Facebook

Peretasan Facebook Ternyata Lebih Parah dari Yang Kita Duga

Minimal 30 juta akun berhasil diakses data pribadinya pekan lalu. Apa jaminan kita di Indonesia tak terdampak?
Facebook menyatakan peretas sukses mengakses data pribadi 30 juta pengguna

Jumat pekan lalu (10/16), Facebook mengungkapkan aksi peretasan terbesar dalam sejarah raksasa media sosial itu. Rupanya, temuan yang terungkap jauh lebih parah dari yang kita kira sebelumnya.

Tatkala pertama kali melaporkan terjadinya peretasan terhadap platformnya dua pekan lalu, Facebook mengatakan 50 juta akun milik penggunanya telah menjadi korban peretasan. Selanjutnya Facebook menurunkan angka tersebut menjadi 30 juta saja. Namun, cakupan informasi yang berhasil diakses para peretas lebih parah dari yang mulanya dilaporkan Facebook.

Iklan

Selain berhasil menggasak data-data dasar seperti alamat email dan nomor ponsel pengguna, para peretas juga berhasil memeroleh akses terhadap data-data pribadi pengguna seperti siapa dan apa yang mereka cari lewat fitur pencarian Facebook. Malah untuk sekitar 14 juta akun, dampak peretasan ini lebih mengerikan lagi: para peretas berhasil memeroleh data-data yang jauh lebih personal semacam status hubungan percintaan, agama, kampung halaman, kota yang kini didiami, tanggal lahir serta jenis gawai yang digunakan untuk mengakses Facebook.

Facebook juga menyebutkan pelaku peretasan juga mengetahui sepuluh tempat terakhir yang dikunjungi atau atau ditagkan pada seorang pengguna, orang atau Facebook page yang mereka follow serta pencarian terbaru yang mereka lakukan.

Serangan peretasan terhadap Facebook pertama kali terdeteksi pada 14 September lalu. Raksasa media sosial ini mengakui bahwa mereka baru bisa menutup kelemahan platformnya 13 hari kemudian pada 27 September.

Guy Rosen, vice president of product management Facebook, dalam conference call bersama sejumlah wartawan menyatakan bahwa sampai saat ini Facebook belum bisa membeberkan secara mendetail siapa saja yang bertanggung jawab dalam serangan ini dan di mana keberadaan mereka saat ini. Hal ini dilakukan atas permintaan FBI yang sampai saat ini masih menyelidiki kasus ini.

Facebook juga menyatakan bahwa mereka tengah bekerja sama dengan FTC dan di Irlandia guna mengatasi masalah peretasan ini. Saat ini, markas internasional Facebook berada di Dublin.

Guna mencegah peretasan lebih lanjut, Facebook memaksa pengguna yang menjadi korban peretasan untuk kembali login untuk menghapus token yang dicuri para peretas. Sayangnya, untuk 14 juta pengguna Facebook, efek peretasan ini bisa berlangsung dalam jangka panjang. Artinya, para peretas masih punya akses terhadap data pribadi mereka, terlepas dari apapun yang mereka lakukan.

Kunjungi laman Facebook Help Center, untuk mengetahui apakah akun kalian telah menjadi korban peretasan 14 September lalu.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News