Musik

Berikut Alasan Band Harus Bubar Setelah Merilis Tiga Album

Enam tahun lalu saya bersumpah tidak akan lagi menulis musik untuk media online. But fuck it, I am gonna do it anyway this time.
10.12.16
Photo by Kymberly Janisch via Flickr

Menulis musik adalah perkara pengalaman subyektif. Penilaian sebuah band itu bagus atau buruk tentu bergantung pada masing-masing telinga. Maka tak heran jika sebuah resensi album bisa saja bikin Anda naik pitam, atau sebaliknya malah membikin Anda buru-buru ke toko musik untuk membeli album yang memperoleh sanjung puji.

Maka kenapa tidak sekalian saja saya menulis sesuatu yang benar-benar subyektif, yang mungkin bisa bikin Anda sekalian mencak-mencak?

Iklan

Sama seperti Anda semua, dulu saya juga punya band favorit. Mereka terbentuk awal 2000-an. Debut albumnya rancak membahana. Saya terkesiap setiap kali mendengarnya. Itu sebuah pengalaman mendengarkan musik yang benar-benar baru waktu itu. Dua tahun kemudian album kedua menyusul. Masih garang tentu saja. Selang tiga tahun kemudian album ketiga muncul. Saya masih menyembahnya. Band tersebut lantas booming di mana-mana.

Menginjak album keempat, tiba-tiba album mereka jadi sangat membosankan. Mereka kehabisan ide, lalu memilih bermanuver mengubah warna musik. Cerita begini selalu terjadi dengan banyak musisi yang menginjak album keempat, dari dalam maupun luar negeri.

Apakah ini sebuah bentuk pencarian ekspresi baru agar kreativitas tidak mandeg? Saya tidak tahu. Tapi buat saya, alih-alih bertahan dengan dalih eksplorasi baru yang saya pikir juga menyiksa mereka, kenapa tidak membubarkannya saja dan mati terhormat saat berada dalam masa kejayaan? Saya bersyukur Rage Against the Machine bubar setelah album Renegades.

Sekali lagi, perhatikan saja band-band favorit kalian. Perhatikan siapa yang masih hebat di album keempat dan berikutnya? Tentu lebih banyak yang tiba-tiba musiknya jadi sangat memuakkan kalau bukan terlalu memaksakan diri ingin memperbarui citra.

Black Sabbath, Radiohead, High on Fire, Mastodon, hah prek… sampai Coldplay pun demikian. Radiohead setelah Kid A menjadi versi kw membosankan dari Kraftwerk. High on Fire yang dulu mengajak kita headbang gila-gilaan sekarang macam lagu latar iklan bir murahan. Mastodon? Just plain sold out. Coldplay di album keempat menyadari mereka tidak sepandai U2. Dan Green Day? Ada yang masih mendengarkan Green Day di era streaming musik? Ckckckck.

Saya tak lagi mengikuti gegap gempita musik. Saya tak mau menghabiskan waktu mencari band-band yang menurutmu keren di seluruh dunia. Saya lebih suka menghabiskan waktu untuk cari duit buat perut yang lebih konkret. Saya tak peduli dengan album baru Kelompok Penerbang Roket. Saya tak ambil pusing seberapa hebat Barasuara bersuara di pemutar cakram optik mobilmu. Saya tak peduli jika band favoritmu melakukan reuni. Saya tak melihat masa depan musik populer. Band-band sibuk mendaur ulang. Semua serba repetitif. Hipokrit. Semua cuma usaha mencari uang dan ketenaran yang memuakkan. Saya pun benci band edgy kesayangan anak-anak yang cool, tak peduli seberapa canggih mereka merangkai lagu. Lagu-lagu mereka terlampau mudah terlupakan begitu saya muntah di Sabtu pagi, akibat asupan alkohol berlebih malam sebelumnya.