Kalau Pasanganmu Pernah Selingkuh, Kemungkinan Besar Akan Dia Ulangi Lagi

Bukannya nakut-nakutin, tapi berbagai penelitian psikologi menunjukkan perilaku tukang selingkuh punya risiko kambuh.
13.9.17
Foto ilustrasi oleh Antonio Guillem/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Di banyak negara, makin bertambah saja orang yang tertarik sama jenis hubungan nonmonogami. Tapi kita tidak bisa memungkiri, mayoritas manusia masih memilih untuk berhubungan secara monogami sama pasangannya. Tetap saja, kita semua tahu, banyak orang kerap melanggar kesepakatan monogami yang memaksa pasangan saling setia.

Selingkuh itu penyakit menular. Berbagai penelitian secara konsisten menghasilkan kesimpulan bahwa seperempat hingga seperlima individu yang menikah pernah berselingkuh melibatkan aktivitas seksual, di satu titik. Tentunya angka ini bahkan lebih tinggi di antara anak-anak kuliah yang belum menikah, di mana setengah hingga sepertiga dari mereka mengaku pernah berselingkuh.

Jadi apa yang terjadi ketika seseorang yang pernah berselingkuh memasuki sebuah hubungan baru? Apakah mereka berisiko berselingkuh lagi? Banyak orang kerap berasumsi seperti ini—"sekali kamu jadi tukang selingkuh, pasti pengennya serong melulu."

Lucunya, percaya atau tidak, belum pernah ada yang melakukan penelitian ilmiah perihal jawaban dari pertanyaan tersebut—paling tidak hingga sekarang. Sebuah penelitian baru yang diterbitkan Archives of Sexual Behavior mengonfirmasi keberaran pernyataan tersebut.

Dalam penelitian terbaru di Amerika Serikat, ilmuwan memeriksa data penduduk dari kategori young adult (umur 18 hingga 35) yang menjawab pertanyaan tentang hubungan romantis mereka secara berkala dalam periode lima tahun. Semua peserta belum menikah ketika penelitian dimulai. Biarpun melibatkan total hampir 1.300 responden, para peneliti hanya berfokus di 484 penduduk dewasa yang sempat menjalin paling sedikit dua hubungan berbeda dalam kurun waktu lima tahun.

Dalam setiap gelombang pengumpulan data, peserta ditanya apakah mereka pernah mengalami "hubungan seksual" dengan pihak ketiga selain partner mereka sejak mulai berpacaran serius. Sekitar 44 persen peserta menjawab "ya" terhadap pertanyaan ini, paling tidak satu kali.

Peserta juga ditanya apakah partner mereka melakukan hal yang sama. Total, 30 persen tahu bahwa partner mereka pernah berhubungan seks dengan orang lain, sementara 18 persen hanya mencurigai.

Jadi apakah mereka yang pernah berselingkuh kemungkinan akan kembali berselingkuh di hubungan selanjutnya? Jawabannya adalah ya. Faktanya, peselingkuh memiliki kemungkinan 3.4 kali lebih besar untuk melakukan hal yang sama di hubungan berikutnya. Namun tentunya kesimpulan ini juga tidak absolut. Empat puluh lima persen orang yang berselingkuh di hubungan pertama mereka melakukan hal yang sama di hubungan selanjutnya; secara kontras, 18 persen dari mereka yang tidak berselingkuh di hubungan pertama, akhirnya berselingkuh di hubungan selanjutnya.

Yang menarik, mereka yang diselingkuhi di hubungan pertama biasanya diselingkuhi di hubungan selanjutnya juga. Perlu dicatat juga bahwa mereka yang mencurigai partnernya berselingkuh di sebuah hubungan juga akan mencurigai hal yang sama dengan partner berikutnya.

Jadi di luar sana tidak hanya ada tukang selingkuh, tapi juga korban perselingkuhan berturut-turut.

Biarpun hasilnya menarik, tentunya ada limitasi yang penting dalam penelitian ini, bahwa para peneliti tidak membedakan hubungan konsensual vs non-konsensual. Jadi kita tidak tahu berapa yang sebenarnya berselingkuh atau memang berada di dalam sebuah hubungan terbuka.

Namun perlu disadari juga bahwa angka orang yang terlibat dalam hubungan terbuka jauh lebih rendah dibanding angka mereka yang berselingkuh. Contohnya, sebuah survei representatif nasional AS baru menemukan bahwa jumlah warga AS yang berselingkuh dalam sebuah hubungan suka sama suka, jumlahnya 2,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang mengaku berada di dalam hubungan terbuka.

Jadi ketika peserta mengatakan mereka berhubungan seks diluar hubungan, kemungkinan besar mereka memang berselingkuh. Maka dari itu, kalaupun kita memperhitungkan minoritas yang berada dalam hubungan terbuka, kesimpulan luasnya tidak akan berubah banyak.

Biarpun begitu, penting untuk mengingat bahwa biarpun sekitar setengah peselingkuh mengulangi perbuatan mereka di hubungan selanjutnya, setengah lainnya tidak. Ini berarti ucapan "sekali tukang selingkuh, selalu tukang selingkuh" tidak selalu benar. Ini tentunya adalah sebuah stereotip. Konsekuensinya, tidak adil menghakimi seseorang sebagai calon pacar yang buruk hanya karena mereka pernah berselingkuh di masa lalu.

Mungkin yang lebih penting daripada apakah seseorang berselingkuh atau tidak adalah alasan mereka berselingkuh. Salah satu alasan paling umum adalah karena mereka tidak bahagia dengan hubungan mereka. Mereka yang berselingkuh akibat dorongan situasi belum tentu akan melakukan hal yang sama selama mereka menemukan partner yang kompatibel di hubungan selanjutnya.

Jangan salah, ada juga yang berselingkuh bukan karena situasi, tapi karena kepribadian mereka. Misalnya, satu penelitian telah menemukan secara konsisten bahwa perselingkuhan lebih umum terjadi bagi mereka yang lebih tidak peduli terhadap orang lain dan memiliki disiplin diri rendah.

Orang-orang dengan kepribadian macam ini kemungkinan besar akan berselingkuh tidak peduli seperti apa masa depan hubungan mereka. Seperti yang anda bisa lihat, ketika membicarakan perilaku berselingkuh, dosa masa lalu seseorang kerap—tapi tidak selalu—terulang kembali.

Ketidaksetiaan akan menjadi sebuah perilaku berulang atau tidak, bergantung terhadap motivasi seseorang berselingkuh dari awal. Jadi waspada saja kalau pasanganmu punya riwayat selingkuh.

Justin Lehmiller adalah Kepala Jurusan Psikologi di Ball State University. Selain jadi dosen, dia mengelola blog Sex and Psychology. Follow him dia lewat akun Twitter @JustinLehmiller .