Tips Biar Tak Cepat Mati

Merekalah Manusia Pemilik Jantung Paling Sehat Sedunia

Suku Tsimane dari Bolivia berdasarkan penelitian punya jantung yang sangat sehat, padahal makan karbohidrat tiap hari. Apa rahasianya?
14.9.17
Sumber foto Ben Trumble/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Seumpama digelar kontes jantung sehat sedunia, sepertinya juara bertahan kontes itu datang dari kawasan hutan Amerika Selatan. Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal medis independen The Lancet suku Tsimane, suku asli yang masih menjalankan gaya hidup zaman praindustri di hutan Amazon, Bolivia, memiliki jaringan arteri paling sehat di antara semua suku asli yang pernah diteliti. Mereka memiliki kemungkinan terkecil mengidap coronary atherosclerosis (penebalan dinding arteri) yang biasanya memicu serangan jantung. Peneliti menyimpulkan kesehatan jantung anggota suku Tsimane di usia 80 tahun setara kesehatan penduduk Amerika Serikat berumur 50 tahun. Memahami perbedaan mendalam kedua masyarakat ini adalah kunci untuk menemukan gaya hidup yang lebih ramah jantung. Para peneliti menduga perbedaan mencolok tersebut berakar pada perbedaan gaya hidup dan pola maka. Sebagai catatan, para peneliti menemukan data bilamana penebalan arteri lima kali lebih jarang ditemui pada anggota suku Tsimane dibandingkan penduduk AS. ini bukan temuan yang mencengangkan tentunya. Apalagi kalau kita betapa seringnya dokter menganjurkan penderita gangguan jantung untuk "mengatur pola makan dan rajin berolah raga." Namun, temuan penelitian juga menenjukkan bahwa anggota suku Tsimane jauh lebih sehat lantaran mengamalkan gaya hidup dan pola makan mandiri. Artinya, mereka lebih sedikit mengkonsumi lemah jenuh dan karbohidrat mentah yang kaya serat. Temuan ini juga berarti mereka tidak merokok namun makan ikan dan satwa liar dan terus aktif sepanjang hari. Dengan beragam kesibukan seperti berburu, mengumpulkan bahan makan, memancing dan bercocok tanam, lelaki suku Tsimane rata-rata melakukan aktivitas fisik selama enam sampai tujuh jam sehari. Adapun, perempuan suku Tsimane menggerakkan tubuhnya rata-rata empat sampai enam jam sehari. Asupan makanan suku Tsimane sangat sehat. Mayoritas dibuat dari karbohidrat tinggi serat yang belum melalui proses pengolahan seperti beras, manioc, pisang raja, jagung, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Intinya mkanan mereka rendah lemak dan kaya protein hewani. Cara hidup suku Tsimane nyaris ideal untuk kesehatan jantung manusia kebanyakan. Populasi industri modern, sebaliknya, jauh lebih kurang aktif bergerak. Masyarakat industri modern menghabiskan 54 persen waktunya berleha-leha sementara suku Tsimane cuma menyisakan 10 persen waktunya bersantai. Belum lagi, penduduk modern lebih doyan merokok dan asupan makan mereka kurang sehat. Perbedaan ini begitu kontras hingga para peneliti merasa hilangnya cara hidup perambah-hortikulturalis seperti yang diamalkan suku Tsimane sebagai faktor penyebab maraknya sakit jantung (penyebab lainnya di antaranya umur, kebiasaan merokok, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, jarang bergerak, obesitas hingga diabetes.) Dengan demikian, ada baiknya kita menjadikan suku Tsimane suri tauladan untuk memerangi penyakit jantung. Idealnya kita wajib tetap aktif, berhenti merokok, jaga tekanan darah, kadar gula darah, dan Kolesterol LDL rendah. Gen tentu memiliki peran yang penting, meski para peneliti percaya pola makan dan kebiasaan berolah raga jauh lebih penting untuk mempertahankan ritme dan kesehatan jantung. Semua penjelasan tadi bukan isapan jempol belaka. Seiring pembangunan jalan raya baru dan perkembangan ekonomi mengubah pola makan suku Tsimane (pasar-pasar terdekat mulai menjajakan minyak goreng dan gula), kadar kolesterol di antara anggota suku Tsimane perlahan mulai naik. Gaya hidup mereka berubah drastis berdasar penelitian terbaru. Mari berharap semoga kita sempat belajar cara hidup ramah jantung pada suku Tsimane, sebelum mereka menghadapi masalah yang sama seperti peradaban lain di dunia.