Lelaki ini Membuat Game Canggih Bisa Dimainkan di Komputer Butut
fc
Game

Lelaki ini Membuat Game Canggih Bisa Dimainkan di Komputer Butut

Bagi gamer PC yang tidak memiliki komputer canggih, jangan khawatir. Tinggal utak-atik sedikit settingan di komputer niscaya kamu bisa memainkan semua game-game baru paling mutakhir.
09 September 2017, 9:00am

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint

Lukasz Pilch, seorang penggemar Grand Theft Auto memainkan game tersebut di laptopnya yang bobrok. Lha kok bisa? Game sebagus itu dimainkan di laptop butut? Berkat sedikit utak-atik yang membuat grafik GTV V terlihat seperti sampah, Pilch berhasil memainkan game tersebut.

"Saya menutup mata dan menyalakan game sambil berdoa agar dia menyala," ceritanya ke saya ketika mengingat momen dia mengunduh GTA V dan menginstalnya dalam komputer.

Setelah dinyalakan, muncul berbagai menu mengatakan laptopnya tidak sanggup menjalankan game ini. Tapi Pilch tidak menyerah. Secara ajaib, game berhasil dimulai, dan Pilnch meloncat kegirangan. Namun kemudian realita menampar: bahkan dengan settingan paling rendah sekalipun, gamenya tetap tidak bisa dimainkan. Kadang, game tersebut bergerak dalam kecepatan siput: delapan frame per detik. Sebagai perbandingan, di PlayStation 4 dan Xbox One, GTA V berjalan dengan kecepatan 30 frame per detik. Kebayang kan leletnya?

"Saya tinggal di Polandia. Laptop dan perangkat keras PC mahal disini," jelas Pilch. "Merakit PC bagus di sini lebih mahal dibanding di AS atau negara manapun di Eropa Barat."

Pilch mengandalkan internet guna mencari trik-trik yang bisa membantunya memainkan game kesayangan. Dengan menggunakan hack yang dapat mematikan efek-efek mewah yang membuat game modern terlihat cantik, kini Pilch memiliki peluang untuk memainkan GTA dengan perangkat keras kuno. Semua foto dalam artikel ini diambil dari GTA V yang dimainkan menggunakan komputer Pilch. Biarpun pencipta GTA V mungkin senang menerima uang Pilch, tentunya mereka tidak senang melihat game ciptaan mereka terlihat seperti sampah. Tapi ya paling enggak, sekarang Pilch bisa main kan.

Setelah susah payah, Pilch berhasil menaikkan rate frame dan bertahan di antara 13 hingga 27 frame per detik. Bagus? Enggak. Tapi ya bisa diterima bagi seseorang yang terbiasa memainkan game dengan frame rendah macam ini. Tentunya ada banyak glitch yang muncul. Banyak adegan tidak singkron, beberapa jalanan menghilang, dan gamenya kadang-kadang ngefreeze hampir satu menit lamanya, sebelum bisa kembali dimainkan. Tapi gamenya bisa jalan.

"Sebetulnya gue suka gamenya," katanya. "Gambarnya sih kacau balau dan ngelag, tapi ceritanya, karakternya, soundtracknya, dan banyak elemen yang menyenangkan masih bisa dinikmati. Mungkin kapan-kapan gue akan kembali memainkan game ini dalam versi yang layak."

Pilch berterima kasih kepada sosok orang yang memungkinkan dia memainkan GTA V: saluran YouTube LowSpecGamer yang berfokus membantu orang-orang memainkan game menggunakan perangkat komputer tua.

LowSpecGamer, atau sosok di belakangnya, Alex-yang meminta nama belakangnya tak disebut di artikel-, menjalankan saluran ini dari sebuah apartemen di Spanyol. Dilahirkan di Venezuela, Alex menyadari bahwa menjadi seorang gamer di negara berkembang sangat menantang. Mendapatkan akses ke rilisan game atau perangkat keras terbaru dengan harga terjangkau hampir tidak mungkin terjadi. Ketika Alex menimba ilmu teknik di bangku universitas, orang tuanya membelikan dia sebuah laptop, tapi ternyata dia sadar laptopnya tidak cukup kuat untuk memainkan game.

Pantang menyerah, Alex menggali informasi di internet untuk menemukan solusi. Masa iya gak ada orang yang menemukan trik-trik pintar untuk memainkan game di perangkat sederhana? Sayangnya dia tidak menemukan apa yang dia cari.

Dia mengatakan, "Saya frustasi terus mendengar narasi online bahwa gamer PC adalah yang 'paling unggul'. Ini tidak menggambarkan pengalaman pribadi saya."

Suatu hari, Alex menemukan seseorang di kampusnya memainkan game first-person shooter dengan sebuah laptop. Gamenya ngelag abis, tapi ternyata sang pemain sama sekali tidak terganggu. Di minggu yang sama, seorang sepupu bercerita bagaimana dia melakukan berbagai trik agar bisa memainkan The Elder Scrolls V: Skyrim di komputernya yang bapuk. Pilch mulai menyadari mungkin ada solusi.

"Saya bukan satu-satunya orang yang bersedia menurunkan kualitas serendah mungkin agar bisa bermain," katanya.

Alex baru saja menginstal Batman: Arkham Origins di komputernya, dan tidak heran, banyak ngelag. Namun setelah mengutak-atik settingan yang terkubur dalam game, hal-hal yang para developer game tidak ingin disentuh, Alex berhasil membuat game ini bisa dimainkan. Proses ini melalui banyak coba-coba dan Alex harus bermain-main dengan resolusi game, kualitas tekstur, bayangan, dan banyak settingan lainnya. Bahkan bagi seseorang yang sudah berpengalaman, tidak selalu jelas perubahan settingan mana yang akan paling berdampak.

Tentunya visual game tersebut tidak akan terlihat cantik, tapi bukan itu poinnya. Yang penting bisa main! "Dari pengalaman gue, ketika elo main game yang visualnya sampah, elo jadi merhatiin detail-detail yang tadinya elo lewatin,"

Beberapa game lebih mudah diutak-atik dibanding yang lain. Tapi ada juga game-game yang engga ngebolehin pemain ngutak-ngatik settingan. Game seperti Mad Max diprogram sedemikian rupa sehingga perubahan settingan akan membuatnya tidak bisa dimainkan. Alex kadang menunggu hingga seorang modder mengutak-atik game duluan dan menemukan cara untuk mengubah tampilannya. Beberapa game seperti Batman: Arkham Knight, ternyata hasilnya malah ancur. Arkham Knight dikabarkan dirilis untuk PC dalam keadaan kacau dan tidak bisa dijalankan di komputer bagus sekalipun.

"Ini tantangan utama gue sih," jelasnya. "Gue belum menyerah. Sampe sekarang gue masih berusaha. Gue hampir banget nemuin trik-trik yang orang lain belum temuin...Tapi gue perlu istirahat dulu nih."

Kerja kerasnya tidak sia-sia dan dia memiliki hampir 100 ribu subscriber di YouTube. Angka ini cukup tinggi hingga dia menimbang-nimbang jadi vlogger. Di pertemuan Gamescom di Jerman awal bulan ini, seorang penggemar mendatangi Alex dan memberikannya beberapa part komputer tua untuk dites.

Namun tidak semua pertemuan di Gamescom berakhir dengan cerita manis. Ketika sedang memainkan sebuah game, seorang pencipta dan desainer game itu mendekatinya. (Dia menolak menyebutkan game apa yang sedang dimainkan.) Ketika Alex menjelaskan apa yang dia lakukan di saluran YouTubenya, sang desainer mengangguk terhibur.

Sayangnya sang pencipta game tidak terlihat terlalu senang.

"Si pencipta game menatap saya dan mengatakan, 'Ngapain sih elo gituin gamenya?'" tanyanya. "Soalnya gue nanya ke dia, 'Eh game ini bisa dikunci gak sih sistem pencahayaannya?' Dia menatap saya penuh horor… Ya gimana ga marah. Mereka menganggap game sebagai seni, jelas mereka tidak suka orang mengutak-atik ciptaan mereka."

Untungnya ada banyak pencipta game yang lebih terbuka. Ketika seorang penggemar meminta Alex melihat Oddworld: New 'n Tasty, versi remake dari Oddworld: Abe's Oddysee, developer game tidak hanya memberikan dia kopi game tersebut, tapi justru membantu menunjukkan settingan utak-atik yang dia cari.

Alex mengatakan para developer seharusnya memperhatikan fakta berikut: saluran YouTubenya adalah bukti ada banyak orang yang ingin memainkan game tertentu tapi tidak mampu. Overwatch, misalnya, adalah sebuah game yang didesain khusus untuk bisa dimainkan di banyak mesin sekaligus. Alex kaget ketika sadar bahwa Overwatch sangat enteng untuk dimainkan.

"Aneh ga sih ada yang ngomongin aspek ini?" jelasnya. "Menurut saya ini adalah penyebab besar dari kesuksesannya."

Hingga sekarang, Alex masih tidak memiliki PC yang super kuat. Baru-baru ini dia meminjam laptop yang mendingan dari seorang teman, tapi hanya dipakai untuk ngedit video. Laptop itu GPU-nya tetap rendah dan tidak ramah VR.

Dengan hampir 100 ribu subscriber, jelas bahwa Alex melakukan sesuatu yang berarti. Kita toh jelas menolak kenyataan bahwa game-game dengan grafik canggih hanya bisa dimainkan oleh mereka yang punya komputer bagus nan mahal. Game itu seharusnya milik semua! Dan inilah senjata kita untuk mencapai kesetaraan, dengan mengutak-atik settingan grafik seenaknya. Ga peduli grafiknya bakal keliatan kayak sampah, ah, peduli setan. Toh tujuan kita yang utama cuma satu: Kita hanya ingin mainin itu game!