Sistem Pendidikan

Kata Peneliti, Pekerjaan Rumah Tidak Bermanfaat pada Pengembangan Kecerdasan Siswa

Siapa sangka, PR matematika yang sering kalian terima semasa sekolah dianggap memperparah kesenjangan kelas antara murid kaya dan miskin.
24.11.20
Seorang bocah menelungkupkan kepala di atas buku
Foto ilustrasi: Isabel Pavia via Getty Images

Suatu hari, dua siswa SD saling curhat tentang PR matematika mereka yang kelewat susah.

“Emang susah, tapi untungnya ibu bisa bantuin,” tutur seorang murid. Siswa lainnya lalu menimpali, “Enak banget. Ibuku tidak bisa bantu mengerjakan PR.”

Murid pertama berasal dari keluarga berkecukupan, sedangkan murid kedua berlatar belakang sosial ekonomi rendah.

Adegan di atas hanyalah salah satu aspek dari data yang disajikan dalam studi terbaru oleh sejumlah akademisi. Hasil penelitian mereka menemukan PR matematika dapat memperkuat perlakuan tidak adil terhadap murid dengan kelas ekonomi menengah ke bawah.

Kita semua sudah tahu PR bukan satu-satunya yang dapat meningkatkan perpecahan kelas. Ada pula ujian nasional sebagai standar kelulusan dan seleksi jalur prestasi yang kerap lebih menguntungkan anak dari keluarga mampu. Tak jarang siswa miskin menjadi tertinggal dari teman sebaya karena mereka tidak dapat masuk sekolah unggulan.

Namun, penelitian tersebut ingin mencari tahu apakah tugas sekolah, seperti PR matematika, juga termasuk dalam proses penguatan status ini. Pekerjaan rumah rupanya dapat memicu kesenjangan yang lebih besar, dan untuk mengatasinya pun tidak mudah.

Iklan

“Para guru sadar ada siswa yang kurang mendapat bantuan ketika mengerjakan PR,” tutur Jessica Calarco, penulis utama dan associate professor jurusan psikologi di Universitas Indiana. “Namun, kebijakan standar yang memperlakukan pekerjaan rumah sebagai tanggung jawab individu menghapus konteks penunjang ini dan membuat guru menilai pekerjaan rumah dengan cara yang memperkuat status ini.”

Dari 52 murid kulit putih yang diamati, siswa kelas tiga, empat dan lima SD yang berasal dari keluarga mampu rata-rata lebih mudah mengerjakan PR matematika. Mereka juga mendapat nilai lebih bagus daripada teman-temannya yang kurang mampu.

Empat tahun dihabiskan Calarco untuk mengobservasi proses pembelajaran di kelas dan mewawancarai murid, orang tua atau wali, dan guru di sekolah pinggiran kota. Dari pengamatan yang berlangsung selama 2008-2012 itu, dia mengumpulkan ribuan catatan lapangan dan ratusan jam wawancara, yang menjadi disertasi doktoralnya. Calarco terkejut melihat banyaknya contoh ketidaksetaraan yang disebabkan oleh PR matematika.

Selain mengamati ruang kelas dan memantau kinerja murid dari waktu ke waktu, dia juga melakukan wawancara kualitatif dengan keluarga siswa untuk mencari tahu faktor-faktor yang memengaruhi penyelesaian PR, serta menanyakan guru matematika bagaimana PR memengaruhi pandangan mereka terhadap kinerja murid.

Tim Calarco menemukan banyak kasus yang menunjukkan status sosial ekonomi memengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Seorang ibu kaya meminta guru les untuk membantu anaknya yang masih kelas 4 SD mengerjakan PR. Sementara itu, ibu yang berlatar belakang sosial ekonomi rendah mengaku dia mendapat nilai pas-pasan sewaktu sekolah dulu dan merasa “bodoh” karena tidak dapat membantu anaknya yang masih kelas lima.

Calarco menjelaskan para guru yang diwawancarai memahami kesenjangan memengaruhi kemampuan murid saat mengerjakan PR matematika. Namun, mereka tetap menjadikan pekerjaan rumah sebagai penentu kesuksesan siswa.

Iklan

“Yang paling meresahkan adalah guru meremehkan kemampuan murid karena mereka tidak dapat menyelesaikan PR,” terangnya.

Dalam penelitian itu, guru kelas 7 SMP mengatakan seorang siswa yang datang dari keluarga miskin tidak menyerahkan pekerjaan rumahnya. Katanya, sang guru “jadi tidak ada kerjaan” gara-gara siswa itu. Tapi di sisi lain, dia memuji-muji seorang murid dari keluarga mampu “rajin belajar” karena sang orang tua rajin mengirimkannya email untuk menanyakan soal-soal yang ada di PR.

Pandemi corona semakin memperburuk kesenjangan. Penelitiannya menceritakan seorang siswa yang harus pergi ke perpustakaan untuk sekolah daring karena “tidak ada internet” di rumahnya. Calarco sangat prihatin dengan para murid yang kesulitan mengikuti pelajaran karena kondisi rumah mereka tidak memadai. 

Selama ini, sekolah cenderung menjadikan pekerjaan rumah dan nilai sebagai pengukur seberapa besar upaya dan tanggung jawab murid. Padahal, menurut Calarco, ada banyak faktor yang mungkin menghambat seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian, banyak pakar menyarankan agar orang tua lebih terlibat dalam pendidikan anak supaya mereka bisa lebih mudah menyelesaikan pekerjaan rumah. Pada kenyataannya, intervensi semacam itu tidak cukup dan, dalam banyak kasus, tidak dapat dilakukan karena orang tua “memiliki pendidikan formal, keuangan atau kemampuan berbahasa Inggris yang terbatas”, menurut penelitian.

Ada banyak alternatif yang bisa menggantikan pekerjaan rumah, khususnya di jenjang sekolah dasar. Calarco berujar sejumlah guru mulai mengirim nawala (newsletter) mingguan dengan pertanyaan diskusi opsional supaya orang tua sama-sama bisa memahami kurikulum seperti saat mereka membantu anak menyelesaikan PR.

Calarco berpandangan para pendidik setidaknya harus berpikir kritis tentang tujuan dan manfaat dari pekerjaan rumah.

“Kita jelas tidak bisa asal melarang pekerjaan rumah, tapi setidaknya guru bisa mulai mempertimbangkan kembali kapan dan bagaimana sebaiknya mereka memberikan tugasnya.”