Terorisme

Teror Skala Kecil Diyakini Akan Sering Mengancam Polisi Indonesia

"Polisi paling banyak menangkap, memenjarakan, membunuh teman-teman (teroris), sehingga kemudian mereka melakukan semacam balas dendam."
3.7.17
Masjid Falatehan Blok M, lokasi serangan simpatisan ISIS. Foto dari akun Twitter anthieloveable

Polisi di Indonesia kini menghadapi jenis teror baru yang lebih berbahaya dibanding sebelumnya: serangan perorangan tanpa kontak sel lain. Dua insiden terjadi dalam durasi berdekatan. Pada 25 Juni lalu, saat momen Idul Fitri, Aiptu Martua Sigalingging yang berjaga di pos piket halaman Mapolda Sumatera Utara tewas digorok oleh dua orang simpatisan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Tak berapa lama beberapa personel Brimob yang menyadari ada dua orang memasuki wilayah mapolda, segera mengejar pelaku. Satu pelaku tewas ditembak, sementara satu lagi ditangkap hidup-hidup setelah ditembak di bagian kaki. Rangkaian serangan ini belum berakhir. Akhir pekan lalu, dua anggota Brimob menjadi korban penusukan setelah selesai menunaikan ibadah salat Isya di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Iklan

Ajun Komisaris Dede Suhatmi dan Brigadir Satu Syaiful Bahri terluka di bagian pipi. Sementara seorang pelaku yang teridentifikasi sebagai Mulyadi, warga Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, tewas ditembak setelah berusaha melancarkan serangan di luar masjid.

Pelaku yang turut mengikuti ibadah salat Isya di masjid tersebut, tiba-tiba menyerang kedua anggota Brimob tersebut sambil berteriak "Thogut!" saat para jamaah bersalam-salaman. Setelah berhasil melukai, pelaku kabur ke arah terminal bus Blok M sebelum tewas ditembus timah panas. Polisi menyita sebuah ransel hitam yang diduga bom serta sebuah sepeda motor.

"Pelaku sementara masih lone-wolf, tidak ada jaringannya. Sudah kita cek dari hubungan, baik fisik maupun komunikasi, belum ada ditemukan jaringannya," tutur Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto saat menggelar jumpa pers.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Solahudin mengatakan serangan terhadap aparat kepolisian sudah terjadi sejak 2010, menandai pergeseran pola serangan terorisme yang sebelumnya menyerang simbol-simbol Barat seperti hotel, kafe, bar, dan kedutaan.

Pakar terorisme dan pengamat intelijen Ridlwan Habibi mengatakan personel kepolisian menjadi sasaran aksi teror karena adanya unsur balas dendam terhadap operasi Detasemen Khusus 88 selama satu dekade. Densus berhasil memetakan dan menangkapi jejaring sel teror, baik dari jaringan lama maupun yang sekarang terhubung dengan militan khilafah di Irak dan Suriah.

Iklan

"Karena polisi paling banyak menangkap, memenjarakan, membunuh teman-teman (teroris), sehingga kemudian mereka melakukan semacam balas dendam," ujar Ridlwan seperti dikutip Tirto. Menurut Ridlwan, penyerangan terhadap aparat kepolisian juga didukung fatwa yang dikeluarkan juru bicara ISIS Abu Muhammad Al-Adnani pada 2014 agar para pendukung khilafah menyerang simbol thogut, yakni aparat negara.

Sementara itu ketua Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyayangkan ketidakmampuan polisi meredam serangan-serangan skala kecil yang mematikan, sekaligus khawatir melihat tindakan teroris yang semakin nekat.

"Kasus ini tentunya menjadi catatan buruk bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017. Publik jelas merasa prihatin karena anggota polisi ternyata tidak bisa melindungi diri saat diserang pelaku kejahatan di markasnya sendiri," ujar Neta.

Adapun untuk serangan Mapolda Sumut, kedua pelaku diidentifikasi sebagai Syawaluddin Pakpahan dan Ardial Ramadhana. Polisi menyita 155 buku jihad dan propaganda ISIS di rumah Syawaluddin. Buku tersebut diduga digunakan untuk mendoktrin dan merekrut anak-anak. Polisi bergegas menangkap dua orang lain Firmansyah Putra Yudi dan Hendry Pratama alias Bobby di lokasi terpisah.

Menurut juru bicara Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul, keempat terduga teroris tersebut beberapa kali melakukan survei target serangan, termasuk menyasar markas TNI.