punk

Review Ulang Deretan Album Punk yang Dikecam Karena Sellout ke Major Label

Suka tak suka, album-album band punk yang dirilis oleh major label cukup populer. Kami coba menilai mana yang beneran bagus, yang jelek, sampai yang aneh.
17.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di NOISEY pada 2015, tapi masih relevan sampai sekarang.

"Selling out" adalah fenomena yang aneh. Cara tercepat bagi sebuah band punk agar dihujat penggemar loyalnya adalah dengan meneken kontrak dengan major label. Beneran deh. Venue musik DIY seperti 924 Gilman di Berkeley menolak tempatnya digunakan untuk manggung oleh band major label manapun. Tema selling out juga sudah pernah dituangkan dalam banyak lagu, sampe-sampe Reel Big Fish, ironisnya ngehit gara-gara lagu tersebut.

Iklan

Bergabung ke major label nyaris selalu menuai kritik pedas dan dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terhadap pihak-pihak yang melejitkan band-band kecil keluar dari acara komunitas. Tidak peduli apakah album perdana major label tersebut sukses secara komersil atau tidak, dihargai para kritikus atau tidak, banyak penggemar akan mengacungkan jari tengah mereka terhadap keputusan band, seolah-olah mengatakan, "Kami mendukung band kamu, tapi bukan supaya kamu bisa foya-foya!"

Namun begitu era internet datang, semua jenis musik menjadi populer dan tidak ada lagi ladang uang untuk dikeruk. Namun sebelum industri musik jatuh berantakan, punk sempat meloloskan beberapa rilisan. Mari meninjau ulang beberapa album tersebut—yang bagus maupun jelek—yang sempat mendapatkan paparan di level mainstream.

Drive Like Jehu - Yank Crime, Interscope (1994)

Tingkat Kemarahan Komunitas Punk: 4/10

Ada rumor yang mengatakan ketika Rocket From the Crypt diambil oleh Interscope, vokalis John Reis membujuk agar proyek post-hardcore sampingannya Drive Like Jehu juga dikontrak. Akhirnya album kedua Jehu, Yank Crime dirilis lewat major label. Sudah pasti anda tidak akan melihat frame kopi album ini terpampang di tembok kantor Interscope di antara rilisan Eminem dan Maroon 5 yang sukses berat secara komersil. Namun jangan salah, Yank Crime mungkin saja album rock paling liar dan forward-thinking yang pernah dirilis oleh sebuah major label. Mengikuti tradisi kutukan major label, Jehu bubar setahun kemudian. Kini, dua dekade berlalu, belum ada band yang bisa melanjutkan warisan Jehu.


Green Day – Dookie, Reprise (1994)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 7,5/10

Iklan

Dookie adalah album yang dianggap merusak segalanya. Komunitas punk seringkali memaki album ini. Alasannya? Album ini sangat sukses dan terjual 20 juta kopi, menjadikannya salah satu album komersil tersukses sepanjang masa, di bawah Purple Rain karya Prince dan Off The Wall milik Michael Jackson. Coba camkan fakta tersebut baik-baik. Sebuah album yang namanya berarti seonggokan tai bisa terjual hampir sama banyaknya dengan album Prince yang memenangkan Academy Award.

Namun masalah yang timbul akibat kesuksesan Dookie baru muncul di komunitas punk bertahun-tahun kemudian. Album ini membuka jalan bagi band-band pop punk ramah radio seperti Blink-182 dan New Found Glory. Dookie bertanggung jawab menciptakan iklim yang mendorong major label mengontrak band punk seperti Jawbreaker yang akhirnya bubar akibat tekanan komersial. Bagi Green Day, album ini berfungsi sebagai transisi karir dari tiga bocah urakan asal Berkeley menjadi sekelompok pria paruh baya pencinta eyeliner yang memproduksi aksi musikal Broadway.

Namun di samping semua itu, anda harus mengakui bahwa ini album yang keren. Green Day berhasil menjembatani pop punk ala California dan alternative rock 90an secara sempurna dan menghasilkan kumpulan lagu klasik. Sayangnya setelah itu kualitas discografi mereka menurun perlahan-lahan semenjak Dookie. Mulai dari Insomniac yang lumayan hingga album American Idiot yang penuh slogan politik tapi kosong isinya. Gak usah bahas album berkonsep tiga bagian yang mereka rilis setelah itu deh. Jelek.


Bad Religion – Stranger than Fiction, Atlantic (1994)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 9/10

Iklan

Numpang cerita dulu ya. Dulu di venue musik kecil di New York di akhir 90an, ada seorang bocah lelaki yang menyender ke tembok, mengenakan jaket dengan patch Bad Religion. Di atas nama band, dengan sebuah spidol, dia menulis kata "OLD", mengindikasikan bahwa dia hanya menyukai materi lama band tersebut. Sebegitu besar kebencian penggemar Bad Religion terhadap album major label dan fase kedua karir band favorit mereka. Stranger Than Fiction menjadi bahan olokan. Album tersebut merupakan rilisan debut mereka bersama Atlantic, setelah mereka meninggalkan Epitaph. (Pasti tawaran kontraknya menggiurkan apabila mereka bersedia meninggalkan label yang dimiliki salah satu anggota bandnya sendiri.) Album ini juga menampilkan single mereka yang paling populer, "Infected" dan "Stranger Than Fiction." Namun kalau mau jujur, menoleh ke belakang, album ini menyajikan beberapa lagu Bad Religion paling catchy tanpa harus mengadopsi terlalu banyak elemen rock alternatif radio yang sedang populer di kala itu.


Jawbox – For Your Own Special Sweetheart, Atlantic (1994)

Tingkat Kemarahan Komunitas Punk: 6,5/10

Jawbox bernasib sama dengan Jawbreaker: dimaki orang karena diasosiasikan dengan kata selling out dan namanya sama-sama dimulai dengan 'Jawb.' Tapi bukan berarti kesalahan mereka lebih ringan mengingat mereka meloncat masuk Atlantic dari label super DIY Ian Mackaye, Dischord Records. Mereka bersama dengan Shudder to Think adalah satu-satunya band yang pernah meninggalkan Dischord untuk masuk ke major label. Tidak heran musik mereka yang cenderung progresif tidak diterima dengan baik oleh pendengar musik mainstream. Setelah dipecat oleh Atlantic, Jawbox membubarkan diri. Silakan diambil pelajarannya. Sama seperti anda tidak bisa main lempar ikan ke dalam akuarium, band Dischord tidak bisa main masuk begitu saja ke major label. Kalau mau selling out, mbok ya perlahan-lahan.


ALL – Pummel, Interscope (1995)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 3,5/10

Iklan

ALL adalah band yang nasibnya lumayan apes. Di mata komunitas punk, mereka selalu dianggap versi kw Descendents. Jadi begitu mereka secara ajaib dikontrak oleh Interscope, mereka merilis album yang terbilang tidak berkesan, Pummel. Biarpun album ini bukan karya terbaik mereka (tapi lagu-lagu seperti "Million Bucks," "Long Distance," dan "Breakin' Up" semuanya lumayan), anggota ALL menggunakan uang kontrak major label untuk membuka studio rekaman di Colorado, The Blasting Room. Disinilah drummer Bill Stevenson memproduksi banyak album punk, termasuk Everything Sux karya Descendents. Jadi ya gak jelek-jelek amatlah. Bisa dimaafkan.


Jawbreaker – Dear You, Geffen (1995)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 9/10

Setelah kesuksesan besar Green Day dengan Dookie-nya, banyak label rekaman kebakaran jenggot menyiapkan kontrak rekaman jutaan dollar untuk band-band punk independen. Saat itu Jawbreaker baru saja menyelesaikan tur dengan Nirvana dan banyak penggemar khawatir mereka akan dihampiri major label. Akhirnya benar kejadian.

Bukannya bubar (saat itu ada kabar mereka hendak bubar), mereka justru mendapatkan kontrak satu juta dollar dengan DGC Records (anak perusahaan Universal Music Group) untuk merilis Dear You di 1995. Sudah tentu para penggemar mengkritik album ini karena terdengar "terlalu bersih" dibanding karya-karya mereka sebelumnya. Kabarnya para penggemar Jawbreaker duduk di lantai dan berbalik badan setiap kali band favorit mereka membawakan lagu dari album ini. Nah coba sekarang kita tinjau lagi Dear You tanpa amarah dan secara rasional. Kita harus menerima bahwa Dear You adalah album Jawbreaker yang paling cerdas dan dewasa. Vokalis/gitaris Blake memamerkan keahliannya menulis lirik puitis nan gelap di sini. Lagu-lagu seperti "Accident Prone" dan "Jet Black" menjadi standar awal scene emo yang sedang berkembang bersama dengan Sunny Day Real Estate dan Texas Is the Reason. Lirik lagu "Million" juga merupakan bentuk refleksi pribadi band perihal hubungan mereka dengan label.

Iklan

Sebagus-bagusnya album ini, sayangnya Dear You tidak menjadi anak kesayangan MTV seperti Dookie. Berapa kali anda pernah melihat video musik "Fireman"? Bandingkan dengan seberapa seringnya video "Basket Case" diputar. Dear You 'hanya' terjual 40.000 kopi, jauh di bawah angka yang diraih Green Day. Ini dianggap sebagai kegagalan besar oleh sang label. Jawbreaker bubar tidak lama setelah itu.


Less Than Jake – Losing Streak, Capitol (1996)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 5/10

Bukti lain kegilaan kancah musik punk AS di pertengahan 90-an, band asal Florida, Less Than Jake meraup uang dengan cara menggabungkan elemen ska ke dalam musiknya, sama seperti The Mighty Mighty Bosstones dan anu satu lagu Reel Big Fish itu lho. Mereka meninggalkan label Asian Man dan No Idea demi rilisan ketiga mereka, Losing Streak yang dirilis lewat Capitol. Para penggemar musik ska 90-an mungkin kesal mereka harus membayar beberapa dollar lebih mahal, tapi ini album yang luar biasa keren.


The Offspring – Ixnay on the Hombre, Columbia (1997)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 3/10

Album ketiga The Offspring, Smash, laris terjual. Sebelas juta kopi bung dan nona! Membuat album ini menjadi album independen tersukses secara komersil sepanjang masa. Saking banyaknya uang yang dihasilkan album ini untuk Epitaph Records, label tersebut selama bertahun-tahun ke depan aman secara finansial. Tetapi dalam prosesnya, pemilik label Brett Gurewitz sibuk bukan main dan harus meninggalkan bandnya sendiri, Bad Religion, untuk mengurusi label. Dia juga bercerai dari sang istri dan terjebak dalam adiksi kokain dan heroin.

Iklan

Tiga tahun kemudian, untuk album berikutnya, Ixnay on the Hombre, The Offspring menandatangani kontrak dengan Columbia. Keputusan ini sempat membuat Gurewitz marah bukan kepalang saat itu. Namun mengingat saat itu The Offspring sudah sangat sukses secara komersil, keputusan mereka untuk pindah label tidak dianggap "selling out" tapi justru dianggap sebagai pilihan bisnis yang cerdas.

Ixnay terjual baik—tiga juta kopi—tapi jauh lebih rendah dibanding Smash yang terjual 11 juta kopi. Tapi kemungkinan besar sebagian besar CD Smash mungkin sedang menghabiskan waktu dalam bak-bak album bekas di AS.


Blink-182 – Enema of the State, MCA (1999)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 10/10

Mau tau berapa banyak orang dengan gaya rambut rmohawk yang marah setengah mati terhadap album ini saat itu? Tak terhitung. Semua orang punya opini sendiri tentang Blink setelah album kedua mereka Dude Ranch dirilis (padahal secara teknis, album ini adalah hasil kerja sama label indie Cargo Records dan major label MCA). Mulai dari penggemar lama yang menyebut mereka sell out, hingga komunitas pembaca zine Maximum Rock'n'Roll yang menyebut Blink sebagai sisi punk yang memalukan dan menggelikan.

Isu seputar apakah Blink-182 membunuh komunitas punk semakin panas ketika Enema of the State, album debut major label mereka dirilis. Sampai-sampai Johnny Rotten dari Sex Pistol ditanya soal opininya terhadap Blink. Dia menjawab: "Blink itu yang segerombolan bocah tengil ya? Mereka itu imitasi aksi komedi. Mereka itu jelek banget dan harusnya terus aja disuruh tampil di Saturday Night Live, yang menurut saya adalah bentuk ejekan yang paling tinggi." Demikianlah kata-kata pedas dari sesepuh punk sekaligus aktor iklan produk mentega ini.

Iklan

Kini, Enema of the State sudah berumur 18 tahun. Mari tinjau ulang album yang bernyanyi seputar penyakit diare ini layaknya orang dewasa. Jujur, sudah banyak album-album lain yang menodai nama punk semenjak album ini dirilis (ya gara-gara jalannya dibuka sama Blink). Enema kini terasa jinak dibanding album-album Sum 41 atau Avril Lavigne di awal 2000an. Atau mungkin juga karena semenjak era keemasan mereka, Blink kini tidak lebih dari sekedar segerombolan pria tua yang berkelahi soal isu-isu legal tidak penting. Kini Enema justru terasa seperti oase dalam karir Blink. Namun secara obyektif, tidak ada yang "buruk" tentang album ini kecuali mungkin tendensi misoginis tidak penting ("I need a girl that i can train"). Tapi ya, album ini catchy kok.


H2O Go, MCA (2001)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 2/10

H20 merilis album yang sama tiga kali secara berurutan. Kemudian mereka merilis album yang sama lagi keempat kalinya lewat major label. Ada yang peduli? Tidak.


Rancid – Indestructible, Warner Bros. Records (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 8/10

Rancid adalah sebuah anomali. Jika kita menilik kembali karir mereka, anda mungkin mengira periode "sell out" mereka adalah pertengahan 90an ketika mereka menyanyikan "Roots Radicals" di SNL dan video musik "Salvation" dan "Ruby Soho" diputar MTV secara konstan. Namun di saat semua itu terjadi, Rancid tetap bertahan di label indie Epitaph Records. Bukan berarti tidak banyak major label yang tidak tertarik menampung mereka. Banyak banget malah. Saking banyaknya, ada gosip Rancid meyakinkan seorang staf Epic untuk mencukur rambutnya menjadi mohawk berwarna biru dan meminta foto telanjang Madonna sebagai pemulus kontrak dengan label beliau, Maverick. Tapi jujur ya, di tahun 90an, foto telanjang Madonna itu sudah seperti harta karun nasional AS.

Iklan

Setelah merilis lima album via Epitaph, Rancid melakukan sesuatu yang selalu mereka tentang secara vokal: bernaung di bawah major label, Warner Bros. Records. Ya atau sekedar didistribusikan lewat Warner lah. Mereka tidak mau terang-terangan soal detil perjanjian tersebut dan album perdana major label mereka, Indestructible tidak memiliki logo Warner.

Hasilnya? Album ini dicuekin penggemar. Aksi bintang tamu dari Kelly Osbourne dan anggota Good Charlotte di video single "Fall Back Down" juga mungkin semakin menyakiti kredibilitas punk mereka. Ketika dikritik komunitas punk, Rancid mengatakan sound mereka yang semakin ngepop merupakan pengaruh Warner. Namun dalam kenyataannya, perjanjian distribusi album dengan major label tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap penulisan lagu mereka. Sejatinya, Indestructible bukanlah album yang terlalu berkesan.

Kemarahan seputar keputusan Rancid masuk major label kini sudah tidak terdengar mengingat kebanyakan orang yang masih mendengarkan band ini kini sudah berumur 35 tahun ke atas. Semenjak itu, Rancid merilis album-album berikutnya via Epitaph, vokalis Tim Armstrong kini punya tato di atas kepalanya dan masih belum pernah menggenjreng gitarnya sekalipun.


The Distillers – Coral Fang, Sire (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 6/10

Cinta membuat anda melakukan hal-hal aneh. Contohnya vokalis Rancid, Tim Armstrong. Dia menghindari major label seumur hidupnya. Setelah dia cerai dari istrinya Brody Dalle di 2003, sang istri dan bandnya The Distillers langsung dikontrak Sire Records di tahun yang sama. Rancid juga dikontrak Warner di tahun yang sama, merilis album dengan lirik penuh referensi perpisahan. Mungkin saja ini tidak lebih dari sekedar perang adu kesuksesan karir paska akhir romansa berbau pasif agresif. Atau mungkin saja ini semua hanya bagian dari acting Tim dan Brody. Siapa juga yang tahu? Tapi satu hal yang pasti: di dokumen Sure Records, sudah pasti The Distillers pernah dideskripsikan sebagai "Rancid versi perempuan."


The Ataris – So Long, Astoria, Columbia (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 0/10

Iklan

Hei, The Ataris akhirnya masuk major label. Syukurlah.


Saves the Day – In Reverie, Dreamworks (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 7/10

Saves the Day sudah mulai dikritik oleh penggemar setianya ketika In Reverie keluar. Setelah berhasil meraup penggemar komunitas pop punk dan hardcore lewat dua rilisan pertamanya via Equal Vision, mereka merapikan sound mereka di album ketiga, Stay What You are, rilisan yang mendaratkan mereka penampilan di The Late Late Show dan Conan. Setelah itu, mereka bergabung dengan Dreamworks dan merilis album mereka paling ngepop. Kalau bukan karena asosiasi mereka dengan komunitas punk, mungkin tidak akan ada yang menyebut In Reverie album punk. Ini mah pop terang-terangan. (Vokalis Chris Conley mengaku dia sedang demen The Beatles di saat itu). Dreamworks tidak terlalu mempedulikan album ini mengingat mereka sedang berada dalam proses akuisisi oleh Interscope dan dalam prosesnya, Saves the Day ditinggalkan oleh label. Sepuluh tahun kemudian, mereka kembali bergabung dengan Equal Vision. Pop punk itu di situ-situ aja.


Cave In – Antenna, RCA (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 3,5/10

Kalau ada satu hal yang sudah dibuktikan oleh Cave In, itu adalah bahwa mereka tidak peduli apa kata orang. Mereka bisa menulis album hardcore chaotic yang gila seperti Until Your Heart Stops, dan dua tahun kemudian merilis Jupiter, album space-rock yang terdengar datang dari planet asing (Jupiter, pastinya) dan terdengar seperti band yang berbeda. Jadi ketika RCA mengontrak Cave In untuk perilisan album Antenna di 2003, mereka pasti sadar bahwa mereka berjudi mengingat band ini sulit untuk ditebak. Hasilnya? Eksperimen tidak sempurna dari sebuah mantan band hardcore untuk meraih sound yang lebih ramah radio. Album ini sempat mendapat dorongan promosional yang baik tapi akhirnya gagal karena label tidak paham bagaimana caranya mempromosikan band aneh nan jenius ini. RCA dan Cave In berpisah setelah rilisan ini dan mereka kembali diterima oleh label indie Hydra Head Records dimana mereka merilis dua album teknikal penuh agresi, Perfect Pitch Black dan White Silence.


AFI Sing the Sorrow, Dreamworks (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 7/10

Iklan

Selama dua dekade karirnya sebagai band, AFI mengalami banyak perubahan yang aneh. Memulai karirnya sebagai band hardcore generik, AFI bermutasi menjadi band pujaan anak goth nyentrik. Namun di tengah-tengah proses ini, mereka sempat menemukan titik manis. Ketika Black Sails in the Sunset dirilis di akhir 90an, mereka berhasil mengajak penggemar mereka untuk masuk ke wilayah yang lebih kelam, mengisi kekosongan estetik punk-goth yang ditinggalkan oleh The Misfits. Sayangnya vokalis Davey Havoy kebablasan ketika AFI merilis Sing the Sorrow via Dreamworks di 2003. Ini adalah album yang memenangkan mereka banyak pendengar musik mainstream, tapi juga kehilangan banyak fans setia yang akhirnya menyadari "ngapain kita cowok pake eyeliner dan kutek kuku item?"


Thursday – War All the Time, Island (2003)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 7/10

Awal 2000-an, industri musik kebingungan mencari band baru untuk dilejitkan. Akhirnya mereka menemukan Thursday dari New Jersey. Thursday baru saja merilis album kedua mereka lewat Victory Records berjudul Full Collapse, rilisan yang menangkap semangat indie hardcore di saat itu. Vokalis Geoff Rickly juga mengakui bahwa Full Collapse adalah karya terbaik bandnya.

Sama seperti setiap band yang pernah bernaung di bawah Victory Records yang penuh dengan kontroversi, Thursday tidak sabar untuk cabut dari label tersebut. Jadi ketika kesempatan datang lewat Island Records, mereka mengambil peluang itu, memanfaatkan klausa di kontrak yang mengatakan mereka boleh meninggalkan Victory demi major label. Mereka merilis dua album di Island, salah satunya terjual 45.000 kopi dalam minggu pertama. Apabila anda mengatakan ke band-band hardcore kecil lainnya macam You & I bahwa anda bisa menjual 45.000 keping album membawakan musik hardcore emosional dengan nyanyian sumbang, mungkin mereka tidak akan langsung bubar. Namun tetap saja ini dianggap kegagalan di mata major label. Masalahnya mereka masih berhutang tiga album dengan Island Records. Menurut kesaksian Rickly, dia menemui presiden label dan bertanya apabila mereka bisa meninggalkan label secara baik-baik. Mereka sepakat, dan akhirnya berpisah. Tidak ada drama. Kecuali ribuan dollar yang dihabiskan oleh Island dalam investasi.


Rise Against – Siren Song of the Counter-Culture, Dreamworks (2004)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 3/10

Iklan

Rise Against terdengar persis seperti band yang akan menarik perhatian staf major label (ini bukan pujian). Jadi tidak heran Dreamworks mengontrak mereka untuk perilisan album tahun 2004 berjudul Something Vague About Revolutions atau apalah.


Anti-Flag For Blood and Empire, RCA (2006)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 3,5/10

Selalu konyol melihat album punk politikal dirilis major label. Seolah-olah si band berseru, "Hei, lihat sini, kita berusaha mengubah dunia tapi juga gak mau masih tinggal di kos-kosan ketika berumur 40 tahun!" Tapi ketika penggemar punk ditanya soal Anti-Flag, mereka juga paling tidak bisa menyebutkan album selain Die for the Government. Jadi setelah satu dekade bekerja keras menyebarkan pesan anti-korporat lewat berbagai label indie, akhirnya mereka melakukannya via major label. Selamat ya, Anti-Flag. Monggo kasih makan anak-anakmu.


Against Me! – New Wave, Sire (2007)

*Tingkat Kemarahan Komunitas Punk:* 12/10

Sepanjang karirnya, Against Me! sepertinya sering mengecewakan penggemarnya, sedikit demi sedikit. Setelah merilis beberapa EP kasar lewat label kecil seperti Crasshole, Plan-It-X dan Sabot, mereka meloncat ke label Florida yang sedikit lebih besar, No Idea Records ketika merilis album perdana Reinventing Axl Rose. Sejauh ini aman ya? Lanjut…

Kemudian datang tawaran dari label Fat Mike (NOFX), Fat Wreck Chords yang seharusnya tidak menjadi masalah besar, tapi nyatanya mengusik banyak orang. Untuk menunjukkan rasa amarah ini, para penggemar kabarnya melempar zat pemutih di kaos-kaos Against Me! koleksi mereka. Berhubung sudah banyak orang yang marah, Against Me! bersikap bodo amat dan bergabung dengan Sire Records, divisi dari Warner. Banyak pihak mulai mempertanyakan seberapa jauh Against Me! telah menyimpang dari sosok band yang memainkan anthem DIY di gig-gig kecil Florida yang menjadi identitas awal mereka. Mereka dipertanyakan selama beberapa tahun hingga akhirnya Against Me! membungkam mulut banyak hater lewat rilisan Transgender Dysphoria Blues. The rest is history.

Sell out bersama Dan Ozzi di Twitter yuk - @danozzi