Pandemi Corona

Data Menunjukkan Pemimpin Perempuan Lebih Efektif Tangani Pandemi Corona

Penelitian anyar ini menyorot kebijakan penanganan Covid-19 di 194 negara, hasilnya komunikasi publik dan keputusan yang diambil presiden/PM perempuan lebih oke dibanding lelaki.
Simon Childs
London, GB
24.8.20
women leaders covid
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern [kiri]; Kanselir Jerman Angela Merkel [kanan]. Semua foto via Getty Images

Negara yang dipimpin perempuan di posisi perdana menteri atau presiden mencatatkan separuh kematian akibat Covid-19 dibanding angka rata-rata negara yang pemimpinnya lelaki. Data itu disimpulkan dari penelitian tim dari University of Liverpool, Inggris.

Dua pemimpin yang mendapat pujian akibat kebijakan sigap selama masa pandemi adalah Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Dua negara itu berhasil meredam angka penularan maupun angka kematian pasien Covid-19 berkat penangan teknokratik, serta keberhasilan mengajak warga taat pada social distancing.

Bukan cuma dua perempuan itu yang sukses. Dari analisis data statistik 194 negara, semua bangsa yang dipimpin perempuan mencatatkan capaian lebih oke selama momen pandemi.

Iklan

Profesor Supriya Garikipati, dari University of Liverpool, menyatakan benang merah yang mereka temukan lewat penelitian ini adalah kemampuan pemimpin perempuan yang condong mengedepankan perlindungan warga dibanding penanganan ekonomi. “Para pemimpin perempuan, ambil contoh, mengambil keputusan lockdown jauh lebih cepat dibanding perdana menteri dan presiden lelaki di tiga bulan pertama penularan Covid-19,” ujarnya kepada VICE.

Dari 194 negara yang diteliti, hanya 19 yang dipimpin perempuan. Untuk membandingkan data secara lebih akurat, tim peneliti University of Liverpool membuat peta “tetangga terdekat” merangkum data statistik penularan Covid-19. Data itu digabung dengan angka terbaru Produk Domestik Bruto (PDB), total populasi, rerata usia warga, anggaran kesehatan, serta keterbukaan imigrasi tiap-tiap negara.

Hasilnya, kebijakan PM Sheikh Hasina di Bangladesh dibandingkan dengan Pakistan, atau Ana Brnabić di Serbia efektivitas kebijakannya selama lockdown dikomparasikan dengan Israel. Asumsinya, negara yang masuk kategori “tetangga” itu (kendati secara jarak geografis jauh), dianggap kemampuan pemerintahannya setara.

Dengan perbandingan macam itu, Garikipati mengaku timnya memperoleh informasi lebih menyuluruh mengenai performa para pemimpin perempuan. “Meski secara ekonomi dan populasi sama, para pemimpin perempuan berhasil mencatatkan angka penularan dan kematian akibat virus corona lebih sedikit dengan negara yang profilnya mirip,” tandasnya.

Salah satu faktor lain yang membuat pemimpin perempuan lebih unggul mengelola sektor penangana kesehatan masyarakat selama pandemi, menurut riset ini, karena komunikasi publik yang lebih efisien dibanding pemimpin lelaki. Ada nuansa bila pemimpin perempuan tidak ragu mengorbankan ekonomi sementara, agar warga terhindar dari penyakit menular yang mematikan.

“Desain komunikasi publik pemimpin perempuan yang kami teliti lebih penuh empati dan jelas dalam mengarahkan masyarakat mengutamakan kesehatan,” imbuh Garikipati.


Follow penulis artikel ini di akun medsos @SimonChilds13

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK