isu lingkungan

Penelitian LIPI: Masa Depan Terumbu Karang Indonesia Amat Suram

Kerusakan lingkungan di Indonesia sampai pada taraf mengkhawatirkan, dengan sepertiga terumbu karang rusak parah. Tapi kenapa isu ini tak pernah serius dibahas oleh publik?
Screen Shot 2018-11-30 at 14
Foto via Wikimedia Commons akun USAID Indonesia

Luas laut Indonesia mencapai 5.8 juta km, tapi sayangnya potensi dan lingkungan di air tak pernah mendapat perhatian serius. Selain memiliki laut yang luas, Indonesia juga negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Jadi enggak heran jika manusia pada akhirnya bakal mengonsumsi mikroplastik seumur hidupnya jika sampah plastik tetap mengalir ke laut.

Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun, dan sebanyak 3.2 juta ton sampah plastik berakhir di laut. Akibatnya, beberapa pekan lalu seekor paus sperma sepanjang 9.5 meter ditemukan mati gara-gara menelan 5.9 kg sampah plastik di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Iklan

Urusan sampah plastik hanyalah satu dari sekian banyak masalah di ekosistem perairan di Indonesia. Dalam sebuah studi terbaru yang dirilis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap bahwa sepertiga dari total terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan parah. Survei tersebut dilakukan di 1.067 titik di seluruh Indonesia.

“Faktor yang menyebabkan kerusakan terumbu karang di Indonesia lebih disebabkan oleh kegiatan manusia,” kata kepala riset oseanografi LIPI Dirhamsyah dalam rilis persnya.

Hasil pengukuran termutakhir melalui pemetaan citra satelit oleh Coremap-CTI LIPI, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia yang luasnya mencapai 284.300 km2.

Data LIPI yang dirilis pada 2017 juga menunjukkan hanya 6,39 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik. Sementara itu, kondisi yang dikategorikan buruk mencapai 35,15 persen. Hasil ini diambil dari 108 lokasi dan 1064 stasiun di seluruh perairan Indonesia. Kebanyakan terumbu karang tersebut rusak akibat meningkatnya suhu air laut yang menyebabkan pemutihan karang (bleaching) dan juga rusak akibat aktivitas melaut serta kegiatan wisata.


Simak seri dokumenter the Pledge yang membahas soal problema sampah plastik dari hulu sampai hilir

Meski pemerintah telah melarang penggunaan pukat harimau yang merusak ekosistem bawah laut sejak rezim Orde Baru tumbang, aktivitas laut seperti distribusi batu bara dengan tongkang berpotensi merusak terumbu karang. Di perairan taman nasional Karimunjawa, Jawa Tengah, yang merupakan lalu lintas laut yang padat, kapal tongkang kerap membuang sauh di perairan taman nasional tersebut demi menghindari gelombang tinggi. Aktivitas buang sauh secara serampangan tersebut merusak ribuan meter persegi gugusan terumbu karang.

Pada Maret 2017, terumbu karang di selat Dampier, Raja Ampat seluas 18.882 meter2 rusak setelah ditabrak kapal pesiar berbobot 4.200 gross ton MV Caledonian Sky yang asal Inggris. Total kerugian akibat insiden tersebut mencapai Rp800 juta. Tapi sebenarnya masalah terumbu karang tersebut bukan cuma perkara duit. Menurut Worldwide Fund for Nature (WWF), Setidaknya butuh ratusan tahun agar terumbu karang tersebut bisa kembali seperti sedia kala. Soalnya, terumbu karang cuma tumbuh 1 cm setiap tahun.

Salah satu solusi paling masuk akal saat ini adalah budidaya terumbu karang di setiap titik kerusakan. Namun upaya tersebut masih jauh dari kata berhasil. Karena menurut LIPI, tingkat kesadaran masyarakat dan pemerintah akan pentingnya ekosistem laut masih rendah.

Jadi selama pemanasan global hasil aktivitas manusia ditambah dengan aktivitas komersial tak kunjung berpihak kepada alam, maka silakan panik jika ekosistem bawah laut tak ubahnya seperti gurun pasir yang gersang.