Teror di Sri Lanka

ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Bom Paskah Sri Lanka Tewaskan 321 Orang

Pemerintah Sri Lanka menduga motif kelompok teroris menggelar bom bunuh diri di gereja dan hotel untuk membalas aksi teror bulan lalu di Christchurch
Pallavi Pundir
Delhi, IN
24.4.19
ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Bom Paskah Sri Lanka Tewakan 321 Orang
Salah satu korban bom bunuh diri Sri Lanka dimakamkan dekat Gereja St. Sebastian, Negombo. Foto oleh Athit Perawongmetha / Reuters

Di tengah perayaan Minggu Paskah lalu, ratusan umat Kristen di Sri Lanka menjadi korban serangan teror. Terjadi rangkaian bom bunuh diri menghancurkan delapan lokasi—terutama gereja dan hotel mewah di berbagai lokasi terpisah. Sel teror terafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) melalui media propagandanya, Amaq, mengaku bertanggung jawab.

Menurut laporan Reuters, ISIS merilis pernyataan tentang pemboman yang menewaskan 321 jiwa dan melukai lebih dari 500 warga Sri Lanka serta turis asing itu. "Serangan yang menargetkan anggota negara koalisi Barat di Timur Tengah dan umat Kristen di Sri Lanka beberapa hari lalu dilakukan oleh pejuang ISIS," demikian kutipan daripernyataan ISIS.

Kelompok ekstremis khilafah tersebut belum memberi bukti atas klaimnya. Pemerintah Sri Lanka awalnya menduga pelaku adalah jaringan militan lokal.

Saat berpidato di hadapan parlemen, Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe menduga pemboman tersebut adalah balasan atas teror masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret lalu.

Iklan

Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene juga mengatakan pada sidang khusus parlemen bahwa serangannya adalah "balasan dari serangan terhadap umat Muslim di Christchurch." Akan tetapi, pernyataan-pernyataan dari pemerintah setempat juga tidak berdasarkan bukti yang kokoh.

Dua hari terakhir, pejabat pemerintahan memburu anggota kelompok Islam radikal National Thowheeth Jama’ath (NTJ). Kelompok itu dituding sebagai dalang utama rangkaian ledakan bom Paskah. Selain itu, Sekretaris Kabinet Sri Lanka Rajitha Senaratne menyatakan bahwa NTJ telah menerima "bantuan dari kelompok teror internasional."

The Guardian melaporkan beberapa minggu sebelumnya, sudah ada memo intelijen Sri Lanka yang diedarkan kepada beberapa pejabat pemerintahan. Memo tersebut mengidentifikasi salah satu anggota kelompok teroris memposting “konten ekstremis” ke akun media sosialnya, setelah penembakan massal di Christchurch.

Kantor Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern telah mendengar komentar PM Sri Lanka yang mengaitkan pemboman Paskah dengan penembakan di Christchurch bulan lalu. Selandia Baru belum "melihat ada data intelijen apa pun yang mendasari penilaian tersebut." Dilansir dari Associated Press, pemerintah Selandia Baru juga memahami "proses penyelidikan serangan di Sri Lanka masih dalam tahap awal."

Akibat rangkaian pemboman keji tersebut, negara kepulauan di selatan India itu masih menerapkan status darurat nasional. Penyelidikan aparat sudah menyertakan rekaman terduga pelaku bom bunuh diri yang memasuki Gereja St Sebastian di Negombo. Di gereja itu saja, sedikitnya 110 jemaat gereja tewas.

Sri Lanka menyatakan Hari Berkabung Nasional Selasa kemarin. Pemerintah juga mengadakan pemakaman massal pada hari itu. Status darurat mulai diberlakukan sejak tengah malam kemarin, yang berarti memberikan peluang bagi pasukan polisi untuk mencari pelaku.

Dalam jumpa pers terpisah, Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando menyatakan lembaga intelijen negaranya sejak beberapa pekan lalu sudah memberi tahu pemerintah tentang adanya kelompok kecil kriminal domestik yang berbahaya. Kepolisian Federal AS (FBI) turut membantu penyelidikan. Interpol juga diperkirakan tiba di Sri Lanka untuk menyelidiki aksi teror keji ini.

Follow Pallavi Pundir di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India