Dunia Kerja

Bursa Kerja Makin Keras, Lulusan Kampus Top Tiongkok Mau Kerja Jadi ART Orang Kaya

Postingan soal alumni kampus elit menawarkan diri jadi pembantu memicu debat soal ketimpangan sosial. Bila infonya akurat, ART di rumah orang tajir Tiongkok bisa dibayar Rp78 juta/bulan.
4.6.21
Postingan Viral Lulusan Kampus Top Tiongkok Mau Kerja Jadi ART di Rumah Orang Kaya
Foto wisuda mahasiswa dari kampus elit di Tiongkok. Foto oleh stringer / via AFP 

Sebuah iklan penawaran jasa asisten rumah tangga (ART) di Tiongkok memicu perdebatan pengguna medsos negara tersebut. Sebab, sang pelamar memiliki resume mentereng, sebagai lulusan salah satu kampus paling elit di Negeri Tirai Bambu.

Iklan yang screenshot-nya beredar di Weibo, medsos serupa Twitter bagi Tiongkok, terkait perempuan 29 tahun lulusan Tsinghua University. Kampus itu adalah perguruan tinggi spesialis teknik, yang mutunya sering dibandingkan dengan the Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat.

Iklan

Sesuai data survei alumni 2020, lazimnya lulusan Tsinghua bekerja sebagai insinyur di perusahaan IT, tambang, bankir, atau menjadi CEO perusahaan-perusahaan top. Namun, si alumnus menawarkan jasanya di platform pencarian ART bagi kelas menengah atas Tiongkok.

Dalam iklan tersebut, si perempuan mengaku sudah berpengalaman kerja sebagai pembantu untuk berbagai urusan rumah tangga sejak 2016. Lokasi kerja sebelumnya adalah beberapa penghuni perumahan elit Kota Shanghai. Dia mengaku lancar berbahasa Inggris, bisa menjadi tutor les bagi anak pemberi kerja, dan karenanya meminta bayaran 35 ribu Yuan (setara Rp78 juta) per bulan.

Postingan itu viral, karena banyak netizen merasa si perempuan menyia-nyiakan bakatnya. Kompetisi masuk perguruan tinggi elit amat ketat di Tiongkok. Ada dua kampus yang menjadi idaman jutaan pelajar Cina saban tahun, dan yang bisa lulus tes hanya ratusan. Dua universitas itu adalah Tsinghua University dan Peking University. Pekerjaan sebagai babysitter atau ART dianggap tidak layak diambil lulusan kampus ternama sekelas Tsinghua.

Postingan yang viral sejak akhir Mei 2021 itu segera berkembang menjadi debat soal ketimpangan sosial yang makin melebar di Tiongkok. Beberapa netizen membela keputusan si alumnus Tsinghua jadi ART, sebab kompetisi di dunia kerja makin ketat. Menurut data situs pencarian kerja Zhaopin (yang mirip Jobstreet), rerata gaji alumnus fresh graduate S1 kampus-kampus top Tiongkok sebesar 17.820 Yuan per bulan (setara Rp39 juta). Artinya, bila ada yang bersedia menyewa jasa si perempuan yang viral, bayaran Rp78 juta untuk posisi ART masih kompetitif.

“Kalian yang nyinyir emangnya bisa membayar dia lebih besar dari gaji yang didapat sebagai ART?” tulis salah satu netizen di Weibo.

Iklan

Netizen lain menyorot bahwa di bursa ART untuk kalangan menengah ke atas, memang sedang muncul kebutuhan pembantu yang cakap merawat balita. Terutama dengan mengajarkan bahasa Inggris sejak dini.

“Apa sih bedanya kerja di perusahaan kapitalis mentereng dengan kerja sebagai pembantu di rumah keluarga kapitalis,” tulis pengguna Weibo lain.

Realitasnya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang amat drastis selama tiga dekade terakhir menumbuhkan kelas sosial baru, yakni kemunculan keluarga-keluarga super tajir. Sebagaimana lazimnya sistem pasar bebas, tidak semua orang bisa menikmati efek dari pertumbuhan tersebut. Banyak pekerja muda di perusahaan-perusahaan top Tiongkok yang merasa karirnya macet. Ijazah kampus ternama tidak otomatis membuat seseorang bisa mendapat pekerjaan yang mentereng, sebab sebagian perusahaan lebih memilih menyewa jasa ekspatriat, atau membayar lebih murah orang di posisi manajerial. Alhasil, ambisi lulusan kampus elit Tiongkok untuk menjadi orang kaya baru tidak semudah generasi orang tua mereka sekian tahun lalu.

Saat dikonfirmasi surat kabar Southern Metropolis, agen penyalur ART di situs Xiaohongshu mengakui kebutuhan pembantu yang bisa melayani keluarga super-elit makin banyak di kota-kota besar Tiongkok. Perusahaan tersebut bahkan sengaja mencari lulusan kampus top untuk menjadi ART. Sebab, tugas ART di rumah tangga elit bukan sekadar bersih-bersih rumah atau mencuci baju. ART kaum elit diharapkan bisa merawat perabot mahal, menjadi tutor, hingga menjadi EO dadakan untuk pesta-pesta privat.

Meski demikian, kandidat yang ternyata lulusan kampus sekelas Tsinghua memang sangat jarang. Tapi, jika ditelusuri, lulusan kampus lain yang tak kalah mentereng sudah banyak diunggah di situs-situs pencarian ART Tiongkok. Sebagian bahkan lulusan luar negeri dan biasanya mengklaim lancar berbahasa Inggris.

Ada satu iklan penyedia jasa ART di Tiongkok yang ditemukan VICE, mengklaim sebagai lulusan ilmu gizi dan punya ijazah menjadi terapis pijat anak. Dia bisa memasak kerang dan sirip hiu, berpengalaman sebagai EO, memiliki SIM dan sanggup mengemudikan mobil Rolls-Royce, Mercedes-Benz, atau BMW.

Follow Viola Zhou di Twitter.