Akhir Dunia

Sains Memberi Kita Indikasi Kiamat Sudah Dekat

Salah satu tandanya: jumlah serangga menurun drastis beberapa tahun belakangan. Saatnya banyak berzikir dan berbuat baik kepada sesama.
23.10.17
Foto ilustrasi dari akun Flickr/Neta Bartal

Satu kebohongan besar selalu diulang-ulang selama ribuan tahun adalah kepercayaan manusia tentang datangnya kiamat. Kita diajari kalau kiamat itu menyapu peradaban dalam semalam. Kita tidak akan bisa melakukan persiapan apapun saat akhir dunia datang. Tiap tafsir beda-beda sih. Ada yang bilang planet kita bakal terbakar jilatan api matahari, sehingga langit semu oranye lalu kita di bumi cuma bisa pasrah saja menunggu mati. Ada juga yang bilang permukaan tanah merekah. Tapi semuanya sama: kiamat pokoknya terjadi dalam satu hari saja. Apa yang akan kamu lakukan jika akhir dunia tiba? Barangkali kita akan berpegangan tangan dengan orang yang kita sayangi, ayah-ibu, suami/istri, dan keluarga, termasuk juga sama hewan peliharaan kita. "Aku sayang kalian semua," mungkin begitulah yang akan kalian ucapkan. Kalian memeluk erat-erat orang terkasih, sembari planet ini meledak menjadi atom-atom kecil, yang tersebar ke jagat raya. Tak terbayangkan, apakah kiamat bakal menyakitkan dan bagaimana rasanya menjelang kegelapan tiada ujung setelahnya.

Iklan

Sains membuktikan tidak seperti itu proses kiamat sebenarnya. Boleh dibilang, kiamat yang datang sehari langsung jadi sebetulnya "skenario terbaik" karena umat manusia tidak akan tersiksa terlalu lama.

Di Jerman, sudah muncul tanda kiamat. Prosesnya bertahap. Populasi serangga menurun drastis. Kesimpulan ini datang dari penelitian yang berlangsung 27 tahun terakhir. Biomassa serangga terbang di berbagai wilayah Jerman, terutama pegunungan dan hutan, anjlok hingga 76 persen. Populasi serangga terbang malah menurun hingga 82 persen pada musim panas, musim puncak hewan-hewan itu biasanya memenuhi ekosistem. Para peneliti menggunakan jaringan raksasa mirip tenda demi mengumpulan sample serangga-serangga terbang di 63 kawasan konservasi alam seantero Jerman. Semua jaring menunjukkan penurunan populasi merata untuk setiap jenis serangga.

Ingat, data ini diambil dari kawasan hutan lindung, habitat serangga itu bisa hidup secara optimal. Bayangkan seperti apa data dari kawasan urban. Makanya kita patut khawatir mendengar hasil penelitian tadi.

"Umat manusia mengubah bentang alam menjadi tak ramah bagi banyak jenis mahluk hidup penghuni Bumi lainnya. Data-data ini menunjukkan kita sedang mengarah menuju kiamat lingkungan di masa mendatang."

Ah, itu kan cuma data serangga. Iya deh. Kalian mungkin tidak begitu simpatik sama serangga. Toh, hewan ini lebih sering jadi pengganggu ketika kalian sedang kemping atau piknik di kebun raya. Saya pun sebenarnya enggak terlalu peduli kalau mayoritas serangga musnah. "Eh, jangan salah lho, serangga itu penting untuk menopang ekosistem. Mereka adalah hewan utama yang mendukung penyerbukan tanaman," barangkali ada ilmuwan mengingatkan kita demikian. Bodo amat. Pasti banyak orang tak peduli. "Jangan jumawa jadi manusia. Di alam bebas, serangga adalah sumber makanan penting bagi hewan dan tumbuhan. Kalau tidak ada serangga, rantai makanan bakal tergang…", hus-hus, ini lagi, ilmuwan cerewet. Ssstt. Orang yang denger boring bro mendengar penjelasanmu. Kalau saya, penulis kapiran ini tidak dipercaya pembaca, apalagi kalian yang sukanya ngasih penjelasan teknis njelimet kayak gitu.

Setidaknya, ada beberapa ilmuwan yang tampaknya tidak bisa kita abaikan. Dengarkan penjelasannya soal penelitian serangga di Jerman itu, yang dikutip surat kabar the Guardian:

"Serangga adalah penopang dua pertiga populasi Planet Bumi. Berbagai penelitian menemukan data bila ada penurunan tajam terhadap populasi mereka. Kesimpulan sementara ini pemicunya karena umat manusia mengubah bentang alam menjadi tak ramah bagi banyak jenis mahluk hidup penghuni Bumi lainnya. Data-data ini menunjukkan kita sedang mengarah menuju kiamat lingkungan di masa mendatang. Jika kita sampai membiarkan serangga musnah, maka peradaban yang kita kenal sekarang bakal ikut runtuh."

— Begitulah penjelasan Profesor Dave Goulson dari Sussex University. Bayangkan, betapa si guru besar biologi ini suka menakut-nakuti. Masak dia memakai kata "kiamat lingkungan" dan "keruntuhan" dalam satu paragraf yang sama. (Jujur saja, saya percaya kiamat akan datang. Tapi penjelasannya bikin saya mikir, njir, datangnya lebih cepat dari perkiraan).

"Kita harus waspada melihat tren penurunan populasi serangga terbang yang sangat cepat di berbagai kawasan."

— Kali ini diucapkan Hans de Kroon, dari Radboud University, dia peneliti utama penelitian di Jerman. Kayaknya juga bakat jadi juru ramal kiamat. Ini baru serangga terbang. Mending dia enggak usah meneliti populasi binatang lainnya deh. Biar kita enggak mendengar kabar buruk lagi.

"Situasi ini mencemaskan. Data tersebut diperoleh dari hutan lindung, kawasan yang dijaga sangat ketat oleh manusia agar tidak tercemar. Nyatanya, penurunan populasi serangga secara drastis terlanjur terjadi."

— Begitulah ucapan Casper Hallmann dari Radboud University. Intinya, kita sudah merawat habitat serangga supaya mereka bisa hidup nyaman. Lah, hewan-hewan itu masih juga mengalami kematian massal. Mungkin enggak sih serangga itu sebenarnya cuma ikut urbanisasi atau transmigrasi ke daerah lain? Kalau manusia pergi dari pedesaan yang asri kan biasanya demi jadi buruh kerah biru di kota yang dibayar UMR tuh. Siapa tahu serangga punya motivasi kayak kita. Ada ga ilmuwan yang bisa memberi penjelasan kenapa populasi serangga anjlok di hutan lindung?

Berikut keterangan dua ilmuwan yang terlibat penelitian serangga di Jerman selama 27 tahun belakangan. Jangan berharap banyak. Mereka juga bingung kenapa semua ini terjadi.

"Selain pengaruh manusia, ada faktor perubahan iklim selama beberapa tahun. Tapi itu tetap sulit menjelaskan alasan jumlah serangga menurun tajam."

— Martin Sorg, dari Krefeld Entomological Society, lembaga peneliti serangga.

"Penyebab populasi serangga di hutan lindung turun drastis masih bisa diperdebatkan. Bisa saja tak ada lagi makanan bagi sebagian jenis serangga. Namun, kita tidak bisa melupakan faktor maraknya pemakaian pestisida oleh petani di seluruh dunia. Kombinasi keduanya memicu kepunahan beberapa jenis serangga."

— Lagi-lagi Pak Bos Dave Goulson, orang yang suka memberi kabar buruk.

Kata-kata para ilmuwan itu sudah pernah dikabarkan tukang teler yang saya kenal ketika ngobrol habis mabuk-mabukan mendekati jam 12 malam. Dia bilang, "banyak mahluk sekarang mati bro, kita bakal mengalami kiamat bro…."

Iklan

Gila ya. Pengetahuan para ilmuwan itu ternyata sudah dimiliki sejak lama oleh para pemabuk yang paranoid. Gini. Sekarang keputusan di tangan kalian. Contoh kasusnya memang di Jerman. Tapi kita bisa sepakat, Jerman adalah negara yang sangat tertib menjaga kawasan hutan lindung. Kalau di negara kayak gitu aja serangganya mati massal, maka ada beberapa pilihan yang bisa kita ambil dalam waktu dekat. Di antaranya:

Pikirkan momen yang selalu menghantuimu. Momen yang membuatmu menyesal selama hidup. Momen yang ingin kau perbaiki. Barangkali karena kau berbuat salah, atau mencurangi sahabat. Atau apalah. Dosa-dosa terbesar, yang selama ini ingin kalian tebus tapi cuma lewat angan-angan macam "gimana ya kalau dulu itu aku…". Kiamat adalah saat yang tepat untuk memperbaikinya.

Bisa juga, jaga hubungan baik sama orang tua. Apalagi kalau kalian marahan selama ini.

Ah, atau gini aja. Persetan sama harta benda. Beli barang apapun yang kamu mau coy atau pergi ke tempat wisata impianmu. Jangan mikirin tagihan bulanan atau KPR melulu. Kiamat udah mulai ada tanda-tandanya nih. Nikmati hidupmu.

Kalau saya sih, karena dunia mulai menunjukkan tanda kiamat, pengen nih pergi ke Goa, pulau indah di Samudra Hindia. Mending saya buru-buru ke sana, sebelum pulau itu dipenuhi bangkai serangga mati, yang pasti disusul bangkai mahluk hidup lainnya.

Atau, buat kalian yang masih malas menyelesaikan skripsi, tesis, atau disertasi, cepetan diselesaikan gih. Enggak enak lho ketika kiamat sudah terjadi, status kita masih aja pengangguran terselubung.

Bagaimanapun, susah sih emang kalau yang mati cuma serangga. Sulit meyakinkan orang-orang kalau kiamat sudah dekat. Lebih mudah menyadarkan manusia lain kalau matahari terbit dari Barat, atau empat penunggang kuda datang dari jilatan api di angkasa ketawa melihat manusia ketakutan. Padahal, tanpa kita sadari, saat manusia mengira hidup masih panjang, tanda-tanda kiamat itu sudah terlihat dari serangga yang tidak menarik sama sekali. Sadarlah saudara-saudaraku. Nikmati hidupmu. Kiamat sebentar lagi tiba!!!

Follow penulis artikel ini di akun Twitter @joelgolby. Orangnya baik, asal ga diajak ngobrol soal kiamat.