Sinetron

Lorong Waktu Adalah Sinetron Ramadan Terbaik di Indonesia

Seriusan. Mana ada lagi sains fiksi Islami seperti serial besutan Deddy Mizwar itu?
23.6.17
Screenshot season 2 'Lorong Waktu'. PT Demi Gisela Citra Sinema/Youtube.

Kalau ditanya apa inovasi paling imajinatif yang pernah muncul dari Indonesia, saya tak akan menjawab "Pembangkit Listrik Tenaga Kedondong." Maaf, meski kedengaran keren, ternyata kedondong listrik mengecewakan. Daripada listrik pohon kedondong, saya lebih milih Lorong Waktu sebagai "penemuan" manusia Indonesia paling Imajinatif.

Lorong Waktu adalah sinetron religi Ramadan yang tayang pertama kali 6 Desember 1999. Sinetron ini berhenti tayang 10 Juli 2006. Selama tujuh tahun, Lorong Waktu selalu konsisten menghiasi bulan Ramadan, dengan konten terhitung mbeling. Layaknya sinetron religi pada umumnya, Lorong Waktu tentu masih memuat elemen-elemen standar sinetron religi: kisah cinta Islami, adegan kocak melibatkan komedian dan petuah agama dari sosok Pak Haji—yang sulit kita bayangkan diperankan selain oleh Deddy Mizwar. Namun, tak seperti sinetron religi yang terperangkap dalam plot standar—mantan rocker yang mendadak hijrah karena mengejar anak gadis Pak Haji atau Pak Haji yang menginsafkan sekelompok anak-anak nakal, Lorong Waktu menambah satu elemen asing dalam khazanah tayangan religi di televisi nasional kita: perjalanan menembus waktu dan dimensi.

Iklan

Ide mengoplos agama dan sains fiksi tak pernah dieksekusi sebelumnya. Malah, tak ada lagi sinetron religi sains fiksi setelah Lorong Waktu. Mengherankan.

Sebagai sebuah eksperimen sinema elektronik (aseekk, gue masih ingat kepanjangan sinetron), Lorong Waktu terbukti memiliki faedah yang besar. Selama 6 season penayangannya, Lorong Waktu mengajarkan dua poin di bawah ini yang gagal dilakukan oleh sinetron religi (Islam) lainnya:

Sains Fiksi itu Bisa Dibikin Islami Lho!

Dalam serial sains fiksi mancanegara, perjalanan waktu seringkali dipicu usaha mengubah peruntungan atau mengubah nasib. Plot ini standar banget lo, kamu bisa menemukannya di film mainstream sekelas Back To The Future II hingga ke film low-fi Sci-fi macam Primer sekalipun. Nah, Lorong Waktu tak terjebak dalam pakem seperti ini. Dalam sinetron yang pernah tayang di tiga stasiun berbeda itu [SCTV, TPI dan TVRI], perjalanan waktu adalah sebuah ikhtiar demi menebalkan iman. Ugh. Jadi, alih-alih pergi ke masa lalu supaya menang taruhan sepakbola misalnya, karakter sinetron avantgarde ini bepergian memakai mesin waktu untuk mencari hidayah dan meningkatkan ketaqwaan. Tak usah berpikir kejauhan, apalagi pakai plot rumit-rumit. Kadang Pak Haji Udin dan Zidan timetravelling sekadar berusaha menghentikan aksi pencuri kotak amal masjid dan membuatnya bertobat, menemui Mpu Gandrung (saudara jauh Mpu Gandring) yang membuat keris untuk Kyai, atau membantu usaha Ustaz Addin melamar Sabrina.

Berbekal premis cerita sederhana macam ini, Lorong Waktu berhasil menghindari kerumitan khas film bertema serupa [baca: multiple timelines]. Dugaan saya, Deddy Mizwar sengaja mengambil langkah tersebut agar penontonnya—yang diasumsikan telah kelaparan menunggu momen buka puasa—bisa dapat tontonan sederhana, mempertebal iman, sekaligus, meminjam tagline khas Deddy Mizwar, tinggal lep. Tak usah kebanyakan berpikir lah. Jangan banyak tanya kayak karakter Zidan (tokoh bocah diperankan Jourast Jourdy) yang selalu bikin kita berpikir, "nih bocah selain buat mengesankan sinetron Lorong Waktu bisa ditonton anak-anak, gunanya apa sih?"

Iklan

Pendek kata, Deddy Mizwar dan penulis naskah Wahyu HS berhasil menawarkan cerita timetravel yang syar'i, yang enggak pernah disampaikan Dr. Emmett Brown sekalipun.

Sains Fiksi Tak Harus Penuh CGI

Ada konsep dalam Islam yang dikenal lewat istilah qona'ah. Artinya,bersyukur dengan apa yang dimililki. Lorong Waktu adalah pengejawantahan paling hakiki. Lazimnya, sineas Indonesia kalau disodori naskah yang berbau teknologi dikit, bakal langsung menerjemahkan menjadi sinetron "futuristik" yang maksa abis (ingat Panji Manusia Millenium atau Saras 008?).

Lorong Waktu terhindari dari jebakan batman macam ini. Deddy Mizwar dan krunya tak gelap mata. Qonaa'ah keterbatasan yang dimiliki, mereka ikhlas ridho saja walau cuma bisa menampilkan teknologi masa depan yang sudah kelihatan cupu pada masanya. Mesin waktu dalam serial ini mirip mesin teleportasi yang dicomot dari lelang properti serial Star Trek 70-an. Komputer yang digunakan Ustaz Addin selama empat season—sang penemu mesin waktu yang diperankan berturut-turut oleh Adjie Pangestu, Dicky Chandra, dan Hefri Olifian—tak jauh beda dari komputer di rental dekat kampus-kampus Indonesia awal pertengahan 90-an, lengkap sama floppy disk-nya. RETRO ABIS!!!

Layaknya amalan baik yang selalu membuahkan hasil, sifat qona'ah Deddy Mizwar dkk membuahkan hasil: special effect cupu Lorong Waktu, serta adegan extreme close up yang melelahkan di setiap episodenya, membuat sinetron ini semakin terkesan retrofuturistik yang cult. Ntab!

Iklan

Deddy Mizwar bukan satu-satunya insan film pengamal prinsip qo'naah. Karena keterbatasan budget, James Mangold membatasi penampakan teknologi futuristik dalam Logan. Hasilnya? Logan menuai puja-puji juga kan. Sayang, semangat qo'naah Lorong Waktu tak diwarisi sineas lokal. Tahun 2015, X-Jo menggarap Garuda Superhero, sebuah film yang dipaksakan jadi film CGI lokal pertama. Hasilnya? Jelas mencengangkan. Alih-alih jadi film superhero yang bikin kita bangga, Garuda Superhero malah jadi contoh bencana akibat perbuatan manusia.

Adegan Pak Haji Husin dan Zidan setelah mengalami perjalanan waktu. Kayaknya melanggar standar keamanan perjalanan waktu deh.

Malang, kendati sukses sebagai sebuah sinetron religi yang laris, formula cerita Lorong Waktu tak pernah diuji kembali. Sesudah Lorong Waktu season 6, Deddy Mizwar cuma mengulang peran Pak Haji/Kyai cool di Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Surga persis seperti Johny Depp mengulang-ulang lakon-lakon nyentrik. Di lain pihak, tayangan TV menjelang Iftar kualitasnya makin jongkok saja.

Tenang, meski tinggal kenangan, Lorong Waktu sudah diabadikan di Youtube oleh beberapa netizen budiman. Bung dan Nona masih bisa menikmati sinetron religi nyentrik ini kapanpun kalian mau.

Lebih baik kita berdoa agar Joko Anwar mengurungkan rencananya merombak ulang Pengabdi Setan—film musyrik hih!—dan bergegas meremake Lorong Waktu jadi film panjang.

Amin.