Saya Bersepeda Melewati Jalanan Paling Berbahaya Sedunia
Foto oleh Miguel Ángel Vicente de Vera | VICE Colombia
Travel Ekstrem

Saya Bersepeda Melewati Jalanan Paling Berbahaya Sedunia

Jalan raya menghubungkan ibu kota Bolivia La Paz dan Kota Los Yungas adalah salah satu rute paling maut di dunia. Jangan dicoba kalau anda masih pesepeda amatiran.
3.9.18

Jalan yang menghubungkan Ibu Kota La Paz ke Los Yungas, kawasan hutan hujan Bolivia, menyimpan rute paling ditakuti manusia sedunia. Julukannya saja seram, el Camino de la Muerte (selanjutnya disebut Camino), alias "Jalan Kematian." Dengan pinggir tebing setinggi nyaris 800 meter yang tanpa pelindung sama sekali, jalan sempit tak rata dan turunan seringkali panjangnya nyaris dua meter, rute ini telah makan banyak korban. Sebelum dibangun jalan baru pada 2006, tiap tahun rata-rata 200 orang menemui ajalnya di sini karena mengalami kecelakaan.

Iklan

Saya Miguel Ángel Vicente de Vera, seorang jurnalis perjalanan sekaligus petualang dari Spanyol, menjajal rute tersebut. Dalam petualangan solo terakhir saya di Amerika Selatan, saya merasa wajib melewati jalanan berbahaya ini sembari bersepeda melintasi wilayah Bolovia. Sebelum benar-benar melaluinya, memikirkan bahwa saya bakal melewati rute maut itu dengan sepeda saja sudah cukup membuat adrenalin saya mendidih.

Saking termahsyurnya Camino, saya merasa wajib menulis detail-detail yang saya alami selama melewati rute yang menggetarnya nyali tersebut. Apa yang saya hadapi, sebagaimana tertulis dalam kronik di bawah, adalah pengalaman saya kejar-kejaran dengan malaikat maut yang ditandai insiden ban bocor, penduduk setempat yang bete, dan kelokan jurang bikin adrenalin terpacu kencang.

Berikut catatan saya selama bersepeda di rute maut ini.

***

Pukul 8:00 Pagi
Sebuah truk yang menjemput saya dari hotel. Di dalam truk, sudah ada empat orang yanng masih kelihatan terkantuk-kantuk. Kami diam-diam saling bertegur sapa. Truk membawa kami ke sebuah toko sepeda kecil. Kami lantas diberi sepeda dan kesempatan mengecek gear yang kami pakai dan mengumpulkan perbekalan. Grup kami terdiri dari saya, dua warga Argentina bernamaFernando dan Rafael, seorang gadis Kanada bernama Shirley, dan sepasang sejoli dari Brasil. Perjalanan kami dari ibukota Kolombia La Paz—kami mulai dari tempat setinggi 4.650 meter dari permukaan laut—ditempuh selama satu setengah jam.

Pukul 9:30
Lanskap dingin dan mencolok yang didominasi warna glasial keabu-abuan menyambut kami. Kami mengganti baju dan gear sembari tertawa-tawa, berlekakar dan berbuat saja biar tak ada yang menduga kalau kamu tegang menghadapi tantangan yang ada di depan kami. Yang menemani kami adalah tiga pemandu dari agensi pariwisata El Solaria: René Huanca dan Mario Tapia yang naik sepeda dan satu orang lagi di mobil pendukung di belakang kami. Sebelum kami berangkat, mereka memberi kamu pengarahan pendek tentang keselamatan dalam perjalanan, aturan lalu lintas Bolivia dan mewanti-wanti bahwa kami sedang tidak balapan. Memang sih dengan keberadaan pesepeda internasional dan "garis finis" yang jelas, aroma balapan semakin tak terhindarkan.

Kami semua yang bersepeda pagi itu mengenakan beberapa lapis pakaian yang akan lepas satu persatu begitu jalan yang kami lalui menurun. Total panjang jalur yang kami tempuh 3.500 meter. Sesaat sebelum berangkat, dua pemandu kami membuat tanda salib. Nanti, begitu kami mulai menjajaki jalan yang menurun, kami tahu betapa serius tantangan yang kami jajal. Bagian pertama jalur yang kami lewati adalah jalan beraspal yang ramai dan kami menempuhnya sekitar lebih dari satu jam. Di kelokan tajam pertama, kami menemui sebuah salib yang dipasang di pinggir jalan. Selidik punya selidik, salib menandai tempat dua orang menemui ajal di Camino. Pemandangan salib di pinggir jalan ini akan kami temui sekian kali hingga kami sadar kami tak cuma melalui jalur berbahaya tapi juga sebuah pekuburan panjang.


Tonton dokumenter VICE mengunjungi markas gereja setan di Kolombia:


Tak lama kemudian, grup kami terbagi menjadi dua. Di depan ada Fernando dan Rafael. Saya ada di belakang mereka. Terpaut beberapa meter di belakang saya, ada Shirley dan pasangan dari Brazil. Kami melaju cukup cepat hingga bisa menyalip sekelompok pesepeda yang mulai 30 menit lebih awal dari kami. Saya akui, saya mengayuh lebih cepat dari kecepatan yang saya inginkan. Maklumlah, saya tak mau ditinggal di track menyeramkan macam Camino.

Pukul 10:30
Sekelar bagian pertama perjalanan kami, kami sampai di desai Unduavi untuk ngemil malaman kecil.Lanskap Pegunungan Andes yang berbatu seketika berubah menjadi lanskap tropis yang kaya dengan tetumbuhan. Sebuah poster yang mengingkatkan saya pada kawasan Barat Jauh menandai awal Camino de la Muerte, atau "Rute Kematian." Lanskap hening—dan menciutkan nyali—terhampar di depan kami. Rangkaian jurang membentang sejajar vegetasi hutan dan jalan raya bernada oker yang berkelak-kelok hingga menghilang di kaki langit.

Foto oleh Miguel Ángel Vicente de Vera | VICE Colombia

Helm dan sarung tangan kembali kami kenakan. Kami berada di ketinggian 3.600 meter dari permukaan laut. Jalan yang kami lalui berbeda dengan jalur sudah kami kelarkan: tak beraspal,tak ada quadrail yang melindungi kami dari jurang yang dalamnya mencapai 800 meter. Jalan ini juga sempit—ada satu bagian yang lebarnya cuma tiga meter, penuh dengan kerikil.

Di beberapa bagian, jalur ini digenangi air yang berasal dari mata air di sekitar Camino. Di musim dingin, hujan dan salju kadang turun di jalur ini. Belum lagi, pengendara harus melewati jalan ini di sisi kiri, seperti di jalanan Inggris. Alhasil, mobil yang mendahului kendaraan di depannya bisa melihat jurang menganga di kanannya.

"Pemandangan salib di pinggir jalan ini akan kami temui sekian kali hingga kami sadar kami tak cuma melalui jalur berbahaya, namun juga sekaligus sebuah kuburan panjang."

Tak satupun orang di kelompok kami yang berani berkelakar lagi. Saya bahkan meragukan keputusan saya menjajal rute yang konon paling banyak menelan korban jiwa di seluruh jagat. Alam bawah sadar saya beraksi. Saya tiba-tiba membaca sejumlah doa. Namun, sadar bahwa saya ateis, saya langung mencabut kembali doa-doa itu.

Sebelum berangkat, pemandu kami kembali memberi arahah baru: "Sepedamu bergerak menuju kemana matamu memandang, jadi jangan sekali-kali melihat lanskap yang kamu lalu. Saya tahu itu susah. Tapi, percayalah, yang terpenting kamu berkonsentrasi pada jalur yang kamu lalui. Ini bukan sebuah permainan." selagi mereka menjelaskan ini, saya teringat dongeng tentang Opheus yang dibebaskan dari neraka dengan satu syarat: tak boleh menoleh ke belakang. Tentu saja, seperti dongeng-dongeng Yunani lainnya, Orpheus gagal. Dia menoleh ke belakang.

René menjelaskan semenjak rute ini menarik perhatian banyak turis asing, penduudk Bolivia membenci Camino. Ada terlalu banyak darah dan air mata yang tumpah di sini.

Jalanan sepertinya sejak awal sudah dikutuk oleh Cain, Camino dibangun oleh tawan Paraguay selama Perang Chaco, konflik yang melibatkan Bolivia dan Paraguay guna memperebutkan kawasan Chaco Boreal pada dasawara ‘30an. Sejak saat itu, Camino tak pernah absen menelan korban tiap tahunnya. Insiden yang paling berdarah terjadi pada 24 Juli 1983 saat sebuah bus terjun ke dalam sebuah ngarai. Seratus penumpang tewas dalam kecelakaan lalu lintas paling banyak meminta korban dalam sejarah Bolivia itu.

Menurut catatan resmi, tiap tahun sekitar 200 orang menemui ajalnya di Camino hinga tahun 2006 saat sebuah jalan raya baru diresmikan. Tak ada yang mencatat angka pasti berapa korban yang meregangnya nyawa di Camino’, namun perkiraaanya mencapai ribuan orang. Fakta yang menyedihkan ini membuat Inter-American Development Bank menobatkan Camino sebagai rute jalan paling berbahaya di dunia pada 1995.

Pukul 11:00
Kami saling berpelukan dan berfoto bersama. Petualangan sejati baru akan dimulai. Kami merasakan vertigo di tiap kayuhan pedal. Seumur hidup saya dihabiskan bersepeda, tapi kali ini saya seperti kesusahan mengendalikan sepeda yang saya kendarai. Terdapat terlalu banyak batu di jalan yang saya lalui. Imbasnya, sepeda tak berhenti bergetar meski dilengkapi dengan rem depan dan sistem rem cakram terkini.

Iklan

Saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memegang stang agar sepeda berjalan lurus. Setelah beberapa menit, air terjun pertama tampak di depan mata. Ukurannya sedang saja sih tapi kayaknya sudah didaki. Pemandu kami segera mewanti-wanti bahwa jalan di depan kami akan licin. Beberapa orang turun dan memutuskan berjalan. Yang lain nekat menyebrang sambil mengendarai sepeda.

Foto oleh Miguel Ángel Vicente de Vera | VICE Colombia

Kami sampai di posisi yang sempurna untuk berfoto. Pemandangannya kurang ajar cantiknya. Setiap titik dikelilingi lanskap hutan dengan air terjun dan tetumbuhan yang kaya. Saya duduk di tepi tebing, mengongkang-ongkangkan kaki di atas jurang yang tingginya mncapai ribuan meter. Aku tarik nafas dalam-dalam. Kami rehat sebelum kami melanjutkan perjalanan. Di kelokan berikutnya, kami menemukan plakat bertuliskan A los Mártires de la Democracia—artinya kira-kira "Kepada para Martir Demokrasi." Frase itu adalah pengingat akan masa kelam dalam sejarah Bolivia: pada 1944, anggota militer Bolivia melempar lima politisi oposisi ke dalam jurang, tepat di titik itu.

René mengumumkan bahwa kami sudah sampai di "Kelok Kematian." Itu sebutan untuk kelokan 180 derajat yang tak boleh dijajal mereka yang mengidap penyakit jantung. "Korban jiwa terakhir yang meninggal di sini adalah seorang turis Italia yang belok dengan kecepatan penuh dan tergelincir, tapi itu terjadi beberapa tahun lalu kok." Pada 2011, seorang turis perempuan asal Jepang terperosok ke dalam jurang saat sedang merekam pacarnya pakai kamera ponsel. "Turis itu meninggal seketika," kata René. Angin kencang tampak menerpa wajahnya saat mengucapkan informasi tadi secara lempeng pada saya.


Tonton petualangan Tipi Jabrik bareng VICE naik motor keliling Filipina, mencari tradisi tato yang nyaris hilang sekaligus makan masakan ekstrem setempat:


Selagi kami terus menyusuri jalan menurun, kami berpapasan sama tiga truk yang dikemudikan petani setempat. Insting mendorong saya berteduh di bagian kelokan yang lebih teduh, tapi klakson truk itu mengingatkan saya agar tetap bersepeda di lajur kiri. Memang sih, saya bisa langsung ditabrak tadi. Paras muka supir truk itu datar. Barangkali kejadian seperti ini sudah kelewat sering dia alami.

Pukul 12:00
Tiga warga Bolivia, dua pria dan satu perempuan, menutup jalan dengan seutas tali tebal. Muka mereka kurang bersahabat. Sebelumnya, saya diwanti-wanti bahwa di Bolivia adalah hal lumrah bagi warga untuk menutup jalan sebagai bentuk protes. Sejatinya, tiga orang ini cuma ingin kami membayar 30 boliviano ( atau sekitar Rp100 ribu) per kepala, sebagai ongkos memakai jalan. Pemandu kami menjelaskan bahwa masyarakat setempat juga ingin mencari untung dari Camino.

Kami langsung bayar tanpa banyak omong. Salah satu dari kami berkelakar tentang cara mereka mereka memalak kami. Lucunya, berjarak 200 meter setelah itu, kami bertemu lagi tiga “petugas bea cukai resmi” yang menutup jalan dengan tali. Oh ya yang satu ini lebih niat. Mereka punya jebakan paku, yang dipasang agar kami gentar kabur dari upaya pemalakan tersebut.

"Percayalah, yang terpenting kamu berkonsentrasi pada jalur yang kamu lalui. Ini bukan sebuah permainan."

Pukul 13:00
Kami berhenti lagi. Kali ini untuk minum, dan mengumpulkan anggota grup yang tercecer. Kami semua haus dan kecapaian. Tapi masih ada sisa jalur yang harus kami bereskan. Seorang perempuan tua datang menawari kami jeruk, air dan daun coca. Saya mencobanya sedikit. Pemandu kami membeli satu tas coca untuk ayahnya. Kawasan itu adalah daerah penghasil kokain terbaik di Bolivia, katanya.

Pukul 14:00
Kami menjajal bagian terakhir rute Camino. Lanskap baru muncul, lebih tak mirip hutan dengan kawasan berumput dan lereng-lereng yang kentara. Temperatur naik dratsis. Kami mengendarai sepeda hanya mengenakan t-shirt. Di saat inilah, Fernando menggenjot sepeda keras-keras, meninggalkan anggota kelompok lainnya termasuk para pemandu. Saya mencoba mengejarnya, tapi saya gagal. Fernando terlalu cepat. Mungkin dia juara Olimpiade yang menyamar.

Jalan terus menurun, saya berusaha mati-matian mencapai garis finis. Tiba-tiba saya mendengar suara keras dan kencang, seperti tembakan shotgun. Saya arahkan pandagan ke bawah. Keparat! Salah satu ban saya pecah. Saya berhenti guna menunggu datangnya mobil bantuan. Rafael melewati saya. Begitu juga dua sejoli Brasil yang menggenjot sepedanya dengan santai. Tak ingin membuang waktu saya, pengendara mobil bantuan segera memberi saya ban cadangan.

Ban sudah saya ganti, tapi sepertinya kurang nyetel. Saya mengayuh sepenuh tengaa. Keringat membasahi tubuh. Kaki saya sakit bukan kepalang. Yang saya pikirkan adalah membereskan perjalanan ini. Masih ada satu jam tersisa, kata supir mobil bantuan—saya emoh jadi orang yang terakhir sampai.

Foto oleh Miguel Ángel Vicente de Vera | VICE Colombia

Saya ngebut lagi. Tak lama, saya sudah menyusuh pasangan dari Brasil lalu Shirley, yang kini mengayuh jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kelelahan, udara yang terik dan rasa sakit di tangan lantaran kelamaan menjaga stang tetap stabil bikin saya makin cepat ingin membereskan perjalanan ini.

Di depan saya, cuma tersisa dua orang Argentina. Saya nyerah deh. Mereka sudah dikejar. Untungnya nasib berkata lain, di bagian akhir Camino, saya melihat Rafael berdiri di semping sepedanya. Wah nasib yang sama menimpanya: bannya meletus. Saya melambaikan tangan dan nyengir dengan penuh kepuasan. Saya tak turun. Maaf Rafael, ‘Balapan’ ini harus saya bereskan dengan gemilang.

Iklan

Pukul 14.30 Sore
Setelah beraksi bak atlet sepeda downhill, kami sampai di ujung Camino dan kamu sampai di jalan dekat kota Yolosa yang terletak di 1.152 meter di atas permukaan laut. Di sinilah, petualangan kami berakhir. Saya mencapai finis setelah Fernando. Tak lama, kawannya sampai lalu disusul Shirley dan dua sejoli asal Brasil. Kami memeluk satu sama lain sambil memberi selemat karena sudah sampai di tempat yang aman tanpa kekurangan satu apapun.

Foto: Miguel Ángel Vicente de Vera | VICE Colombia

Pukul 15:00
Pesta kedatangan kami digelar di sebuah hotel yang punya kolam renang. Jamuan makan siang sudah dihidangkan. Kami menyikat semua buffet siang itu. Tak ada yang tersisa. Lalu, kami meloncat ke kolam renang dan bersulang.

Kami baru saja lolos dari jerat kematian.


Follow Miguel, penulis catatan perjalanan ini, di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Spanyol