FYI.

This story is over 5 years old.

Musik

DJ Tak Harus Hidup dengan Telinga yang Terus Berdenging

Laidback Luke, Roger Sanchez dan DJ-DJ lainnya terancam kehilangan pendengaran mereka. Bagaimana mereka berusaha melindunginya?
10.8.16

Artikel ini pertama kali muncul di THUMP Kananda.

Saya tengah mengantri periksa pendengaran dan saya takut bukan kepalang. Pekerjaan saya sebagai seorang wartawan musik dan kehidupan sosial saya bikin saya keyang saya sudah keyang dicekoki musik dengan volume keras selama lebih dari dua dekade. Meski kerap menggunakan earplug murahan berbahan gabus, saya tak selalu mencantolkannya di telinga saya. Walhasil, saya waswas jangan-jangan pendengaran saya terganggu karena aktivitas DJ saya.

Iklan

Saya bukan seorang touring DJ yang mashur, tapi pernah bebeberapa tahun bermain dalam shift panjang tiap minggu di bar-bar di Toronto. Itu belum ditambah party-party sporadis di club dan warehouse dengan sound system yang lebih nampol. Selama beraksi dalam booth, saya tak pernah mengenakan piranti pelindung pendengaran. Alasannya sederhana: earplug lumayan merecoki proses mixing. Lambat laun, saya baru nyadar kalau saya sering menggeber suara dari monitor semalam suntuk dan suara denging di kuping saya makin susah hilang pasca setiap gig. Beberapa tahun lalu, ada satu hal lagi yang saya sadari: saya kerap kewalahan mengikuti pembicara jika ngobrol di tempat yang dipenuhi background noise.

Lalu, suatu hari, denging itu tak pernah hilang dan berhenti.

Meski kerusakan pendengaran akibat musik yang keras adalah sebuah keniscayaan, sebagian besar DJ memandangnya sebagai perkara yang baru muncul saat mereka pensiun, tanpa menyadari bahwa ia bisa datang lebih awal, tepat di puncak karir mereka.

"Selepas ngegig, biasanya saya langsung pulang. Telinga saya berdenging parah. Sampai suatu hari, denging itu tak kunjung hilang," ungkap seorang House DJ dan Producer asal Toronto, Sydney Blue, yang aktif ngegig sejak 2000. "Sejak saat itu, tiap kali saya nongkrong di sebuah klub malam dan seseorang bicara di telinga kanan saya, saya harus meminta mereka berhenti dan menempelkan telinga kiriku di mulut mereka."

Iklan

Ia akhirnya menggunakan earplug yang didesain khusus untuk musisi, meski ia kerap tak nyaman menggunakannya saat nge-dj. Untuk mengakalinya, Blu menyetel monitornya sekecil mungkin. Ia malah kerap mematikannya dari satu mix ke mix lainnya. "Beberapa DJ senior yang saya kenal menderita tinnitus. Andai saja saya lebih dulu awas dan tahu separah apa akibatnya."

Saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan tinnitus. Lebih dari itu, metode penanganan kerusakaan pendengaran masih dalam tahap awal. Banyak DJ yang aktif melakukan tur dan bermain di berbagai festival di penjuru dunia yang tak merasa telinga mereka berdenging, sampai mereka terlalu telat untuk menyadarinya.

"Ini masalah umum yang melanda dunia Per-DJ-an," ucap veteran musik house New York Roger Sanchez. "Banyak DJ yang tak sadar menderita tinnitus. Mereka terlalu terbiasa dengan telinga yang berdenging. Mereka sangka itu karena mereka nge-dj malam sebelumnya. Tapi, kalau anda bermain 4 sampai 5 kali seminggu. Paparan anda (terhadap musik keras) hampir konstan. Para DJ ini baru sadar mereka kena tinnitus setelah pensiun."

Sudah 36 tahun Sanchez beraksi sebagai seorang DJ. Di akhir dekade 90an, telinganya tak berhenti berdenging. Layaknya Blu, ia akhirnya menggunakan custom earplug. Bagi Sanchez, earplug ini sudah menyelamatkannya dari kerusakan pendengaran yang lebih parah. Namun, ia mengakui, ia perlu belajar untuk memixing sembari mengenakan pelindung pendengaran.

Iklan

"Awalnya, saya tak bisa mendengar semuanya dengan jelas. Rasanya seperti ada yang menaruh telapak tangan di telinga saya. Butuh waktu lumayan lama sampai saya terbiasa. Lalu, saya baru sadar, saya bisa saja menaikkan volume monitor, namun sound-nya tak menusuk seperti dulu lagi. Saya sampai harus menaruh bass bin di banyak booth, biar soundnya lumayan."

Sanchez menambahkan kini makin banyak DJ bernama besar yang mengenakan costum earplug saat beraksi. Ia sendiri akhirnya memeriksa pendengarannya pada 2000. Hasilnya, Sanchez akhirnya tahu ia mengalami pengurangan pendengaran yang lumayan di upper range, tepatnya di kisaran 800hz. Setidaknya, ia bisa menarik nafas lega, kerusakannya tak separah yang diduga. Meski demikian, denging di telinganya tak kunjung hilang.

"Sekarang pun, dengingnya masih saya dengar. Tapi, saya sudah kadong terbiasa. Saya tak merasakannya saat berjalan di jalan, atau ketika saya tidak memperhatikannya.. Namun, segera saat keadaan senyap, dengingan itu muncul lagi. Untungnya sih tidak terlalu keras. Kayaknya sih, menggunakan filter bikin dengingannya tidak terlalu keras. Saya tahu beberapa orang yang kupingnya berdenging sangat keras."

Custom musician earplug harganya bisa lebih dari Rp. 2 juta. Namun, earplug hanyalah satu dari beberapa opsi terbatas yang bisa dipilih para DJ yang selalu ingin mendengar dengan akurat hasil EQ tweak dan filtering yang mereka lakukan. Earplug murahan sekali pakai yang bisa dibeli di apotek juga bisa melindungi telinga para DJ. Masalahnya, earplug macam ini mengubah sound yang didengar DJ. Tak ayal, Cuma segelintir DJ saja yang menggunakannya.

Iklan

"Earplug gabus murahan bisa menurunkan suara sampai 25db di satu frekuensi dan 10db di frekuensi lainnya." Jelas Aadam Rhodes, US Director perusahaan pembuat pelindung pendengaran ACS Custom. "Earplug murahan meredam suara karena itu bukan frekuensi yang sesungguhnya. Anda tak akan bisa mendengar apa pun. Earplug murahan merampas nikmatnya mendengarkan musik. Ujung-ujungnya, anda mencopotnya juga. Tapi, kalau filternya pas, kualitas sound tak dikorbankan: cuma diturunkan volume saja."

ACS bekerja dengan banyak nama besar di ranah musik elektronik, dari Tiesto, Zedd hingga Deadmau5. Menurut Rhodes, kesadaran tentang masalah kerusakan pendengaran makin besar, meski seringnya, artis datang menemuinya setelah tahu pendengarannya terganggu. "Hampir tiap minggu kami mendengar orang berkata 'coba saya tahu tentang hal ini sepuluh tahun yang lalu'. Kami sudah kenyang mendengarnya." Ujarnya. "Ini cuma masalah edukasi. Musim panas ini, kami keluyuran tiap akhir minggu di festival. Kami berusaha mengedukasi orang."

Akhir-akhir ini, banyak musisi yang menjalani tur beralih ke in-ear monitor. Piranti ini memblok suara dari luar sembari memperkuat suara yang ingin didengarkan para musisi. Sayangnya, di ranah musik elektronik, In-ear monitor belum begitu populer. Perkaranya: In-ear monitor merubah drastis pendekatan para DJ terhadap mixing.

"In-ear monitor tak selalu bersahabat dengan DJ," aku Rhodes. "Mereka sangat senang menggunakan headphone, jadi mereka bisa melepas salah satu sisinya dan melakukan mixing dengan satu telinga tertutup. Tapi, ada DJ yang menggunakan In-ear monitor. Deadmau5 salah satunya. Kami punya model yang disertai ambient microphone di dalamnya. Jadi, DJ masih bisa mendengar mix yang mereka buat. Ini kastanya sudah lebih tinggi, meski tetap susah menyakinkan DJ untuk memakainya. Mereka terbiasa menggunakan headphone sampai rasanya outfit DJ tak lengkap tanpa headphone. "

Iklan

Salah satu artis yang telah beralih ke in-ear monitor adalah DJ dan producer asal Belanda, Laidback Luke. Ia mulai memakai custom earplug kira-kira tahun 2000an, setelah mulai khawatir terkena tinnitus dan berkurangnya sensitifitas pendengarannya terhadap volume tinggi. Sekitar 2008, ia memutuskan mencoba in-ear monitor. Sejak saat itu, ia tak pernah berpaling lagi.

"Saya tak pernah mendapatkan definisi yang saya cari di monitor DJ. Lalu, kami mencoba in-ear monitor. Saya gembira bukan kepalang dengan kejernihan suaranya. Bahkan di Hall besar yang penuh reverb, monitor saya tak berubah." Katanya. "Ini sebuah berkah bagi saya. Saya bisa tetap menjaga volumenya rendah dan tak pernah kehilangan detil-detil kecil dalam sebuah lagu. Saya tak bisa lagimendengar applause dari penonton. Tapi, ini hanyalah motivasi bagi saya untuk bekerja lebih keras lagi." Baru 3 tahun yang lalu, Luke akhirnya beroleh keberanian untuk memeriksakan pendengarannya.

Ia beruntung. Tenyata, penggunaan pelindung telinga secara dini punya pengaruh yang besar. Hasil tesnya normal. Malah, denging yang pernah bikin ia panik mulai surut, perlahan-lahan.

Denging di telinga saya tak separah setahun yang lalu. Tetap saja, dengingan terdengar keras dalam booth kedap suara di sebuah klinik di Toronto, tempat saya memeriksakan pendengaran . Aku berusaha keras mendengarkan tone. Namun, saya begitu optimis bisa mendeteksi sebagian signal pitch amat tinggi yang mereka berikan. Meski, saya sadar, ada senyap yang begitu lama, saat saya seharusnya mendengar sesuatu.

"Anda bekerja dengan alat berat?" tanya sang dokter sembari menyusuri hasil pemeriksaan. Jantung saya seperti berhenti beberapa saat. Saat saya jelaskan bahwa saya kerap dikelilingi musik dengan volume tinggi, ia bilang itu menjelaskan apa yang ia liat di chart hasil pemeriksaan. Itu juga menjelaskan mengapa range frekuensi tinggi yang bisa saya dengar masih lumayan ok.

"Hasilnya tak jelek-jelek amat. Kemampuan mendengar telinga kiri anda mengalami penurunan di 1k, tapi itu masih sangat normal. Nah, penurunan di telinga kanan lebih besar, di 4K. Baiknya anda segera beli custom musician earplug."

Saya meninggalkan kantor sang dokter dengan hati yang ringan. Pendengaran saya tak jelek-jelek amat. Di sisi lain, saya merasa sedikit malu karena butuh waktu yang lama untuk memeriksakan telinga saya. Beruntung, saya tak terlalu terlambat untuk mencegah pendengaran saya bertambah buruk.

Benjamin Boles aktif di Twitter.