah dan toko hangys terbakar. Etnis Rohingya pada akhirnye menuduh pemerintah membantu penduduk Rakhine menghancurkan harta benda etnis minoritas ini.

Di saat yang sama, perang semacam ini berkecamuk juga di dunia maya. Aktivis Rohinya memanfaat forum online untuk mengklaim bahwa para perusuh telah membantai ribuan teman mereka. Sejatinya, jumlah korban cuma dari etnis Rohingya cuma mencapai ratusan orang. Foto abal-abal untuk memerangi kekerasan terhadap etnis Rohingya berserakan di Facebook dan Twitter.

Iklan

Propaganda dari kelompok Rakhine dan pendukung mereka di Myanmar ternyata lekas mendapatkan tanggapan. Media milik pemerintah menegaskan narasi yang mengatakan bahwa Rohingya—yang mereka sebut sebagai "bengalis" atau warga yang berasal dari Bangladesh atau India—adalah kelompok imigran ilegal yang menganggu kelompok Rakhine dan menyerobot tanah mereka. Pemberitaan ini terbukti sangat menganggu apalagi mengingat pemerintah Myanmar memiliki kekuasaan untuk mendeportasi etnis Rohingya atau menempatkan mereka dalam kamp konsentrasi, seperti yang pernah mereka lakukan di masa lampau.

Sebagian warga Rohingya berpaling pada internet karena pemerintah Myanmar mengurung mereka dalam kamp konsentrasi.

Setelah kerusuhan 2012, komentar di Facebook makin kasar dan menyedihkan. "Kayaknya melihat orang Rohingya mati saja belum cukup," kata salah satu pengguna Facebook. Netizen lainnya menulis komentar, "Bingung deh, mau sedih apa senang, aku tidak tahu sih kewarganegaraannya."

Di sisi lain, kelompok peretas yang punya kaitan dengan Angkatan Bersenjata Myanmar menyebut diri mereka sebagai "pelobi pemerintah" dan "pembela kepentingan nasional." Kalangan sayap kanan ini menyebut seterunya etnis Rohingya sebagai "Jihadis muslim" yang berupaya menghancurkan "agama dan negara mereka."

Sebagian warga Rohingya berpaling pada internet karen a pemerintah Myanmar mengurung mereka dalam beberapa kamp konsentrasi, pascakerusuhan 2012. "Internet sangat penting bagi kami karena lewat internet kami bisa mengabarkan apa yang kami rasakan, perasaan kami dan apa pun yang terjadi dalam Kamp," kata Saed al-Arakani, Aktivis Rohingya berumur 31 tahun, pada saya di Kamp Thet Key Pyin, sebuah kamp dadakan di pinggiran Sittwe, di provinsi Rakhine.

Iklan

Al-Arakani bekerja sebagai seorang fixer dan penerjemah bagi para jurnalis asing. Dia piawai mengurus wawancara dan pertemuan dalam kamp, sebuah bangunan kotor dan seadaanya di tengah lahan padi. Al-Arakani sudah pernah bekerja sama dengan koresponden dari media-media besar seperti   The New York Times dan The Wall Street Journal lewat media sosial.  Dengan berbekal sebuah ponsel pintar, lelaki berumur 31 tahun ini berhasil menyebarkan informasi terbaru tentang krisis kemanusiaan yang terjadi di dalam Kamp. Untuk kerja kerasanya ini, Al-Arakani menerima $100 (setara Rp1,3 juta) perhari, jumlah yang sangat besar di Myanmar.

Bocah lelaki Rohingya berdiri di depan tenda 46, didirikan pemerintah Myanmar bersama sebuah badan kemanusaan pascakerusuhan 2012. Foto oleh: Austin Bodetti

Masalahnya ponsel pintar masih jadi barang eksklusif di Myanmar. Dua tahun terakhir, perusahaan pemerintah, Myanmar Posts and Telecomunications menjalin kerja sama dengan Oooredo dari Qatar dan Telenor Group dari Norwegia untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di Myanmar. Beberapa tahun lalu, harga sebuah SIM card bisa mencapai $1.500 (setara Rp19 juta).

"Susah sekali bagi orang Rohingya mendapat informasi yang benar-benar valid."

Kini, barang yang sama bisa dibeli dengan harga $1,5 (sekitar Rp 19 ribu). Harga ini terhitung mahal mengingat upah mininum harian di Myanmar masih berkisar $2,80 perhari.  Belum lagi, sinyal telpon sangat susah diakses di Myanmar. Alhasil, berkomunikasi dan melakukan pengorganisasian massa merupakan tantangan pelik di negara tersebut.

Bagi al-Arakani, kondisi infrastruktur ini mempersulit usahanya menimbang mana berita tentang Rohingya yang bisa dia percaya. Al-Arakani akhirnya sangat mengandalkan jaringan informan dalam kamp konsentrasi. Dia mengaku bahwa dia kerap menggunakan aplikasi pesan terenkripsi untuk menyebarkan informasi. "Tentu, saya tak akan dapat informasi tentang perkembangan politik Myanmar di internet karena susah sekali mendapat informasi yang benar-benar valid," ujarnya.

Iklan

Meski teknologi internet berkembang sangat cepat, mengakses internet bukan pekerjaan gampang bagi etnis Rohingya. "Di daerah pedesaaan, jaringan internet susah diakses. Bahkan, untuk menggunakan aplikasi mobile di luar kota saja kita sudah kesusahan," ujar Chris Lewa, seorang aktivis dari Thailand yang tergabung dalam Arakan Project, sebuah LSM yang mendokumentasikan kekejaman yang dilakukan pada Rohingya.

Komunikasi makin diperlukan setelah etnis menyebar ke luar Myanmar. Dalam usaha menghindai persekusi dari pemerintah Myanmar, hampir satu juta etnis Rohingya kabur menuju Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Pakistan, bahkan sampai Arab Saudi.

Mendapat informasi dari komunitas Rohingya merupakan tantangan tersendiri. Omar Siddique Zubair, seorang etnis Rohingya yang lahir di Bangladesh, dan kini bermukim di Arab Saudi, mendirikan Rohingya Television berfungsi sebagai sumber berita bagi kelompok antipemerintah dan  para kompatriotnya d Myanmar. Rohingya Television menjadi media alternatif bagi orang seperti Al-Arakani, yang sangat membenci televisi pemerintah. Ekspatriat Rohingya bisa menjadikan Rohingya Television sebagai media yang gampang diakses dan bebas dari sensor.

Semua acara di Rohingya TV disiarkan dengan menggunakan bahasa Rohingya dan bahasa Burma, bahasa nasional Myanmar. Zubair memendam harapan bahwa TV-nya bakal menjangkau lebih banyak penonton. "Rohingya TV menyiarkan program untuk komunitas Rohingya di seluruh dunia. Agar semua orang tahu bahwa Rohingya adalah etnis paling sering mengalami penindasan menurut laporan PBB. Warga Rohingya berusaha memerangi pembatasan akses pendidikan, pembatasan kebebasan bergerakan dan batasan-batasan sosial yang ketat lainnya."

Seorang anak Rohingya yang mengenakan kaos AC Milan yang disponsori maskapai Uni Emirat Arab. Foto oleh: Austin Bodetti

Sebagian anggota etnis Rohingya yang saya temui untuk penulisan artikel ini mengaku bahwa mereka memilih Rohingya Blogger dan Rohingya Vision  sebagai sumber berita. Kedua website ini memiliki informan yang tersebar di seluruh Myanmar. Informan mereka juga bisa ditemui dalam diaspora kaum Rohingya. Mereka inilah yang melaporkan segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata dan Kepolisian Myanmar. RVision menyediakan artikel dalam bahasa Arab, Burma dan Inggris. Situs ini juga membuka donasi bitcoin. Pemberitaan dalam website ini berusaha memberikan narasi alternatif daripada yang disebarkan oleh media anti Rohingya.

Rohingya Blogger di-like sebanyak 30 juta kali di  Facebook. Sedangkan, Rohingya TV dan  RVision punya 40 ribu like. Sayangnya, jurang antara aktivis teredukasi al-Arakani dan Zubair dengan masyarakat awam Rohingya yang jumlahnya hampir dua juta jiwa memunculkan pertanyaan akan capaian ini. Menurut data dari Upstream Journal, tingkat kasus buta huruf dalam etnis Rohingya mencapai angka 80 persen. Belum lagi, 60 persen anak etnis Rohingya tak pernah merasakan bangku sekolah. Kesimpulannya, jika pun seluruh etnis Rohingya bisa mengakses  RVision, tak sampai seperempatnya bisa membaca artikel di dalamnya.

Iklan

"Saya bisa berkomunikasi dengan beberapa etnis Rohingya yang kabur berkat internet," jelas al-Arakani, "tapi tentu saya tak bisa mencapai semua orang. Itu pun tak bisa dilakukan tiap hari—kadang koneksinya jelek." Nyatanya, memang begitu adanya kondisi sinyal telepon di Sittwe. Email yang saya terima pun tersendat-tersendat. Anehnya, di kamp, sinyal telekomunikasi ternyata lebih stabil.

Merebaknya internet di Myanmar membawa pula sisi gelap

Lewat internet etnis Rohingya juga menemukan banyak ujaran kebencian ditujukan kepada mereka yang disebar oleh seteru mereka. Ada sebuah page Facebook yang mengaku dapat "menjelaskan secara rinci bagaimana pengungsi Cina dan Bangladesh (Rohingya) membanjiri Myanmar". "Jika mereka tak mau menaati peraturan di Myanmar, mereka harus dihukum dan dideportasi ke negera asal mereka," begitu tertulis dalam satu unggahan di laman tersebut yang mengusulkan para muslim Rohingya memiliki kartu identitas spesial.

Di Myanmar, internet tumbuh seiring reformasi demokratis yang melahirkan kebebasan berbicara sejak enam tahun lalu. Internet kini jadi senjata bagi etnis Rohingya dan musuh mereka. Kelompok militan Budha kini dengan gampang bisa menyudutkan etnis Rohingya sebagai imigran ilegal dan grup teroris Islam di media sosial.

"Ironisnya, reformasi atas sistem sensor di Myanmar justru membuat keadaan makin runyam. Publik digiring untuk memusuhi etnis Rohingya," menyitir hasil amatan Religious Literacy Project di Harvard Divinity School. "Biarawan antiRohingya dan pengikutnya menganggap bahwa kelompok Islam radikal yang ada dalam komunitas Rohingya sangat membahayakan Myanmar."

Sebuah Keluarga Rohingya tengah berkumpul. Sumber foto: Global Panorama/Flickr

Lewat internet, ekstremis muslim dari Indonesia sampai  Afrika Timur telah menunjukkan simpati mereka terhadap muslim Rohingya. Kesadaran itu tak lantas membuat kondisi makin kondusif. Sebaliknya, citra Islam yang berusaha dibangun menguap begitu saja. Sebagian besar etnis Rohingya percaya pendekatan damai adalah cara bertahan paling manjur menghadapi tekanan pemerintah Myanmar dan umat Budha di Rakhine. Di sisi lain, lawan mereka sekarang memanfaatkan laporan bahwa orang Rohingya dekat dengan ekstremis sebagai upaya pendiskreditan. Perang wacana ini semakin jamak terjadi. "Misinformasi dan rumor tak berdasar menyebar lewat internet," kata Lewa, seorang aktivis pro-demokrasi di Thailand.

Meski demikian, perjuangan etnis Rohingya di dunia maya ternyata tak sia-sia. Dalam bagian "International News," RVision memuat artikel berbahasa Inggris tentang konflik di Suriah, Irak dan Arab Saudi. Ada juga artikel yang membahas tentang kejadian di Israel dan PBB. RVision terkesan berusaha meniru sebuah kantor berita internasional. Situs ini berusaha menegaskan otorits dan legitimasinya di dunia maya dan nyata sekaligus.

Tantangan bagi aktivis Rohingya akan terus datang selama mereka masih berjibaku dengan kelompok Islam dan Budha ekstrem. Namun, capaian terbesar mereka tetap saja ketika mereka bisa merangkul komunitas internasional.

"Semua orang kini sudah tahu tentang pembantaian etnis Rohingya di tahun 2012," ujar  Akhtar Ismail, seorang etnis Rohingya yang kini berada di Malaysia, pada Motherboard vua Facebook Messenger. "Itu semua berkat internet."