Pacaran

Kalian Sebaiknya Jangan Pernah Merasa Bisa Dapat Pacar dan Hubungan Lebih Baik Dari Sekarang

Psikiater Adelheid Kastner menganggap pilihan putus hanya karena kita mengira bisa mendapatkan ganti lebih baik adalah ide buruk.
5.4.18
Photo by Andrea Rosevia

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Germany.

Putus sama pacar rasanya seperti ditonjok diperut selama berminggu-minggu. Selain itu, putus juga mengganggu rutinitas setiap hari. Gara-gara putus, rencana jangka panjangmu harus berubah, lingkungan pertemananmu juga berubah, harus cari kosan baru, dan kamu jadi mulai berpikir bahwa dunia tidak adil. Menurut skala stres psikiatris Thomas Holmes dan Richard Rahe, hanya kematian pasangan yang menandingi pedihnya putus.

Iklan

Terlepas dari segala kepedihan tersebut, di akhir usia 20an, kita lebih sering putus dibandingkan nenek-kakek kita seumur hidup mereka. Tapi, bukannya itu hal bagus? Kita jadi punya kesempatan untuk menemukan pasangan yang sempurna, sementara generasi sebelum kita mungkin bertahan dengan pasangan mereka karena menuruti norma masyarakat.

Psikiatris Jerman Adelheid Kastner tidak sepakat. Bulan lalu, perempuan berusia 54 tahun ini merilis bukunya yang berjudul Tatort Trennung, atau “Crime Scene Breakup” dalam bahasa Inggris. Dia menjalankan sebuah klinik psikiatris di Kelper University Clinic di Linz, dan menjadi terkenal berkat penunjukannya sebagai saksi ahli di persidangan kasus Josef Fritzl. Pada bukunya, dia mengeksplor kasus-kasus di mana putus secara dramatis merusak atau bahkan menghancurkan hidup banyak orang, dan dia mengklaim bahwa putus seperti itu bisa dihindari.

VICE: Halo Kastner. Dengan judul buku macam itu, kamu seperti menyiratkan putus cinta mirip tindakan kriminal.
Adelheid Kastner: Putus bisa jadi hal yang sangat berat bagi orang-orang—kita bisa sangat terganggu akibat putus. Jika kamu mengamati hidup orang-orang setelah putus dalam jangka panjang, jelas bahwa mereka tidak menjadi lebih bahagia di dalam hubungan mereka selanjutnya. Situs-situs kencan menyimpulkan bahwa kita bisa mengganti pasangan seperti mengganti ban mobil, dan banyak orang berasumsi bahwa pasangan mereka selanjutnya bisa membuat hidup mereka lebih baik. Tapi mungkin banget bahwa kamu gak menemukan orang seperti itu.

Iklan

Bahkan kalau kamu putusnya di usia 20-an atau awal 30-an?
Tentu saja kemungkinan bahwa kamu akan menemukan orang baru yang lebih cocok, lebih tinggi pada usia tersebut. Tapi bahkan di usia 35an, sebagian besar orang yang paham apa yang dibutuhkan supaya hubungannya sukses sudah tidak lajang lagi.

Foto Adelheid Kastner oleh Rudolf Gigler

Bukannya kita baru menyadari hal-hal paling penting bagi kita dalam sebuah hubungan justru setelah putus beberapa kali ya? Supaya kita lebih mengenal diri sendiri?
Ya, saya sih percaya kamu tahu nilai-nilai penting dalam hubungan di usia awal 20an. Bagaimana perasaanmu soal kesetiaan? Jenis keluarga seperti apa yang kamu inginkan? Keadaannya mungkin berubah, tapi pandanganmu soal hal-hal tersebut tidak berubah secara dramatis. Dan kamu harus ingat bahwa, supaya hubunganmu berhasil, kamu juga perlu beradaptasi. Pasanganmu tidak akan begitu-begitu saja pada 10 atau 20 tahun selanjutnya. Sebuah hubungan yang stabil bergantung pada apakah kamu memiliki nilai-nilai yang sama dan bersedia menghadapi permasalahan. Jadi ini bukan soal menemukan pasangan yang tepat dan sempurna sejak awal.

Bukannya ada situasi yang membuat putus lebih masuk akal?
Tentu saja. Kalau seseorang dalam hubungan tidak menghargai atau menerima pasangannya, mempermalukan pasangannya, atau menganggap remeh pasangannya. Saya cuma bilang bahwa motivasi di balik putus sebaiknya bukan keyakinan bahwa kita akan menemukan orang yang lebih baik. Melainkan: Saya akan lebih bahagia sendirian. Kalau kamu gonta-ganti pasangan setiap beberapa tahun sekali, akan sulit untuk merasa kerasan dengan siapapun.

Jadi, kamu intinya bilang anak muda zaman sekarang terlalu gampang bilang putus ya?
Hari gini banyak orang merasa lebih mudah pisah dari pasangan mereka dibandingkan berpisah dari fantasi dan ideal romantis mereka. Sebagian besar kasus, bukan pacarnya yang tidak tepat, melainkan ekspektasinya yang salah.

Nenek kakek saya menikah selama lebih dari 40 tahun sebelum kakek saya meninggal dunia. Saat saya bertanya pada nenek soal hubungan mereka, dia bilang: “Rahasia dari hubungan jangka panjang adalah jangan putus.” Cuma kan dulu pernikahan tidak terjadi hanya karena cinta melainkan karena keadaan ekonomi dan sosial.
Tentu, tapi kan gak cuma keadaan. Saya rasa ada fokus yang lebih besar, mereka berusaha mendampingi satu sama lain dan merawat satu sama lain. Sekarang, lebih mudah mengganti daripada memperbaiki—ponsel, laptop, mesin cuci, dan bahkan pasangan. Saran saya cuma: Jangan memulai hubungan karena kamu ingin mengalami emosi yang berbeda. Dan jangan sering-sering putus.