Dampak Buruk Puber

Penelitian: Puber Pemicu Remaja Perempuan Jadi Kurang Percaya Diri Jelang Dewasa

Sampai usia 12, anak perempuan sama percaya dirinya dengan laki-laki seangkatannya. Semua berubah setelah mereka mengalami masa pubertas.
27.9.18
Foto Linda Kallerus, dari arsip A24. 

Lembaga penelitian Ypulse bersama penulis buku Confidence Code for Girls, Claire Shipman dan Katty Kay, baru saja menerbitkan sebuah penelitian yang memberi kesimpulan suram. Pubertas menghilangkan kepercayaan diri mayoritas remaja perempuan. Lewat bukunya, Shipman dan Kay menekankan pentingnya memupuk rasa percaya diri anak perempuan dan mendorong perilaku berani mengambil risiko. Temuan penelitian ini menunjukkan bukti lapangan penting untuk menopang argumen tersebut.

Penulis melakukan jajak pendapat terhadap lebih dari 1.300 anak usia delapan hingga 18 tahun beserta orang tua atau walinya sepanjang Februari lalu. Hasilnya menandakan masalah yang harus diselesaikan. Tingkat kepercayaan diri anak perempuan menurun 30 persen di antara usia delapan dan 14 tahun. Sementara itu, kepercayaan diri mereka mengenai disukai orang menurun dari 71 persen ke 38 persen. Lebih dari setengah remaja putri merasa tertekan kalau tampil tidak sempurna, sedangkan tiga dari empat gadis remaja takut gagal.

Apa yang menyebabkan mereka tidak percaya diri? The Atlantic memiliki beberapa alasan yang diambil dari hasil penelitian: "Pikiran negatif lebih umum muncul pada perempuan dibandingkan laki-laki, dan seringnya dimulai saat pubertas. Anak perempuan jadi lebih berhati-hati dan cenderung enggan mengambil risiko.

Selain itu, orang tua dan guru terbiasa meminta anak perempuan untuk bersikap sopan, manis dan perfeksionis sejak usia dini tanpa memahami konsekuensinya… Ditambah lagi, banyak remaja putri yang sudah menyadari kalau perempuan dan laki-laki diperlakukan berbeda sejak mereka masih 12 tahun. Hal ini juga memengaruhi rasa percaya diri mereka."

Hilangnya kepercayaan diri mereka sangat mencolok karena berbagai pengujian menunjukkan bahwa siswi SMP dan SMA, pada umumnya, lebih unggul daripada anak laki-laki di kelas. Sayangnya, keunggulan ini sering dilihat sebagai kepercayaan diri. Hal ini menutupi masalah yang lebih besar.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D