Sejarah

Mengenang Kembali Horor Ravensbrück, Kamp Konsentrasi Nazi Khusus Perempuan

Sekelompok sipir perempuan Jerman pada 1946 diadili atas kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan di kamp konsentrasi. Tragisnya kasus mengerikan di Ravensbrück sekarang tak banyak diketahui.
31.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Tujuh puluh satu tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Desember 1946, pengadilan kejahatan perang Ravensbrück, di Kota Hamburg, dimulai. Terletak sembilan puluh kilometer utara dari Berlin dan dibuka pada 1939, Ravensbrück merupakan kamp Nazi perempuan terbesar dan paling jahat. Dari 16 orang yang diadili pada hari itu, tujuh di antaranya adalah perempuan. Salah satunya adalah Dorothea Binz, 26 tahun, seorang Asisten Kepala Penjara atau Oberaufseherin. Kejahatan Binz termasuk penembakan serta melepaskan anjing penjaga ke para tawanan. Ketika pengadilan berakhir di Juli 1948, 21 dari 38 individu yang dinyatakan bersalah adalah perempuan.

Iklan

Kisah Ravensbrück menyingkap fakta sejarah menyakitkan dan kurang disorot tentang peran perempuan dalam Nazi. Ravensbrück dikenal sebagai fasilitas pelatihan utama bagi ribuan penjaga Nazi perempuan, dikenal sebagai Aufseherinnen. Sempat dilatih dalam bidang seni kekerasan—termasuk seni pelecehan secara psikologis, hingga menghajar dan mencambuk—para perempuan ini dikerahkan ke beberapa kamp Nazi. Contohnya Irma Grese, diberi julukan Hyena Auschwitz, yang memulai karirnya di Ravensbrück di 1942. Kamp ini juga dikenal karena hampir seluruhnya dioperasikan oleh Aufseherinnen, sementara Dorothea Binz menjabat sebagai kepala penjara.

"Kita wajib membicarakan struktur masyarakat yang sangat patriarkis di zaman itu maupun dalam struktur Partai Nazi. Kita mesti ingat itu," kata Dr Rochelle G. Saidel saat saya wawancarai lewat telepon. Dia adalah Direktur Eksekutif Yayasan Remember the Women Institute di New York dan penulis buku The Jewish Women of Ravensbrück Concentration Camp. "Para perempuan tidak bisa menjadi pasukan SS, yang ditujukan untuk lelaki. Perempuan dianggap sebagai peran pembantu saja. Banyak dari perempuan ini sangat brutal… Biasanya mereka datang dari latar belakang kelas menengah atau lebih rendah. [Menjadi sipir kamp konsentrasi] memberi mereka status sosial lebih tinggi dan mereka menyukainya."

Ketika Ravensbrück dibuka, kondisinya cenderung lebih ramah dibanding kamp-kamp lain. Komunis asal Jerman, Margarete Buber-Neumann yang menyambangi kamp setelah menghabiskan waktu di Gulag Rusia mengingat kesan pertamanya soal Ravensbrück. "Ini kamp konsentrasi?" Suasana ramah pada tahanan berubah, seiring Perang Dunia II makin meluas ke banyak front. Kondisi kamp semakin memburuk menjelang kejatuhan Adolf Hitler. Ravensbrück mulai penuh sesak. Banyak tahanan terjangkit penyakit dan kekurangan gizi. Untuk bisa memenuhi kebutuhan perang Jerman, tahanan dipaksa bekerja lebih keras dan lebih lama dalam kondisi mengenaskan. Dilaporkan 74 tahanan perempuan asal Polandia, dijuluki "kelinci" di Ravensbrück, mengalami siksaan eksperimen medis di tangan para dokter kamp.

Tahanan Yahudi di Ravensbrück. Foto berasal dari 1939 via Wikimedia Commons

Selama Perang Dunia II berlangsung, lebih dari 130.000 tahanan perempuan sempat masuk ke kamp ini. Tentu saja, tidak semuanya Yahudi. Termasuk diantaranya anggota pasukan pemberontak, komunis, cendekiawan, anggota komunitas Romani, dan banyak lainnya yang tidak mengikuti standar ideal feminitas ala Nazi. Beberapa perempuan datang dengan anak-anaknya, dan lainnya melahirkan di dalam kamp. Para tahanan datang dari berbagai negara Eropa jajahan Jerman saat itu: Rusia, Perancis, Jerman, Belanda, dan penyumbang terbesar, Polandia. Sekitar 26 ribu tahanan yang menghabiskan waktu di Ravensbrück diduga orang Yahudi.

"Kondisi kamp memang tidak kondusif bagi semua perempuan tapi dari penelitian saya, perempuan Yahudilah yang mengalami situasi terburuk. Mereka diperlakukan lebih kasar, dan kondisi hidup mereka lebih parah," kata Dr Saidel. Antara kurun 1942 dan 1943, tahanan Yahudi dipindahkan dari Ravensbrück. Kebanyakan dikirim ke Auschwitz serta ke kamas gas dekat Kota Bernberg untuk dihabisi.

Foto-foto tahanan di monumen mengenang korban Ravensbrück. Foto via Flickr milik akun ho visto nina volare

Tahanan politik Yahudi diberikan hukuman khusus, ungkap Dr Saidel. "Kalau anda tahanan politik tapi bukan orang Yahudi, anda memiliki kesempatan lebih besar bertahan hidup. Para perempuan Yahudi yang menjadi tahanan politik, entah karena dia berideologi sosial demokrat atau komunis, pasti langsung dibunuh. Perintah penahanan memiliki beberapa kolom berbeda: ada kolom 'tahanan politik' dan seterusnya. Ada juga kolom untuk 'Yahudi.' Perempuan-perempuan Yahudi masuk ke dalam dua kategori tersebut."

Selama penelitiannya, Dr Saidel berbicara dengan penyintas Ravensbrück dan saudara-saudari mereka. Dia menceritakan kisah luar biasa sosok tahana bernama Gemma La Guardia Gluck, adik perempuan dari Fiorello La Guardia, mantan wali kota New York. Gluck, seorang warga Yahudi kelahiran AS yang menikahi seorang warga Hungaria, tengah tinggal di Budapest ketika pasukan Nazi menyerbu Rumania. Dia dipenjara di Ravensbrück ketika berumur 65 tahun tapi berhasil bertahan hidup. Ketika dilepaskan, dia sadar bahwa salah satu anak perempuan dan cucunya juga ditahan di waktu yang bersamaan, dalam ruang isolasi.

Nazi menciptakan sistem yang membuat siapapun bersedia melakukan tindakan jahat paling bengis bisa dilakukan seorang manusia.

"Gemma menulis di memoarnya, "Saya melihat si bayi dan berpikir, 'Di mana saya bisa mengubur dia?' Dia baru berumur satu tahun dan dalam kondisi yang tidak baik," kata Dr Saidel menirukan pengakuan Gemma. "Untunglah setelah perang berakhir, Gemma dan keluarganya berhasil bertahan hidup di Berlin. Di saat itu Fiorello sudah menjadi kepala usaha bantuan pengungsi di AS. Dia tidak tahu di mana adiknya selama itu. Akhirnya sang adik berhasil menghubunginya. Dia orang yang keras, dan tidak mau melanggar peraturan bahkan untuk adiknya sendiri. Saat itu, hukum mengharuskan perempuan yang menikah untuk mengikuti kewarganegaraan sang suami." Seiring waktu, Gluck dan keluarganya pindah ke New York.

"Perempuan dianggap sebagai figur Ibu, pemelihara, pengasuh—lalu bagaimana anggapan ini bisa kita pakai melihat realitas dari Holocaust di berbagai kamp konsentrasi?" tanya Daniel Patrick Brown seiring kami membahas kamp Ravensbrück. Dia adalah penulis dari buku The Camp Women, salah satu penelitian pertama tentang peran perempuan dalam sepak terjang Nazi. "Saya selalu menyebutkan fakta bahwa pelatihan dan latar belakang mempunyai efek besar terhadap bagaimana seseorang beraksi dan bereaksi. Nazi menciptakan sebuah sistem yang bisa mendorong menjadi manusia paling kejam. Pelatihannya didesain untuk menjadikan para perempuan bersikap keras, bahkan melakukan apapun yang perlu dilakukan. Dalam banyak kasus, pendekatan ini sukses. Tapi tentu saja kita tidak boleh memaklumi kejahatan tersebut dengan hanya mengatakan, 'Oh, mereka dilatih untuk melakukan tindakan semacam itu.'"

Krematorium di dalam kawasan Ravensbrück. Foto via Wikimedia Commons

Banyak nama kamp lainnya menjadi perlambang kekejaman rezim Nazi, namun belum banyak yang tahu tentang cerita para penyintas dan korban dari kamp Ravensbrück dan siapa saja yang bertanggung jawab atas kebiadaban di sana. Saya bertanya ke Dr Saidel apakah kamp ini terlupakan dalam kajian sejarah populer alntaran tersebut berisikan perempuan? "Itu salah satu alasannya tapi ada alasan lain," ujarnya. "Ravensbrück berada di area yang nantinya akan menjadi Jerman Timur. Banyak orang dari Jerman Barat tidak bisa pergi ke sana. Saya beruntung bisa berkunjung ke sana awal 1980; ini adalah kejadian yang jarang terjadi. Ada sekitar 20.000 pasukan Soviet yang ditempatkan di sana saat itu. Ketika saya memulai penelitian, Perang Dingin sedang berlangsung antara AS-Soviet, sehingga lebih banyak perhatian tertuju ke perang dua negara adidaya tersebut. Memang banyak kamp lain di Jerman Timur yang ditujukan untuk lelaki dan mereka mendapatkan lebih banyak perhatian. Fakta bahwa Ravensbrück adalah kamp perempuan tentu saja tetap berkontribusi yang menyebabkan cerita mengerikan dari kamp ini agak diabaikan oleh banyak ahli sejarah."

Beberapa tahun terakhir, Ravensbrück dan peran perempuan dalam kamp Nazi baru mulai mendapatkan perhatian. Banyak penulis dan peneliti melanjutkan pekerjaan yang dibangun oleh Dr Saidel, Daniel Patrick Brown, dan lainnya. Biarpun cerita tentang perempuan Ravensbrück kini sudah menjadi bagian dari sejarah, pelajaran yang kita bisa tarik dari kisah Ravensbrück tetap sangatlah penting.