Budaya Pop

Kenapa Budaya Pop Sering Terobsesi Pada Sosok Monster Seksi?

'The Shape of Water' bercerita soal hubungan seks perempuan sama manusia setengah ikan. Di luar kontroversinya, film ini mendobrak pakem penggambaran monster dalam sejarah sinema.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly

Isu paling penting bagi Guillermo del Toro saat menggarap monster di film The Shape of Monster adalah monster utamanya mesti punya bokong yang seksi. “Arahan utama yang diberikan Guillermo cuma, ‘bikin dia kelihatan seksi,’” kata Mark Hill, desainer mahluk aneh itu saat diwawancarai New York Times. “Guillermo keukeuh banget kalau dia ingin makhluk ini punya bokong yang seksi banget,” (Hill buka kartu soal pesan sutradara itu dalam wawancara dengan Wired bahwa Guillermo membawa pulang foto bagian belakang tubuh sang monster supaya dapat saran tambahan dari teman dan keluarga terdekatnya.)

Iklan

Tim pembuat monster dalam The Shape of Water akhirnya menyuguhkan monster yang seksi sekaligus menyeraman. Memang, monster tersebut—dalam film dipanggil dengan nama “The Asset”—memiliki sirip, insting binatang dan penis yang tak umum bentuknya (malah, di dalam film, ada bagian menjelaskan cara kerjanya), tetap saja The Asset punya sisi yang begitu menawan. Bayangkan, tim yang merancang The Asset menghabiskan beberapa bilang hanya untuk mengulik wajah sang monster. Tujuannya biar hasil akhir imbang antara wajah manusia dan muka ikan. Hasilnya, The Asset punya hidung paripurna, jarak antar mata yang ideal dan letak insan yang kelihatan sangat alami.

Semua ini tentu saja disengaja—ini baru sebatas dugaan—agar penonton paham bahwa monster ini punya daya tarik yang sudah ditampik. Meski demikian, Guillermo mewanti-wanti penonton agar tidak menggolongkan kedekatan—atau adegan syur dalam film itu—dalam kategori tindakan “senggama dengan hewan yang blak-blakan,” katanya pada Wired. The Asset dirancang sedemikian rupa agar fakta bawha Elisa (diperankan oleh Sally Hawkins), janitor yang bekerja di fasilitas tempat the Asset ditempatkan, bisa jatuh cinta padanya. Sejatinya, penampakkan the Asset adalah alasan kesekian yang bikin Elisa luluh. Keberadaannya saja sudah bikin simpati. The Asset adalah tahanan dari sebuah sistem yang tak peduli-peduli amat akan kecerdasan serta segala potensinya. Selama film bergulir, perlahan-lahan kita bakal ditunjukkan bahwa the Asset bisa berkomunikasi, menyayangi serta mencintai makhluk lainnya.

Iklan

Tetap saja, hal ini luput dari pemahaman para penonton. Seorang penulis review film yang dimuat di Gamespot mencak-mencak bahwa rasanya agak berlebihan bila seorang perempuan bisa kepincut hati oleh seekor monster ikan setengah manusia; “meminta penonton percaya akan adanya dongeng adalah satu hal, mengajak penonton percaya barang sejenak bahwa seorang perempuan waras bisa jatuh cinta pada makhluk yang tak bisa di darat adalah hal lain—apalagi mengingat ada pria lain di kota yang sama.” Dalam review lain yang dimuat di Baltimore Magazine, seorang kritikus mengulang pendapat serupa dan menyebut The Shape of Water sebagai film bergenre “interspecies porn.”

Padahal, sejatinya mengetengahkan monster sebagai makhluk seksi dalam sebuah film bukanlah sebuah terobosan sama sekali. Monster supernatural pada dasarnya menjadi obyek erotis manusia sejak dulu kala. Buktinya bisa dengan mudah kita nukil dari beragam dongeng atau cerita rakyat dari seluruh penjuru dunia. Misalnya, lidérc, monster asal Hungaria yang diyakini bisa menyedot darah dan daya hidup seseorang lewat hubungan badan; ada juga succubus dan Incubus, muncul dalam mimpi merayu lawan jenisnya; ada lagi siren yang memancing pelaut ke karang pantai lewat lagu-lagu mereka yang melenakan sampai menemui ajalnya. Serta encantado, lumba-lumba Brazil yang beralih bentuk jadi manusia agar bisa bersetubuh dengan manusia. Serta tentu saja, Dracula, vampir legendaris yang mengincar perempuan perawan dan mengubah mereka menjadi maniak pengincar darah manusia.

Iklan

“Guillermo keukeuh kalau dia pengin makhluk ini punya bokong yang seksi banget.”

Dongeng tersebut biasana berfungsi sebagai pengilon, kalau bukan sebuah demonisasi, dengan menempatkan gairah seksual monster sebagai ancaman keselamatan manusia. Dalam setiap dongeng tersebut, kena rayuan monster-monster itu adalah cara cepat untuk mati dengan naas, jadi tahanan di dunia lain atau paling banter mengandung keturunan sang monster. Namun, sumber kegelisahan terbesar dalam dongeng-dongeng ini bukanlah bahwa manusia bakal jatuh dalam perangkap bujuk rayu sang monster. Sebaliknya, kita, manusia, justru mencari monster-monster tersebut, jatuh hati pada mereka atau paling parah, kita mengidentifikasi diri kita dengan monster-monster penggoda itu.

“Monster-monster tradisional yang kita kenal sejatinya adalah buah cipataan manusia. Mereka adalah kita sendiri—terutama, aspek-aspek gelap dari kita yang selalu kita sanggah keberadaannya dan karenanya harus kita hancurkan,” ujar argue John G. Nachbar dan Kevin Lausé esai pengantar buku Walter E berjudul Monster Movies: A Sexual Theory. “Monster-monster mewakili kekhawatiran seksual dan membantu kita menanamkan kebutuhan untuk mengakomodasi dan mengontrol dorongan seksual tersebut.”

Dorongan-dorongan tersebut, menurut argumen Evans dalam Monster Movies: A Sexual Theory, harus dikontrol dengan cara yang penuh kekerasan—itulah kenapa Drakula mati setelah hatinya ditusuk degan pasak, Frankenstein dibakar hidup-hidup sementara King Kong dijatuhkan dari gedung pencakar langit setelah semua monster ini berusaha menjadi hubungan—baik secara seksual atau tidak—dengan manusia. Cerita tentang monster-monster tradisional kerap diakhiri perkawinan antara manusia. Jauh dari “bungkus-bungkus klise murahan,” ujarnya. Penyatuan dua insan manusia ini dianggap nilai yang ideologis. “Misalnya, hanya perkawinan yang bisa menyelamatkan Henry Frankenstein dari nafsunya terus bereksperimen dengan tubih manusia; hanya pernikahan pula yang menyelamatkan Mina Harker dari rayuan Dracula. Dengan demikian, seksualitas dijinakan dan dikuduskan melalui pernikahan.”

Iklan

Bela Lugosi sebagai Dracula. Foto via Wikimedia Commons

Masalahnya, tak berhenti di situ. Kita masih dihadapkan dengan kecenderungan manusia mengidentifikasikan dirinya dengan para monster. Dalam Frankenstein, Mary Shelley menciptakan salah satu monster paling simpatik dan romantis dalam sejarah kesusastraan. Di awal novel, Frankenstein cuma monster biasa. Tubuhnya disusun dari potongan mayat dan bentuk akhirnya, kita tahu, tak sedap dipandang mata. Meski demikian, Frankenstein digambarkan sebagai sosok yang sensitif dan punya rasa penasaran yang tinggi. Frankenstein punya semangat berlebih untuk memahami manusia. Malangnya, ketakutan manusia akan dirinya yang mengubahnya menjadi monster sejati. “Aku tak pernah menginjakkan dalam sebuah rumah tanpa membuat anak-anak di dalamnya berteriak ketakuan dan salah satu perempuan pingsan,” ujar sang monster saat menjelaskan eksistensinya yang amat tragis itu. Cara manusia memperlakukan dirinya pada akhirnya membuat dia berkeras hati. “Aku tak bisa menumbuhkan cinta, biar aku sulut ketakutan saja,” tegasnya.

Frankenstein hanyalah monster simpatik pertama di dunia sastra. Monster dari film Creature from the Black Lagoon juga mendambakan hubungan dengan manusia seperti Frankenstein. Constantien Verevis, seorang profesor kajian film dan televisi di Monash University, Melbourne, menulis soal film ini keluaran 1954 itu, mengutip pernyataan penulis skenario film. “Gagasan besarnya adalah memberi sang monster sisi-sisi manusiawi—monster ini cuma ingin mencintai seorang cewek tapi dia malah dikejar-kejar banyak orang.”

Iklan

Jadi jelas, sisi-sisi manusia dalam monster ini adalah daya tarik utama film ini. Aspek yang sama pula yang bikin monster itu begitu abadi dalam kenangan pengggila film. Dalam film The Seven Year Itch, yang dirilis selang setahun dari Creature from the Black Lagoon, karakter yang diperankan Marilyn Monroe meniggalkan bioskop sambil memberikan komentar bernada simpatik pada sang monster. “Tampangnya memang nyeremin, tapi dia enggak jahat-jahat amat. Menurutku, dia cuma haus perhatian. Maksudnya, dia ingin dicintai, dibutuhkan dan diinginkan oleh orang lain.” (spoiler: sesimpatik apapun monster itu dibuat, film Creature from the Black Lagoon berakhir dengan dirinya tenggalam dalam kubur berair sementara tokoh perempuan utama film itu diselamatkan tiga orang pria.)

Poster promosi untuk film 'The Creature from the Black Lagoon.' Arsip via Wikipedia

The Asset bisa dimaknai sebagai oplosan dari monster dalam Frankenstein dan Creature from the Black Lagoon—sesosok makhluk yang menjijikan namun merindukan jadi manusia. “Dulu waktu kecil, tiap kali Frankenstein atau Creature or Dr. Jekyll and Mr. Hyde, saya selalu menyukai monsternya. Jadi, saya terus pengin nonton film-film itu,” jelas del Toro pada Variety. “Andai kita bikin film normal biasa, pada adegan ketika sang monster merangkul sang gadis, jagoannya sudah pasti….pria kulit putih ganteng berdagu kotak yang bakal menyelamatkan gadis itu. Di film ini, kita melihat pria itu dari sudut pandang yang menempatkannya sebagai penjahat. Bagi saya, sebuah cerita jadi lebih menarik kalau sudut pandangya diubah.”

Kendati The Shape of Water bukan yang pertama kali memanusiakan sekaligus menjadikan monster sebagai obyek seksual, di sisi lain film ini terhitung lumayan radikal: The Shape of Water menyuguhkan sebuah cerita di mana seorang perempuan jatuh cinta pada seorang monster dan monsternya tetap jadi monster. Tak ada perkawinan yang menyelamatkan si tokoh perempuah—bahkan bagian ketika film ini dibuat untuk memastikan Elisa dan The Asset bisa hidup bersama. Kawan Elisa, Zelda (diperankan oleh Octavia Spencer) tak pernah mempermasalahkan hubungan lintas spesies ini. Zelda malah dengan woles mengulik kehidupan seksual keduanya. Tetangga Elisa, Giles (Richard Jenkins) awalnya lumayan skeptis, menjauhi keduanya sebelumnya akhirnya luluh setelah melihat betapa tulis cinta Elisa pada The Asset.

Monster punya tempat spesial media: mereka menjadi cermin kegamangan budaya dan psikoseksual kita, mereka jadi lahan yang relatif aman yang bisa digunakan untuk menyelami ketakutan-ketakutan kita tanpa harus melakukan identifikasi. Seseksi dan semanusiawi apapun, monster galibnya tak boleh hidup selamanya dengan seorang gadis. The Shape of Water mendobrak kebiasaan ini: hubungan antara Elisa dan The Asset berjalan dengan baik. Malah, itu adalah satu-satunya hubungan yang berjalan mulus dalam film itu. Zelda, misalnya, terjebak dalam pernikahan yang hambar. Giles, yang kebetulan gay, masih belum berani melela. Penjahat—kalau kita bisa menyebutnya demikian—Richard Strickland (Michael Shannon) digambarkan sering melakoni hubungan seks penuh kekerasan yang tidak memuaskan dengan istrinya.

Hanya dengan membuka diri terhadap aspek monster dalam dirinya, Elisa, karakter yang dirancang mewakili bagian gelap dalam diri manusia, membuka sebuah kemungkinan baru: sebuah kemungkinan yang berada di luar segala macam represi yang dihadapi semua karakter lain dalam The Shape of Water. Karakter The Asset dan Elisa yang agak mirip “monster”—seperti ketidakmampuan mereka berkomunikasi dengan manusia lain—justru makin membumikan keduanya. “Mukjizat sejati dari manusia amfibi ini terletak pada bagaimana Elisa memandangnya,” ujar del Toro saat diwawancarai media. “Matanya bergetar penuh emosi. Semua karakter yang bisa bicara dalam film ini punya masalah komunikasi. Namun, dua karakter nonverbal tadi justru mampu berkomunikasi tanpa masalah.”